Klenteng In Hok King Rokan Hilir

0 7

Klenteng In Hok King

Keberadaan bangunan ini tidak terlepas dari awal mula masuk dan berkembangnya komunitas warga Tionghoa di Bagan Siapiapi. Kedatangan oarang Tionghoa ke Bagan Siapi-api bermula dari tuntutan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik. Berdasarkan keterangan masyarakat kedatangan bangsa Tionghoa ini diawali oleh sekelompok orang Tionghoa dari Provinsi Fujian Cina merantau menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal kayu sederhana. Dalam kebimbangan kehilangan arah, mereka berdoa kepada dewa Kie Ong Ya yang saat itu ada di atas kapal tersebut agar kiranya dapat diberikan penuntun arah menuju daratan. Tak lama kemudian, pada keheningan malam tiba-tiba mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar. Mereka berpikiran bahwa didaerah tersebut terdapat daratan.

Setelah mengikuti arah cahaya tersebut mereka kemudian menemukan daratan Selat Melaka. Dari 3 buah kapal yang berlayar dari dataran Cina tersebut hanya 1 yang berhasil sampai ke tujuan, dan di atas kapal tersebut terdapat dewa Kie Ong Ya. Mereka yang berhasil mendarat tersebut berjumlah 18 orang yang terdiri dari: Ang Nie Kie, Ang Nie Hiok, Ang Se Pun, Ang Se Teng, Ang Se Hia, Ang Se Puan, Ang Se Tiau, Ang Se Po, Ang Se Nie Tjai, Ang Se Nie Tjua, Ang Un Guan, Ang Cie Tjua, Ang Bung Ping, Ang Un Siong, Ang Se In, Ang Se Jian, Ang Tjie Tui. Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur warga Tionghoa di Bagan Siapi-api. Akibat semakin berkembangnya warga Tionghoa di daerah Bagan Siapiapi, maka dibangunlah sebuah klenteng pada tahun 1875 oleh Suku Ang. Pada tahun 1928 klenteng In Ho King ini kemudian dibuat secara permanent. Di klenteng inilah Dewa Kie Ong Ya disembahyangkan secara utuh/asli sampai dengan sekarang. Selain untuk tempat beribadah, klenteng ini juga digunakan sebagai tempat ritual prosesi pembakaran tongkang yang diadakan sekali setahun oleh warga Tionghoa di Bagan Siapiapi.

Klenteng In Hok Kiong merupakan kelenteng tertua, juga menjadi pusat keagamaan umat Kong Hu Cu, sekaligus pusat kebudayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi. Bangunan klenteng In Hok Kiong terletak dipersimpangan antara jalan klenteng dengan jalan aman dengan orientasi arah utara. Secara umum bangunan berbentuk empat persegi dengan ukuran 25 m x 15 m. Cat bangunan didominasi oleh warna merah. Secara keseluruhan bangunan dan pagar terbuat dari tembok. Atap terbuat dari genteng dengan cat warna kuning. Pada bagian sudut-sudut atap terdapat hiasan naga. Pada bagian depan klenteng (luar pagar) terdapat dua buah tungku pembakaran kertas persembahan (sisi timur dan barat).

Bangunan terbagi atas 3 ruangan: (1).bangunan depan. Pada bangunan ini terdapat 6 buah tiang yang terbuat dari beton dan satu buah meja altar. (2). Ruangan dalam. Pada ruangan ini terdapat 2 buah tiang dan 3 buah bilik. Bilik sebelah utara merupakan tempat dewa Twi Seng Ong. Di depan patung dewa ini diletakan meja altar yang lengkap dengan alat untuk berdoa. Pada dinding ketiga bilik ini dihiasi ukiran dengan motif flora dengan warna hijau. Pada bangunan utara ditempatkan 3 buah dewa yaitu: Dewa Taisong San Tiong Song, Kuan Sen Tekun, dan Singong Keng Au. (3). Bangunan belakang (sisi selatan). Disebut vihara dan ditempatkan 3 buah dewa yaitu: Dewa Tut Si Nyung Nyung, Kwan In, Titian Sion Sen Bu.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Rokan-Hilir-BPCB.pdf
Comments
Loading...