Kompleks Makam Ki Ageng Gribig Malang

0 40

Kompleks Makam Ki Ageng Gribig

Kompleks Makam Ki Ageng Gribig berada di Jalan Ki Ageng Gribig Gang II Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Mungkin kompleks makam ini adalah makam para bupati yang terbesar dan terindah di kawasan Jawa Timur. Di dalam kompleks makam tersebut terdapat makam-makam para Bupati Malang yang memerintah pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Di samping, itu terdapat pula makam bekas Bupati Surabaya, Bupati Bondowoso, dan keluarga Bupati Probolinggo. Selain itu, terdapat pula makam Ki Ageng Gribig yang konon adik Sunan Giri dan cikal bakal Kota Malang.

Memasuki kompleks makam Gribig yang nyaman dan terkesan asri. Jalan setapak di dalam makam dibuat dari beton yang kiri kanannya ditumbuhi pohon-pohon hias yang terawat rapi. Ada tiga bangunan besar dan beberapa bangunan kecil di makam itu. Bangunan terbesar yang terletak di bagian tengah adalah makam bupati pertama Malang yaitu R.A.A. Notodiningrat bersama 17 makam para kerabat dekat dan 8 kerabat jauh yang berada di terasnya.

Bangunan kedua yang agak kecil adalah makam bupati kedua Malang yaitu R.A.A. Notodiningrat II dengan 26 makam kerabat dekat dan 6 kerabat jauh. Di teras bangunan besar itu ada makam Mas Ajoe Aminah, istri dari Raden Toemenggoeng Ario Soerjoningrat, Bupati Probolinggo. Sedangkan bangunan besar ketiga yang terletak di bagian paling belakang adalah makam Ki Ageng Gribig bersama istrinya.

Makam bupati ketiga Malang tidak berada dalam bangunan besar yang tertutup, tetapi dibuatkan bangunan kecil terbuka dan ditutup dengan kelambu. Tertulis jelas di batu nisan dari marmer: R. Toemenggoeng Ario Notodingrat wafat 8 Juli 1898. Makam ini walaupun berada di luar bangunan gedung tetap terawat rapi.

Nisan dan payungnya ditutup dengan kain berwarna kuning tua. Di seberang makam bupati ketiga Malang, terdapat makam Bupati Bondowoso, RTA Notodiningrat yang wafat pada tengah malam 13 Oktober 1934. Sedangkan jauh di depan, di dekat jalan masuk terdapat makam Bupati Surabaya, R. Soekarso yang menjabat pada 1958-1968. Tertulis jelas di batu nisan terlahir pada 11 Desember 1908 dan wafat 7 Desember 1986.

Konon, menurut penuturan juru kunci makam Ki Ageng Gribig, awalnya ketika RAA Notodiningrat menjadi Bupati Malang, mencoba mencari siapa sebenarnya cikal bakal atau orang yang membabat hutan belantara hingga menjadi Kota Malang. Sang Bupati akhirnya menemukan makam Ki Ageng Gribig yang kemudian diyakini sebagai cikal bakal Malang. Dari keyakinan itulah lalu makam Ki Ageng Gribig dibangun dan dipelihara. Selanjutnya, komplek makam itupun digunakan oleh bupati pertama Malang sebagai makam keluarga dan berlangsung secara turun temurun.

Namun, siapa Ki Ageng Gribig sebenarnya kurang begitu jelas. Ada yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Gribig adalah adik kandung Sunan Giri, salah seorang Wali Songo yang dimakamkan di Gresik. Konon, adik Sunan Giri ini sangat suka berkelana ke tempat-tempat jauh untuk menimba ilmu dan memperkuat iman. Pada suatu saat, sampailah Ki Ageng Gribig di sebuah tempat yang berhutan lebat. Karena merasa cocok dengan tempat tersebut, maka Ki Ageng Gribig membabatnya dan menjadikan tempat itu sebagai pemukiman. Sejak itulah tempat tersebut dihuni orang dan disebut dengan nama Malang. Ki Ageng sendiri mendapat nama Gribig karena berasal dari daerah Giri.

Konon, nama Malang yang diberikan oleh Ki Ageng Gribig adalah dari kenyataan adanya Gunung Buring dan deretan pegunungan yang melintang di kiri kanannya. Pegunungan yang berderet memanjang di sebelah tenggara jika diperhatikan memang malang atau melintang di jalan. Dari situlah kemudian nama Malang digunakan untuk menyebut daerah tersebut.

Sedangkan menurut Babad Malang, beliau adalah putra dari Pangeran Kedawung yang juga salah seorang keturunan Lembu Niroto, pemilik Panembahan Bromo. Lembu Niroto sendiri adalah putra ketiga dari Raja Brawijaya XI. Ki Ageng Gribig dikenal sebagai seorang ulama yang tersohor di Malang pada tahun 1600, yang merupakan salah satu murid kesayangan Sunan Kalijaga.

Untuk masuk ke dalam komplek makam Ki Ageng Gribig terlebih dahulu harus menemui juru kunci yang saat ini yaitu Bapak Mustakim. Kompleks makam ini tidak pernah sepi dari pengunjung, terutama pada malam Jumat dan hari-hari besar. Di samping makam Ki Ageng Gribig terdapat sebuah bangunan mushola Kyai Ageng Gribig. Konon menurut juru kunci di mushola tersebutlah Ki Ageng Gribig berdakwah. Tak jauh dari makam juga terdapat Masjid Ki Ageng Gribig yang memiliki desain bangunan yang indah dan megah.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3496/kompleks-makam-ki-ageng-gribig/
Comments
Loading...