Klenteng Eng An Kiong Malang

0 39

Kelenteng Eng An Kiong

Klenteng ini merupakan klenteng Tri Dharma, yaitu dipergunakan sebagai tempat ibadah bagi penganut agama Ji (Khonghucu), Too (Tao), dan Sik (Buddha). Lokasi Klenteng Eng An Kiong sangat strategis di tengah kota, tepatnya berada di Jalan R.E. Martadinata 1 Malang. Untuk mengunjungi klenteng ini sangat mudah karena letaknya berdekatan dengan Pasar Besar, di kawasan Kotalama Malang. Bus antar kota juga melewati jalan tepat di depan Klenteng Eng An Kiong. Bila menggunakan angkutan kota dari Terminal Arjosari bisa naik angkot ABG. Banyak wisatawan domestik maupun asing yang singgah ke klenteng ini. Pada hari Sabtu dan Minggu jumlah wisatawan dan pengunjung lebih banyak lagi karena berbarengan dengan orang-orang yang hendak sembahyang.

Klenteng ini memiliki arsitektur bangunan yang menarik, karena mirip dengan bentuk bangunan klenteng yang ada di Cina. Bangunan klenteng mempunyai banyak ukir-ukiran dan lukisan yang memiliki nilai seni yang tinggi dan makna yang mendalam. Selain itu, seringkali diadakan berbagai macam upacara ritual yang sangat menarik di Klenteng Eng An Kiong ini. Pengunjung bisa mengikuti ataupun menyaksikan keunikan tradisi klenteng dan masyarakat di Tionghoa pada saat upacara ritual tersebut diadakan.

Sebutan suci bagi klenteng ini dikenal dengan nama Eng An Kiong, yang dapat diartikan sebagai Istana Keselamatan dalam Keabadian Tuhan. Klenteng Eng An Kiong ini dipersembahkan untuk menghormati Kongco (yang mulia) Hok Tik Cing Sien (Beroleh Berkah dalam Kebajikan). Sedangkan berdirinya (sejit) klenteng diperingati setiap tanggal 6 bulan 6 penanggalan Lunar (Khongcu–lik). Di klenteng ini juga selalu memperingati hari besar lainnya seperti hari kelahiran, kesempurnaan dan mangkatnya Dewi Kwan Im. Setiap hari Sabtu, klenteng menggelar acara Cia Peng An atau makan gratis.

Klenteng ini memiliki bangunan yang luas dengan didukung halaman yang cukup luas, bila dibandingkan dengan keberadaan sejumlah klenteng lain di sejumlah kota di Indonesia. Sebut saja, Klenteng Boen San Bio di Tangerang dan Klenteng Po An Kiong di Solo. Kedua klenteng tersebut terhimpit bangunan komersial di tengah-tengah lingkungan yang padat dan tidak memiliki halaman sama sekali. Awalnya, klenteng ini hanya tempat ibadah utama saja. Namun, klenteng tersebut terus berkembang hingga saat ini luas bangunan mencapai sekitar 5.000 m². Klenteng ini memiliki 99 rupang atau kiem siem (patung dewa-dewi) di seluruh ruangan. Sekarang juga ada aula untuk kegiatan kesenian.

Di Klenteng Eng An Kiong, di samping adanya altar utama untuk Kongco Hok Tik Cing Sien, juga terdapat 10 ruang lainnya. Dua ruang di belakang Altar Pusat yaitu ruang Kwan Im dan 18 Lou Han terletak di belakang tengah. Di seberang depan ruang Kwan Im terdapat Hwie Dwo Pusak. Ruang Milekhut berada di sebelah kanan ruang Kwan Im. Terdapat 4 ruang di sebelah kanan (kedudukan macan) yaitu ruang Buddha Gautama, Tay Sang Lau Cin, Kwan Kong, dan Tay Swie. Sedangkan di ruang kiri (kedudukan naga) juga terdiri dari 4 ruangan yaitu ruang Kong Hu Cu, Kong Tik Cun Ong, Jay Sen, dan Tie Jang Wang Pusak.

Konon, klenteng ini dibangun pada tahun 1825 (2564 tahun imlek) atas prakarsa dari Liutenant Kwee Sam Hway (Yauw Ting Kong). Ia adalah keturunan ketujuh dari seorang jenderal di masa Dinasti Ming (1368-1644) di Tiongkok. Pada masa akhir Dinasti Ming terjadi kekacauan besar berupa pemberontakan yang mengakhiri dinasti tersebut. Kesempatan itu digunakan Dinasti Qing untuk menguasai sebagian besar wilayah Tiongkok.

