Leang Petta Kere Sulawesi Selatan

0 80

Leang Petta Kere

Leang Petta Kere berada ± 300 m sebelah timur Leang Pattae pada posisi geografis 04O 58’ 43,2” LS dan 119O 40’ 34,2” BT dengan ketinggian 45 m di atas permukaan laut (dpl). Sesungguhnya gua ini terletak di tengah tebing dengan ketinggian dari permukaan tanah di bawahnya berkisar ± 10 m. Walaupun letak gua ini berada di tebing bukit tetapi pada bagian pintunya masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar kurang lebih 1 sampai 2 meter yang berfungsi sebagai pelataran gua.

Distribusi lahan di bawah gua mulai dari sisi tebing ke arah depan merupakan lahan datar berbentuk lembah yang di atasnya tertanam batu-batu gamping insitu. Bagian tengah lembah ini mengalir sungai Leang Leang yang jaraknya dari gua hanya berkisar ± 100 m. Lahan yang terdistribusikan di depan gua dapat dikatakan sebagai daerah terbuka mengingat di atasnya hampir tidak ditemukan tanaman dan pohon-pohon besar.

Leang Petta Kere termasuk kategori gua kekar tiang yang ditandai dengan banyaknya rongga-rongga gua dan langit-langitnya yang tinggi. Pintu gua menghadap ke arah barat dengan ukuran tinggi 8 m dan lebar ± 4 m. Suhu udara di dalam gua rata-rata berkisar 27 derajat Celsius dengan kelembaban rata-rata 65 %, sedangkan kelembaban rata-rata dinding gua berkisar antara 17-22 %.

Situs Leang Petta Kere telah diteliti oleh Heekern (1972), Batalipu (1978). Akumulasi data arkeologi yang ditemukan terdiri atas lukisan dinding gua berupa gambar babi rusa dan gambar cap telapak tangan yang kesemuanya menggunakan zat berwarna merah. Alat-alat batu mikrolit termasuk mata panah yang sisinya bergerigi juga ditemukan di situs ini tetapi tidak berada di dalam rongga dan pelataran gua, justru menyebar di bagian lahan di bawah pelataran gua.

Pada bagian lahan dimana alat-alat batu ditemukan tersebar pula sisa-sisa makanan berupa kulit kerang yang sudah terdeposit. Temuan lain yang tidak kalah menariknya dari situs ini adalah perolehan tengkorak tanpa kerangka ketika Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar pada tahun 1978 melaksanakan penggalian tanah untuk membuat pondasi tangga besi menuju pintu gua.

Di samping mengembangannya sebagai taman prasejarah dengan menata lingkungan situsnya, kebijakan perlakuan pelestarian di gua ini juga dilakukan treatment dan merekonstruksi bagian-bagian lukisan yang sudah rusak. Sedangkan keterawatan situs cukup baik dengan adanya distribusi juru pemelihara yang ditempat di sini.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/pendataan-3d-kawasan-goa-goa-maros-sulawesi-selatan-dengan-aplikasi-3d-laser-scanner/
Comments
Loading...