Keraton Gunung Kawi Malang

0 25

Keraton Gunung Kawi

Keraton Gunung Kawi secara administratif terletak di Dusun Gendogo, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Lokasinya terletak tepat di kaki Gunung Kawi dan di tengah-tengah kesejukan hutan pinus Perhutani. Secara pengelolaan hutan terletak di petak 175e, RPH Gendogo, BKPH Kepanjen, KPH Malang dengan luas baku 1,3 ha. Berada di ketinggian 1.115 mdpl dengan suhu 22–24˚ C dengan topografi landai dan curah hujan rata-rata 1.300 mm/tahun.

Jaraknya dari Kota Malang sekitar 32 km. Untuk mencapai Gunung Kawi dari Kota Malang bisa melalui dua jalur yaitu melewati Wagir atau Sukun. Biasanya pengunjung melewati Wagir karena jarak tempuhnya yang lebih pendek. Panorama di sepanjang jalan menuju Gunung Kawi lebih indah tetapi di beberapa bagian jalanannya agak rusak berlubang-lubang.

Kawasan Gunung Kawi terkenal sebagai tujuan wisata spiritual di Jawa timur. Setiap tahunnya ribuan wisatawan datang ke tempat ini untuk melakukan ziarah. Dari Pasarean Eyang Jugo, Kraton Gunung Kawi masih sekitar 3 km lagi dengan naik lagi ke arah yang lebih tinggi. Diperlukan waktu setengah jam lagi dari Pasarean Eyang Jugo. Kraton Gunung Kawi terletak di tengah hutan pinus yang segar. Kraton Gunung Kawi merupakan tempat wisata religius yang di dalamnya terdapat tiga lokasi yaitu Vihara Dewi Kwan Im, Sanggar Pamujaan dan tempat pamuksaan Prabu Kameswara I. Konon, menurut sebagian orang komplek Keraton Gunung Kawi ini justru lebih manjur untuk ngalap berkah.

Pembangunan dan pengelolaan Kraton Gunung Kawi diorganisir oleh juru kunci setempat, dengan sumbangan dari pengunjung. Pengunjung Kraton Gunung Kawi rata-rata berasal dari sekitar Kota Malang dan bahkan ada juga yang berasal dari Jawa Tengah. Masyarakat sekitar berkunjung ke Kraton Gunung Kawi untuk melakukan ritual tiap malam Jum’at. Kraton ini ramai dikunjungi terutama dari etnis Tionghoa yang datang berkunjung ke Vihara Dewi Kwan Im. Kelenteng itu letaknya berdampingan dengan pura berada di kawasan hutan yang asri. Kunjungan masyarakat dan wisatawan ke Kraton Gunung Kawi mencapai puncaknya pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam tangga 1 Suro. Terdapat beberapa fasilitas yang bisa didapatkan di sekitar area ini adalah listrik, kamar mandi, area parkir, areal outbond, jalur extreme untuk motocross, dan warung makan.

Situs Kraton Gunung Kawi ini menurut salah seorang juru peliharanya, sudah ada sejak tahun 861 Saka dan tercantum dalam sebuah prasasti di Puncak Batutulis, Gunung Kawi. Saat itu rajanya yaitu pu Sindok, seorang keturunan dinasti Sailendra yang hijrah ke Jawa Timur. Kini petilasan peninggalan pu Sindok ini menjadi tempat pemujaan (pura) dan bernama Sanggar Pamujaan Kraton Gunung Kawi.

Pertapaan tersebut dibangun dengan menanam lima pohon beringin Jawa dan menempatkan batu gunung besar di tengahnya. Konon, tempat ini juga merupakan tempat pertapaan Prabu Sri Kameswara dari Kerajaan Kediri pada abad XII. Saat menghadapi kemelut politik kerajaan, Prabu Kameswara bertapa di tempat ini. Setelah bertapa di tempat ini, sang Prabu berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya. Setelah mengundurkan diri dari pemerintahan, akhirnya Kameswara menyepi dan menjadi pertapa di Gunung Kawi ini. Di dalamnya juga terdapat beberapa arca dan lubang untuk melakukan tapa pendem atau bertapa dalam tanah.

Di lokasi ini juga terdapat Pura Agung Gunung Kawi, di dalamnya terdapat sebuah pohon beringin tua yang kelima akarnya menjulang ke atas, dan menyatu pada ketinggian sekitar 1,5 meter, namun kondisi pohon tersebut, saat ini sudah mati dan tumbang, hanya tersisa akarnya yang unik tersebut. Selain itu, di kawasan ini terdapat beberapa bangunan, salah satunya Makam Eyang Jayadi dan Eyang Menik yang selesai dipugar pada Januari 2010.

Konon, keduanya merupakan pengurus dari pertamanan dan perkebunan pada jaman raja Kameswara I. Di bawahnya terdapat makam juru kunci pertama Keraton Gunung Kawi, yaitu Eyang Subroto, Eyang Djoyo, dan Eyang Hamit. Adapun tempat yang dikeramatkan di sekitar kraton adalah rumah padepokan Eyang Sujo, Guci Kuno dan Pohon Dewandaru.

Pada jaman perjuangan, tempat ini juga sering dipergunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri dan menenangkan hati. Konon tempat ini juga pernah dikunjungi tokoh-tokoh kemerdekaan, seperti Bung Karno dan Shodancho Supriyadi. Seiring berkembangnya jaman, masyarakat sering mendatangi tempat ini untuk memanjatkan doa. Setelah masa perang kemerdekaan, Kraton Gunung Kawi berkembang pesat dan sering dikunjungi oleh golongan etnis Tionghoa.

Namun, pada tahun 1965 Kraton Gunung Kawi ditutup dan bangunannya dirusak karena lokasi ini diduga menjadi tempat persembunyian anggota PKI. Pada tahun 1974 lokasi ini dibuka oleh pemerintah. Sampai tahun 1978 bangunan di Kraton Gunung Kawi ini sangat sederhana. Barulah pada 1978-1980 lokasi ini mulai dipugar. Bahkan pada 1993 bangunan kraton mulai dilakukan pembangunan menyeluruh, mulai dari bangunan hingga akses jalan raya. Namun pada tahun 2002 terjadi kebakaran di salah satu bagian Kraton Gunung Kawi sehingga bangunan tersebut rata dengan tanah.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3751/keraton-gunung-kawi/
Comments
Loading...