Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru Jakarta

0 286

Lokasi Kelenteng Sin Tek Bio

Vihara Dharma Jaya, Jl. Pasar Baru Dalam Pasar No 146, Jakarta Pusat 10710.

Kelenteng Sin Tek Bio

Kelenteng Sin Tek Bio atau disebut juga Vihara Dharma Jaya berdiri pada 1698, kemungkinan dibangun oleh para petani Tionghoa yang tinggal di sekitar kebun Cornelis Chastelein (sekarang Lapangan Banteng) untuk menjalankan ibadah dan kebudayaannya. Jika dahulu kelenteng kecil ini berada di tengah hutan perkebunan, maka saat ini posisinya terhimpit di dalam gang kecil di tengah pasar. Gang kecil yang kiri kanannya dipadati dengan barang dagangan, satu-satunya akses menuju Vihara Dharma Jaya dari Pasar Baru dengan latar belakang kedai Bakmi A Boen yang dulunya pintu masuk vihara. Langkah kami pertama kali memasuki altar Kwan Im (Kwan Im Bio) yang terpisah dengan gedung utama di sisi belakang vihara. Beragam patung memenuhi tempat ini, namun ada satu yang cukup menyita perhatian karena tampak berbeda dari patung-patung yang biasanya berada di vihara.

Sebuah patung kayu mengenakan sorban dengan sikap berdoa memangku kitab suci. Di depannya terpampang tulisan Ta Ol Lao Shi (Kyai Zakaria II atau akrab dengan sebutan Eyang Djugo), sedang di sisi kirinya menggantung pigura berisi gambar yang mulai buram dengan tulisan samar-samar terbaca Raden Mas Imam Sudjono. Berakhirnya perang Jawa yang berlangsung selama 5 (lima) tahun pada 1825 – 1830, ditandai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro di kediaman de Kock di Magelang pada 28 Maret 1830. Peristiwa ini, membuat banyak pasukan dan pengikut Diponegoro melarikan diri dari kejaran Belanda ke wilayah timur Pulau Jawa.

Diantaranya adalah mantan Senopati Pangeran Diponegoro, cicit Hamengkubuwono I dari Kraton Nyayogyakarta (1755 – 1792), yang bernama Raden Mas Imam Sudjono atau Eyang Sudjo. Eyang Sudjo mengikuti ayah angkatnya penasehat spiritual Diponegoro, Kyai Zakaria II atau Eyang Djugo cucu Pangeran Diponegoro (cicit Pakubuwono I yang memerintah Kartasura pada 1705 – 1719) dari trah Mataram yang memilih mengasingkan diri ke daerah Gunung Kawi, Jawa Timur. Ketika meninggal, keduanya dimakamkan dalam satu liang dan hingga kini makamnya di Gunung Kawi selalu ramai dikunjungi pesiarah dari etnis Tionghoa untuk memanjatkan doa.

Sebagai guru spiritual, Eyang Djugo mendapat gelar Taw Low She / Ta Ol Lao Shi, artinya guru besar pertama, sedang RM Imam Sudjono diberi gelar Jie Low She atau guru besar kedua. Hal lain yang menarik di Kuan Im Bio adalah genta / lonceng dan bedug yang menggantung di kiri dan kanan atas pintu masuk. Oleh dua wanita yang berjaga di Kuan Im Bio, kami diijinkan melangkah ke dalam bangunan utama Sin Tek Bio melalui pintu belakang. Sebuah patung besar Budha duduk tertawa lebar menyambut langkah kami di bawah tangga menuju lantai dua.

Source Kelenteng Sin Tek Bio Pasar Baru Jakarta Jakarta
Comments
Loading...