Pada 1664 sisa-sisa keturunan Dinasti Ming di Tiongkok selatan dihancurkan Dinasti Qing. Salah seorang jenderal Dinasti Ming itu ada yang melarikan diri ke Nusantara. Kemudian seorang keturunan kelima dari jenderal ini, seorang kapiten, menetap di Jepara dan menikah dengan putri yang leluhurnya mendarat di Sumenep. Kwee Sam Hway adalah cucu dari sang Kapiten tersebut dan lahir pada tahun 1801. Ia akhirnya dari Sumenep merantau sampai ke Malang, dan menjadi seorang Lieutenant (pemimpin masyarakat Tionghoa) di Malang. Ia memiliki dua anak yaitu Kwee Sioe Ing lahir 1830 dan Kwee Khin Nio (Kwee Hing Nio) yang lahir pada 1838.

Pendirian klenteng itu ada yang menyebutkan tahun 1825, ada pula data yang menyebut tahun 1835. Mungkin kisaran waktu itu sebagai masa pembangunan. Lantaran saat itu penduduknya masih bergantung pada pertanian, akhirnya Dewa Bumi (Hok Tik Cing Sien) menempati altar induk Eng An Kiong. Patung itu dibawa dari Tiongkok dengan tandu kayu jati berlapis kertas emas yang masih ada hingga kini. Keenteng kemudian dibuat permanen atas inisiatif Letnan Kwee Sam Hway, untuk menghormati Kongco Hok Tik Cing Sien (Dewa Bumi).

Lt. Kwee Sam Hway menjabat pada tahun 1842-1863. Kwee Sam Hway sendiri wafat pada 1865 dan pengurusan klenteng diserahkan kepada anak lelakinya Letnan Kwee Sioe Ing atau Guo Mao Chuan (1864-1880) kemudian Letnan Kwee Sioe Go (1880-1889). Pengembangan bangunan dengan menambah ruang pertama kali dilakukan tahun 1895–1905, pada masa Letnan Han Sioe An atau Han Shi Tai (1889–1897). Menurut data Khong Kouw Sian (1940), perluasan tempat suci itu dibiayai oleh seorang kontraktor Tionghoa yang mendapat keuntungan dari pembangunan jalan kereta api Malang-Blitar. Ruang belakang dibangun untuk altar Kwan Im, Wie Tho dan Cap Pwee Lo Han. Sedangkan bagian sayap kiri kanan terdapat altar Tee Cong Ong dan Kwan Kong. Di depan klenteng terdapat halaman yang luas digunakan untuk pertunjukan Wayang Potehi. Sekarang biasanya dipakai untuk menggelar wayang kulit setiap memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus.

Kepemimpinan selanjutnya oleh Letnan Kwee Ping Kiem (Guo Jue Cheng), menjabat tahun 1897–1903, Letnan The Boen Kik (Zheng Wen Ji atau Zheng Fu Long), menjabat tahun 1904–1914 dan Letnan Tan Kik Djoen, menjabat tahun 1914–1920. Renovasi selanjutnya terjadi pada 1912 di bawah pimpinan Tok Tjay Sing, berikutnya tahun 1934, 1949, dan 1966.

Kemudian tahun 1966 dibangun Pat Kwa Teng dengan altar Ji Lai Hud dan tahun 1981 renovasi gerbang depan. Pada tahun 1986 dibangun ruang belakang sudut kanan dan pada 1996 dibangun fasilitas Aula Serba Guna dan Sanggar Seni Karawitan dan Tari, juga fasilitas umum Balai Pengobatan serta Lok Ling Hui (wahana untuk para Lansia). Dan yang terakhir, pada tahun 2002 telah dilakukan renovasi kantor dan penggantian keramik secara keseluruhan dan juga penambahan altar Bi Lik Hud.

Kepemimpinan berikutnya dipegang oleh Tjioe Goan Teng, Tok Khek Teng yang menjabat sampai tahun 1943, Liem Sin Tjoen (1943–1958), Hauw Koen Yee (1958–1967), Liem Kok Hoo (1967–1977), Kho Hong Khee (1977–1978), Oey Sie Tjwan (1978–1981), Ong Tjong Bing (1981–1988), dan sejak tahun 1988 dijabat oleh Tan Giok Leng sampai sekarang. Semuanya tercantum dalam prasasti yang terukir di depan kantor Tempat Ibadat Klenteng Eng An Kiong. Benda‐benda peringatan selain prasasti tersebut juga ada ‘Papan Nama’ dan ‘Papan Syair’ yang bertuliskan ‘ Pemujaan’ maupun ‘Pesan Moral’, yang tahun serta nama penyumbang ataupun yang memerintahkan pembuatannya dicantumkan. Papan syair yang paling tua berasal dari tahun 1871.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3717/kelenteng-eng-an-kiong/
Comments
Loading...