Kompleks Gedung Perumahan TuaKaaten

0 59

Kompleks Gedung Perumahan TuaKaaten

Dalam dekade 1920-an, pemerintah kolonial di Keresidenan Manado ingin memindahkan pusat pemerintahan sipilnya dari Manado ke Tondano. Kota Manado akan berfungsi sebagai kota pelabuhan dan kota garnizun militer. Menurut informasi, rencana itu dilatarbelakangi oleh keadaan alam Danau Tondano dan sekitarnya, termasuk Kota Tondano yang mudah ditata menurut keadaan di Negeri Belanda. Iklim Tondano yang sejuk juga merupakan pertimbangan penting, sama pentingnya dengan peran areal persawahan Danau Tondano sebagai lumbung beras waktu itu (Tim, 2012 : 159).

Rumah-rumah tersebut awalnya dipergunakan sebagai rumah tinggal pejabat Belanda, hal ini dapat dilihat dari tulisan yang tertera pada bagian gevel bangunan, antara lain Huiz Makasar, Wale Kulawi, dan Wale Paloe. Tulisan yang terdapat pada bagian gevel menandakan wilayah kekuasaan penghuni rumah.Rumah-rumah tua berarsitektur Indis terletak di pinggir jalan raya Tomohon-Tondano, tepatnya di Matani III Kelurahan Kaaten.

Bangunan rumah berarsitektur Indis tersebut saat ini ada yang dimanfaatkan sebagai rumah tinggal, dan ada yang dimanfaatkan sebagi gedung pusat penterjemahan Injil GMIM. Arsitektur Indis merupakan perpaduan antara arsitektur lokal dengan arsitektur Eropa (Belanda). Penggunaan arsitektur lokal, bertujuan untuk menyesuaikan dengan kondisi alam dan klim daerah setempat. Pada awalnya gaya hidup Indis berkembang di Jawa, merupakan perpaduan antara budaya Belanda dengan budaya pribumi Jawa.

Kebudayaan Indis kemudian berkembang di daerah lain di Indonesia, dengan perpaduan antara kebudayaan Barat dan kebudayaan daerah asli Indonesia. Pada kebudayaan Indis, kebudayaan Belanda lebih dominan dibanding kebudayaan lokal, hal ini dikarenakan pihak Belanda merupakan penguasa sehingga lebih berperan dalam kebudayaan Indis (Soekiman, 2011:19).

Source https://docplayer.info https://docplayer.info/49275616-Peninggalan-arkeologi-kolonial-di-kota-tomohon.html
Comments
Loading...