Lonceng Batavia 1774, berdiri kokoh selama dua abad lebih

0 41

Lonceng Batavia 1774, berdiri kokoh selama dua abad lebih

Sebenarnya sebutan “Lonceng Batavia 1774” adalah istilah yang dibuat CH saja berdasarkan tulisan yang tertera pada badan lonceng. Lonceng logam (mungkin besi) ini berukuran besar, yang digantung pada dua buah tiang beton. Letaknya berada di sisi timur dari gebang kantor bupati Cianjur, tepat di belakang pos penjagaan Satpol PP.

Lonceng ini berada di dalam pagar utara kompleks kantor bupati Cianjur. Berdiri dengan kokoh selama ratusan tahun. Kalau dilihat dari seberang jalan Siti Jenab, lonceng ini dapat diamati dengan jelas. Lebih tepatnya berada di seberang sisi selatan alun-alun di jalan Siti Jenab. Jl. Siti Jenab adalah salah satu jalur utama perlintasan umum untuk menuju ke pasar induk Cianjur. Pada era pemerintahan Daendels jalan Siti Jenab (mungkin dulu bukan ini namanya) adalah salah satu ruas jalan utama perlintasan pos, atau yang lebih dikenal sebagai jalur pos Anyer-Panarukan.

Ukuran diameter lonceng ini sekitar 70 cm pada bagian mulutnya dan 40 cm pada bagian pangkalnya. Tinggi badan lonceng sekitar 60 cm dan dicat berwarna emas. Lonceng digantung pada pelat baja di sepasang tiang beton setinggi  4 meter. Masing-masing tiang ini berukuran 50×50 cm yang kondisinya masih kokoh sampai sekarang. Kedua tiang ini bersatu di bagian atas yang berbentuk datar. Sedangkan bagian dalamnya berbentuk lekukan atau kurva yang meruncing dan bertemu di bagian puncaknya.

Di bagian atas badan lonceng terdapat tulisan timbul yang melingkarinya berbahasa Belanda “• I • COCETEM • IN • T • AMBAC…..OUARTIT • TOT  • BATAVIA • 1774 “. Sayang sebagian hurufnya tidak dapat dibaca dengan jelas karena telah aus. Mungkin karena karat atau tertimpa beberapa kali lapisan cat besi. Tulisan ini diapit dua garis timbul di atas dan di bawahnya, juga dihiasi dengan ornamen motif tumbuhan. Mungkin daun atau bunga.

CH belum dapat menelusuri keterangan yang jelas mengenai kapan dan bagaimana proses pemerolehan lonceng ini. Tentu diperlukan penelusuran lebih dalam dari berbagai dokumen pada masa kolonial Belanda untuk mengungkapnya. Kalau sobat CH punya info tambahan, sangat CH tunggu untuk melengkapi wawasan sejarah di Cianjur ini. Yang jelas, lonceng ini adalah salah satu bukti hubungan kerjasama yang erat antara pemerintahan Cianjur dengan pemerintah Belanda pada masa lalu.

Lonceng seperti ini tampaknya tidak hanya terdapat di Cianjur saja. Karena penasaran, CH mencoba berselancar di internet untuk mencari info tentang lonceng-lonceng bersejarah di Indonesia. Ternyata, di beberapa daerah di Indonesia juga memiliki lonceng yang terletak di dalam kompleks kantor pemerintahannya. Misalnya saja di kompleks Keraton Cirebon, yang pada masa lalu loncengnya digunakan sebagai penanda waktu sholat. Lalu ada juga di kompleks kantor bupati Kulonprogo dan Kantor Gubernur Jawa Timur. Di Kebun Raya Bogor juga terdapat satu buah lonceng peninggalan Belanda. Lonceng-lonceng itu didapatkan dari masa pemerintahan kolonial sekitar abad ke-17 dan 18.

Saat ini lonceng Batavia 1774 masih dipelihara dengan baik oleh pemkab Cianjur. Hal ini terlihat dari penggantian cat secara berkala baik pada tiang beton penyangga yang berwarna putih, maupun pada warna lonceng itu sendiri yang selalu diberi warna emas. Selain itu, lonceng ini sampai sekarang masih digunakan sebagai tanda dimulai dan berakhirnya waktu kerja di kompleks kantor pemerintah kota Cianjur.

Buat sobat CH yang masih penasaran tentang wujud asli lonceng ini, silahkan mampir sejenak bila melewati Jl. Siti Jenab, sebelum Pasar Induk Cianjur. Gratis kok. Sama sekali tidak dipungut biaya. Cukup meminta izin ke petugas Satpol PP yang selalu siap menjaga di gerbang utama kantor pemkab Cianjur ini.

Source http://cianjur-heritage.blogspot.com http://cianjur-heritage.blogspot.com/2014/05/lonceng-batavia-1774-berdiri-kokoh.html
Comments
Loading...