Klenteng Cu An Kiong

0 142

Klenteng Cu An Kiong

Kelenteng Cu An Kiong (“Istana Ketentraman Welas Asih”) merupakan kelenteng tertua di Kota Lasem dan bahkan konon merupakan kelenteng tertua di Pulau Jawa. Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum. Selain itu, kelenteng ini juga memiliki altar untuk Raden Panji Margono yang menjadi salah satu pahlawan pada Perang Kuning. Konon, ketiga pahlawan Lasem menyusun strategi peperangan melawan Belanda di kelenteng ini. Pada salah satu pintu kelenteng, pada kedua buah daun pintunya digambarkan dua tokoh Tionghoa-Lasem yang mengajarkan batik pada penduduk, yaitu Bi Nang Un dan istrinya, Na Li Ni.

Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di daerah hutan Jati di sekitar Sungai Babagan Lasem pada abad ke-15. Menurut tradisi, kelenteng Cu An Kiong dibangun orang-orang Tionghoa menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Tiang penyangga utama kelenteng ini merupakan dua buah kayu jati yang belum pernah diganti hingga sekarang. Pemukiman di sekitar kelenteng selanjutnya semakin bertambah ramai dan menjadi Kota Lasem sekarang ini.

Orang-orang Tionghoa yang datang pada masa itu umumnya bukan orang terpelajar dan sebagian besar buta huruf sehingga sangat sedikit catatan mengenai pembangunan kelenteng ini. Setelah perekonomian membaik, kelenteng dipugar dengan mendatangkan para ahli ukir dari Guangdong. Para ahli ukir tersebut akhirnya menetap di Kabupaten Kudus dan mengajar penduduk setempat. Salah satu ahli ukir terkenal, yaitu Tiang Sun Khing, diabadikan menjadi nama Desa Sunggingan. Sementara itu, Tee Ling Sing lebih dikenal dengan nama Kyai Telingsing.

Pada masa penjajahan Belanda, kelenteng ini pernah dijarah sehingga banyak catatan sejarah yang hilang. Menurut pengurus kelenteng yang mengunjungi museum di Den Haag, Belanda, terdapat catatan yang menyebutkan bahwa kelenteng ini dibangun pada tahun 1477 Masehi karena lokasi kelenteng ini sudah tecantum pada peta Lasem yang dibuat pada tahun itu. Namun, terdapat pula pendapat yang menyebutkan bahwa kelenteng ini dibangun pada tahun 1335.

Bangunan kelenteng terakhir kali direnovasi pada tahun 1838 untuk meninggikan lantai bangunan yang sering mengalami banjir karena lokasinya tepat berada di depan sungai Lasem. Menurut tradisi, Laksamana Zheng He pernah mendarat di depan kelenteng. Sungai Babagan bermuara di Laut Jawa sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai sarana lalu lintas kapal dengan dermaga yang kini sudah tidak tersisa keberadaannya.

Source https://id.wikipedia.org https://id.wikipedia.org/wiki/Cu_An_Kiong
Comments
Loading...