situsbudaya.id

Lokomotif Uap Saksi Diloge Sumatera Barat

0 38

Lokasi Lokomotif Uap Saksi Diloge

Lokomotif Uap Saksi Diloge yang terletak di jorong Silokek, Nagari Durian Gadang, Kabupaten Sumatera Barat. 

Lokomotif Uap Saksi Diloge

Den Loge wa’ang  (Ku tipu kau) sebuah kalimat yang mempunyai makna sejarah. Banyak masyarakat yang mulai tidak mengetahui makna kata diloge. Pada tahun 90 an masih sering kita dengar kata  awak kanai loge (kamu kena tipu).  Kata loge ini imbas dari banyak orang tua kita ditipu oleh Belanda dan Jepang pada masa sebelum kemerdekaan. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang banyak masyarakat dikerahkan untuk membangun jaringan rel kereta api dari Muaro Sijunjung ke Teluk Kuantan Provinsi  Riau. Biaya pendistribusian batubara Sawahlunto lebih murah dan aman lewat  Sungai Kuantan (Batang Kuantan) dibandingkan ke Teluk Bayur berdasarkan analisis ekonomi Belanda dan Jepang.

Pada saat yang sama semangat masyarakat  untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan membuat biaya pendistribusian tambah tinggi dan perlu mencari alternatif pendistribusian batubara kearah pantai timur. Pemerintahan kolonial memberikan janji muluk kepada masyarakat Jawa yang ingin bekerja di Sumatera Barat.  Kenyataan yang mereka terima adalah sebagai buruh pekerja pembuatan jariangan rel kereta api dengan kehidupan yang layak dan pada masa penjajahan Jepang disebut romusha. Melihat kondisi ini muncul sebuah anekdot atau semboyan kenai loge (kena tipu).

Kata loge atau Logas tidak lepas dari sejarah perkereta-apian di Sijunjung. Banyak peninggalan sejarah dan arkeologi kita temui di Kabupaten Sijunjung dan provinsi Riau. Salah satu tinggalan tersebut adalah  Lokomotif Uap di Silokek, Durian Gadang Kabupaten Sijunjung. Sejarah Lokomotif Uap berkaitan dengan sejarah pembuatan Jalan Kereta Api dari Muaro ke Logas pada tahun 1943, yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Pulau Jawa (pekerja Romusha).

lokomotif  ini direncanakan untuk pengangkutan batubara dari Ombilin Sawahlunto ke Logas dan terus ke luar negeri atau kedaerah lain pada tahun 1942 sampai tahun 1945 pada saat kedudukan Jepang di Sumatera Barat. Masyarakat pribumi disuruh bekerja membangun rel kereta api dari arah Timur ke Barat Sumatera. Pembangunan rel kereta api tersebut banyak memakan korban bukan hanya harta benda, tetapi juga nyawa karena mereka yang disuruh bekerja paksa hingga meninggal dunia.

Awal November 1942 rombongan militer sipil pemerintahan Jepang sampai di Singapura dan melanjutkan perjalanan ke Sumatera Barat. Rombongan tersebut diperintahkan untuk membangun jalur kereta api Trans Sumatera, saat itu belum ada jalur kereta api yang menghubungkan daerah barat dengan timur Pulau Sumatera.  Kondisi alam memang berat karena sepanjang jalur rel kereta api yang akan dibuat tersebut banyak terdapat gunung, dan bukit barisan mulai dari Utara hingga Selatan. Dengan kondisi alam seperti itu jalur kereta api dari Padang hanya sampai Muaro Sijunjung.

Sementara kebutuhan Jepang untuk mencukupi pasokan bahan batubara dipasaran cukup tinggi, satu-satunya jalur yang dapat ditempuh melalui lalulintas laut di Selatan Sumatera memutar hingga Aceh. Jalur tersebut apabila dilalui tidak kondusif dan memakan waktu lama. Dalam keadaan perang, jalur laut tersebut tidaklah aman, maka Jepang memutuskan untuk membuka jalur kereta api dari Muaro hingga Pekanbaru yang melintasi Logas, Kota Baru, Taratak Buluah hingga Provinsi Riau. Walaupun harus membuka hutan belantara.

Zaman Hindia Belanda pernah merencanakan pembangunan rel kereta api ini, sebagai bagian dari jalur sebelumnya yang telah dibangun. Jalur kereta api yang sudah dikerjakan Belanda antara Padang, Padang Panjang, Solok, Sawahlunto hingga Muaro Sijunjung. Jalur ini memjadi akses penting bagi pengiriman batubara dari Sawahlunto/Sijunjung, namun belum sempat jalur selanjutnya dikerjakan, Jepang masuk dan menguasai Indonesia termasuk Negara lainnya di Asia Timur Raya. Untuk pembangunan rel kereta api tersebut Jepang mempekerjakan ribuan orang pribumi yang sebagian besar tawan perang. Mereka dipaksa bekerja tanpa ada rasa kemanusiaan  dan dikenal dengan sebutan Romusa (pekerja paksa).

Lokomotif Uap tersebut mempunyai panjang 8,73 m, lebar 2,35 m, dan tinggi 2,94 m. ditemukan oleh masyarakat Silukah pada tahun 1980 saat pembuatan jalan darat dari Silokek ke Durian Gadang dan terus ke Tapus. Lokomotif Uap ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang penting artinya sebagai bukti keberadaan masa kependudukan Jepang di Indonesia khususnya di daerah Sawahlunto/Sijunjung. Lokomotif Uap ini terkait dengan pembuatan jalan kereta api dari Muaro ke Logas pada tahun 1943, yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Pulau Jawa (Romusa). Lokomotif ini direncanakan untuk penganggkutan batubara dari Ombilin Sawahlunto ke Logas dan terus ke daerah Riau.

Lokomotif Uap tersebut mempunyai panjang 8,73 m, lebar 2,35 m, dan tinggi 2,94 m. ditemukan oleh masyarakat Silukah pada tahun 1980 saat pembuatan jalan darat dari Silokek ke Durian Gadang dan terus ke Tapus. Lokomotif Uap ini merupakan salah satu peninggalan sejarah yang penting artinya sebagai bukti keberadaan masa kependudukan Jepang di Indonesia khususnya di daerah Sawahlunto/Sijunjung. Lokomotif Uap ini terkait dengan pembuatan jalan kereta api dari Muaro ke Logas pada tahun 1943, yang sebagian besar pekerjanya berasal dari Pulau Jawa (Romusa). Lokomotif ini direncanakan untuk penganggkutan batubara dari Ombilin Sawahlunto ke Logas dan terus ke daerah Riau.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/lokomotif-uap-saksi-diloge/
Comments
Loading...