Kompleks Pillbox Jepang Sintuak Pariaman

0 55

Kompleks Pillbox Jepang Sintuak

Sebagai negara fasis-militerisme di Asia, Jepang sangat kuat, sehingga meresahkan kaum pergerakan nasional di Indonesia. Dengan pecahnya Perang Dunia II, Jepang terjun dalam kancah peperangan itu. Di samping itu, terdapat dugaan bahwa suatu saat akan terjadi peperangan di Lautan Pasifik. Hal ini didasarkan pada suatu analisis politik. Adapun sikap pergerakan politik bangsa Indonesia dengan tegas menentang dan menolak bahwa fasisme sedang mengancam dari arah utara. Sikap ini dinyatakan dengan jelas oleh Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pada tanggal 8 Desember 1941 pecah perang di Lautan Pasifik yang melibatkan Jepang. Melihat keadaan yang semakin gawat di Asia, maka penjajah Belanda harus dapat menentukan sikap dalam menghadapi bahaya kuning dari Jepang.

Sikap tersebut dipertegas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jhr. Mr. A.W.L. Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer dengan mengumumkan perang melawan Jepang. Hindia Belanda termasuk ke dalam Front ABCD (Amerika Serikat, Brittania/Inggris, Cina, Dutch/Belanda) dengan Jenderal Wavel (dari Inggris) sebagai Panglima Tertinggi yang berkedudukan di Bandung. Angkatan perang Jepang begitu kuat, sehingga Hindia Belanda yang merupakan benteng kebanggaan Inggris di Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau Tahun 2018 daerah Asia Tenggara akhirnya jatuh ke tangan pasukan Jepang.

Peperangan yang dilakukan oleh Jepang di Asia Tenggara dan di Lautan Fasifik ini diberi nama Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik. Dalam waktu yang sangat singkat, Jepang telah dapat menguasai daerah Asia Tenggara seperti Indochina, Muangthai, Birma (Myanmar), Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Jatuhnya Singapura ke tangan Jepang pada tanggal 15 Pebruari 1941, yaitu dengan ditenggelamkannya kapal induk Inggris yang bernama Prince of Wales dan HMS Repulse, sangat mengguncangkan pertahanan Sekutu di Asia. Begitu pula satu persatu komandan Sekutu meninggalkan Indonesia, sampai terdesaknya Belanda dan jatuhnya Indonesia ke tangan pasukan Jepang. Namun sisa-sisa pasukan sekutu di bawah pimpinan Karel Doorman (Belanda) dapat mengadakan perlawanan dengan pertempuran di Laut Jawa, walaupun pada akhirnya dapat ditundukkan oleh Jepang. Secara kronologis serangan-serangan pasukan Jepang di Indonesia adalah sebagai berikut: diawali dengan menduduki Tarakan (10 Januari 1942), kemudian Minahasa, Sulawesi, Balikpapan, dan Ambon.

Kemudian pada bulan Februari 1942 pasukan Jepang menduduki Pontianak, Makasar, Banjarmasin, Palembang, dan Bali. Maret 1942, Pasukan Jepang dapat menguasai Padang. Namun ketika mulai menguasai Sumatera, Balatentara Yang pertama kali dilakukan balatentara Jepang sesaat menduduki Sumatera khususnya Padang dan Bukittinggi adalah membangun benteng dan tempat-tempat persembunyian di bawah tanah, seperti lobang Jepang di Bukittinggi dan Benteng Pillbox di Padang. Nampaknya Jepang sudah tahu bahwa mereka hanya sementara memukul pasukan Sekutu dan KNIL. Terbukti tak lama kemudian Sekutu dan KNIL kembali menyerang daerah kekuasaan yang diduduki Jepang. Dengan telah dikuasainya Sumatera oleh Tentara Jepang, maka pulau Sumatera berada di bawah kekuasaan Angkatan Darat ke-25 dengan markas besar di Bukittinggi.

Pillbox Jepang Sintuk I terletak di tepi jalan raya sintuk/simpang 3. Kondisi Pillbox saat ini sebagian besar terpendam di dalam tanah, hanya sepertiga bagiannya yang masih terlihat dipermukaan tanah. Walaupun demikian masih dapat diamati beberapa elemen pada Pillbox tersebut berupa lubang intai yang terletak di timur laut dan tenggara, pintu masuk terletak di sisi barat laut. Bentuk penampang atas dari bungker ini berbentuk segi lima, dua buah sisi yang saling tegak lurus memiliki panjang yang sama, sedangkan tiga buah Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau Tahun 2018 sisi lainnya memiliki ukuran yang lebih pendek (bentuknya seperti berlian).

Bahan dari Pillbox ini terbuat dari campuran kerikil dengan pasir dan semen. Pillbox Jepang Sintuk II berada di halaman rumah milik masyarakat, Pillbox ini dapat diamati hingga bagian pondasi dari Pillbox tersebut karena pada sebagian sisi tanahnya telah digali oleh masyarakat sehingga terlihat hingga ke bagian pondasinya. Bentuk dasarnya sama dengan Pillbox Jepang Sintuk I yaitu persegi lima seperti berlian. Bukaan berupa pintu dan lubang intai; pintu masuk terletak di sisi utara, lubang intai terletak di sisi selatan dan timur. Bahan terbuat dari campuran semen pasir dan kerikil. Pada Pillbox ini dapat diamati bagian dalamnya karena pintu masuk tidak terpendam seperti yang terdapat di Pillbox Jepang Sintuk I, bagian dalam terbagi menjadi dua ruang yang dipisahkan oleh dinding pembatas.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Pariaman.pdf
Comments
Loading...