Kelenteng Pao Hwa Kong, Bangunan Megah Penuh Sejarah

0 14

Kelenteng Pao Hwa Kong, Bangunan Megah Penuh Sejarah

DI sela-sela pemandangan Kota Tua Ampenan, Mataram, Lombok tampak sebuah bangunan berwarna merah megah. Lampion dengan warna seragam seolah mengejek wajah lesu kota tua Ampenan. Bangunan megah itu adalah Kelenteng Pao Hwa Kong. Ia tak jemu menyajikan pemandangan indah setiap kamu melintasi ruas Jalan Pabean yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dengan kawasan Simpang Lima.
Kelenteng Pao Hwa Kong tak sekedar cantik. Bangunan tua nan megah ini memiliki sejarah panjang yang tak kalah mewahnya.
Kelenteng tak kalah tua dengan bangunan di sekitarnya. Sayang, tak ada catatan sejarah yang menceritakan Kelenteng Pau Hwa Kong. Hanya saja berdasarkan riwayat yang diceritakan secara turun temurun, diperkirakan usianya saat ini sudah mencapai 120 tahun atau dibangun tahun 1898 silam.
“Perkiraan kita, rumah ibadah ini berdiri pada 120 tahun lalu,” kata Ketua Ibadah Kelenteng Pao Hwa Kong, Andika Jayanata seperti dilansir Antara.
Dua tahun sebelumnya, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun Pelabuhan Ampenan. Penelusuran sejarah itu membuktikan kalau Kelenteng Pau Hwa Kong menjadi salah satu saksi awal kedatangan masyarakat Tionghoa ke tanah Lombok.
Di Tanjung, Lombok Barat terdapat makam orang Tionghoa yang diperkirakan sudah ada berusia 130 tahun. Kemungkinan mereka yang tiba di tanah Lombok itu, pertamanya ke Tanjung, namun kemudian bergeser ke Ampenan yang memiliki pelabuhan cukup besar.
Setelah membangun kelenteng di Ampenan, satu persatu masyarakat keturunan Tionghoa datang dan beribadah di tempat yang sama, hingga berdirilah Pecinan yang terletak tidak jauh dari kelenteng tersebut. Tepatnya di kawasan Simpang Lima. Sebenarnya, kelenteng itu dimiliki oleh pribadi dengan patung dewa Tan Fu Chen. Kemudian, banyak orang yang melihat ada tempat sembahyang, maka mereka ikut bersembahyang.
Sampai sekarang, kawasan Simpang Lima dihuni oleh keturunan Tionghoa dengan bangunan khasnya seperti ruang tamu sempit, terdapat altar dan tempat penyimpanan dupa serta foto hitam putih dari orang tua atau leluhurnya yang sudah meninggal dunia.
“Ternyata banyak permohonan yang terkabul. Akhirnya mulailah ramai, kemudian didirikanlah rumah ibadah kecil-kecilan dan bertahan sampai sekarang,” katanya.
Penulis buku Ampenan Kota Tua, Muhammad Shafwan menyebutkan sejak awal perkembangannya, orang-orang Tionghoa di Pulau Lombok, datang melalui Ampenan. Mereka kemudian menyewa tempat tinggal dari orang-orang Arab dan Melayu.
“Tempat tinggal yang disewa tentulah tempat uang strategis untuk menjalankan bisnisnya yang dipinggir-pinggir jalan utama menuju pelabuhan. Awalnya mereka mulai dari berdagang kecil-kecilan,” katanya dalam buku.
Disebutkan, mereka menggelar barang kelontong di tempat tinggal yang sekaligus menjadi tempat berjualan, banyak juga dari warga Tionghoa yang kemudian memilih berjualan keliling dengan memikul dagangannya atau berkeliling menggunakan sepeda ke kampung-kampung.
Kepandaian mereka berdagang, kesabaran melayani pembeli. “Serta keuletan yang tidak kenal kata menyerah membuat komunitas Tionghoa kemudian lebih cepat melesat dalam bidang perdagangan,” katanya.
Di Indonesia, kelenteng yang menggunakan patung dewa Tan Fu Chen hanya sembilan, di antaranya yang di Ampenan tersebut. Empat ada di kelenteng Jawa Timur dan empat kelenteng sisanya di Bali. Setiap bulannya, tanggal 1 dan 15 kalender Imlek, warga keturunan Tionghoa bersembahnyang di tempat itu.
Kelenteng Pao Hwa Kong, merupakan kelenteng Tri Dharma yakni tempat ibadat untuk tiga agama, Konghucu, Tao dan Budha.
Bagi warga keturunan Tionghoa di Ampenan, mereka meyakini Tan Fu Chen itu berkaitan dengan Kelenteng Sam Po Kong, bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He/Cheng Ho di Semarang, Jawa Tengah. Tan Fu Chen anak buah sang laksamana itu.
Kelenteng Pao Hwa Kongmenjadi bukti keberagaman di Lombok terutama di kawasan Kota Tua Ampenan. Sejak ratusan tahun lalu masyarakat keturunan Tionghoa tinggal bersama berbagai etnis lain yang membentuk perkampungan, yakni, Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Banjar, dan Kampung Bugis.
Source https://merahputih.com https://merahputih.com/post/read/kelenteng-pao-hwa-kong-bangunan-megah-penuh-sejarah
Comments
Loading...