Makam Batoro Katong Ponorogo

0 24

Makam Batoro Katong Ponorogo

Masyarakat Bumi Reyog tentunya sudah tidak asing lagi dengan cagar budaya Makam Batoro Katong. Makam yang terletak di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo ini mudah diakses karena berada di kawasan perkotaan. Sebelum mencapai makam, pengunjung diharuskan parkir kendaraan sejauh 200 meter di halaman rumah warga. Lalu, begitu tiba di kawasan cagar budaya ini, wisatawan disambut gapura putih bertuliskan, ‘Makam Batoro Katong’.

Seusai berjalan melewati gapura mendekati makam, terdapat Masjid Batoro Katong sekaligus makam umum bagi warga Desa Setono. Saat berkunjung, para wisatawan diharapkan menjaga sopan santun dan etika saat berada di makam. Tepat berada di dalam area makam, pengunjung tidak bisa leluasa masuk ke dalam, karena terdapat pintu gerbang lagi yang menghubungkan antara makam dengan area masjid.

Di area tersebut, terdapat dua papan. Papan pertama berada tepat di sebelah pintu masuk gerbang berisi tentang Undang-undang Cagar Budaya, dan papan kedua berada di sebelah kiri pintu masuk gerbang berisi tentang larangan saat berada di kawasan makam seperti merusak, mengubah fungsi dan bentuk cagar budaya, mencuri, memperjual belikan cagar budaya, dan seterusnya.

Juru kunci makam, Mbah Mukim, menjelaskan, setiap hari libur biasanya ada wisatawan yang datang mengunjungi Makam Batoro Katong. Hal ini pun dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk berjualan berbagai macam oleh-oleh dan souvenir khas Ponorogo.

Menurutnya, setiap kali ada even besar di Ponorogo, seperti Grebeg Suro, Makam Batoro Katong juga dijadikan tempat awal saat kirab pusaka. Makam ini menjadi salah satu cagar budaya di Ponorogo, karena bangunannya yang masih asli dan sejarah Batoro Katong yang merupakan penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Karenanya pula, pada hari-hari tertentu, makam ini dipenuhi para peziarah. Tak ha¬nya peziarah dari Ponorogo, namun juga peziarah dari luar kota dan daerah.

“Makam dibuka saat tertentu saja, misal saat ada yang mau ziarah atau hajatan besar Ponorogo. Selain itu, ditutup, karena untuk menjaga situs cagar budaya,” jelas Mbah Mukim.

Sementara itu dalam riwayatnya, Batoro Katong disebutkan memiliki nama asli Lembu Kanigoro. Tidak lain Batoro Katong adalah salah seorang putra Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V dari selir Putri Campa yang beragama Islam. Setelah dewasa, Batoro Katong bertarung dengan Ki Ageng Kutu, karena tidak bisa menerima kehadirannya yang mengemban misi menyebarkan agama Islam. Mereka pun kemudian bertarung.

Pertarungan itu berlangsung lama hingga berhari-hari, karena keduanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Lama berselang, Batoro Katong menemukan sumber kekalahan Ki Ageng Ku¬tu dengan pusakanya sendiri, yaitu Tombak Korowelang. Batoro Katong kemudian mencari cara untuk mendapatkan pusaka tersebut dengan meminang salah-satu putri Ki Ageng Kutu, Niken Gandini.

Dari tangan Niken Gandini, Batoro Katong mampu mengalahkan Ki Ageng Kutu. Sehingga, tidak ada lagi yang menghalanginya dalam menyebarkan agama Islam di Bumi Reog. Tahun 1496, Batoro Katong kemudian dinobatkan sebagai Adipati Ponorogo, yang sebelumnya Ponorogo dikenal sebagai Wengker. Karena itu, hingga kini saat ada perayaan yang berkaitan dengan umat muslim, Makam Batoro Katong ramai dikunjungi peziarah.

Keunikan tersendiri saat memasuki Makam Batoro Katong adalah adanya tujuh gapura pintu masuk yang melambangkan lapisan langit sebagaimana yang dipaparkan dalam kisah Isra’ Mi’raj. Tiap gapura antara satu dengan lainnya berjarak sekitar 200 meter. Selain itu, jika ingin berziarah, bunga tabur yang dibawa tidak boleh terdapat pandan wangi sedikit pun, karena Batoro Katong tidak menyukainya.

Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/12/wisata-spiritual-di-situs-cagar-budaya-makam-batoro-katong-ponorogo.html
Comments
Loading...