Langgar Agung Pangeran Diponegoro Magelang

0 259

Lokasi Langgar Agung Pangeran Diponegoro

Langgar Agung Pangeran Diponegoro terletak di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro

Hingga sekarang masjid tersebut masih kokoh berdiri dan masih digunakan untuk tempat ibadah umat Muslim warga lereng Menoreh. Terletak di kaki bukit perbukitan Menoreh, Masjid Langgar Agung Pahlawan Nasional Pangeran (PNP) Diponegoro masih kokoh berdiri.

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI).

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI). Langgar Agung PNP Diponegoro ini kini berada di dalam lingkungan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pangeran Diponegoro Salaman dan Pondok Pesantren Nurul Falah Salaman.

Dari tempat petilasan ini oleh penduduk sekitar dibangunlah langgar atau mushola pada tahun 1950. Atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo, pada paruh kedua tahun 1960-an dimulai pembuatan pondasi masjid dan bagian mihrab-nya berada di atas tatanan batu yang didirikan oleh pasukan Pangeran Diponegoro itu. Bangunan pun diperluas menjadi delapan-kali-delapan belas meter dan rancangannya ditangani oleh seorang arsitek keturunan Belanda beragama Islam.

Pembangunan masjid selesai dan diresmikan pada tanggal 8 Januari 1972 oleh gubernur Jawa Tengah, Mayjen Munadi, bersama sama dengan Gubernur AKABRI Mayjen Sarwo Edi Wibowo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Magelang Drs. Ahmad, serta tokoh mayarakat Manoreh, Muhammad Kholil. Bertindak sebagai Juru Pelihara pertama Langgar ini adalah H. Fathoni dan A. Nurshodiq.

Arsitektur masjid pun dominan bergaya Belanda karena memang dibangun oleh Arsitek keturunan Belanda, bahkan sepintas lalu masjid ini pun lebih mirip dengan bangunan gereja. Bangunannya dilengkapi dengan enam kubah, terdiri dari satu kubah utama berukuran paling besar di atap ruang utama masjid dikelilingi oleh empat kubah berukuran lebih kecil masing masing ditempatkan di atas menara pendek.

Satu kubah lagi ditempatkan di ujung bangunan menara yang dibangun diatas menjulang diatas bagian serambi. Gaya yang cukup unik untuk sebuah mushola, denah bangunan seperti ini memang lebih mirip denah sebuah Gereja.

Source https://singgahkemasjid.blogspot.co.id/2017/05/langgar-agung-pangeran-diponegoro.html https://singgahkemasjid.blogspot.co.id/2017/05/langgar-agung-pangeran-diponegoro.html
Comments
Loading...