Kelenteng Bie Hian Kong

0 45

Kelenteng Bie Hian Kong

Vihara atau Kelenteng yang ada di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari budaya etnis Tionghoa yang sudah ada sejak lama bermukim di bumi Nusantara ini.

Kelenteng Bie Hian Kong yang awalnya bernama Kelenteng Bie Hian Kong merupakan identitas dari warga etnis Tionghoa yang ada di Sukabumi, usianya sudah lebih dari 100 tahun sejak pertama kali dibangun tahun 1912 silam. Dalam vihara ini ada tiga altar utama, yakni altar Kongco Han Tan Kong, Sang Buddha dan Dewi Kwan Im.

Sekretaris Yayasan Kelenteng Bie Hian Kongi Bambang Hariyanto saat ditemui Jia Xiang Hometown, menjelaskan, pada saat masa Orde Baru sebenarnya vihara ini menggunakan nama kelenteng, namun berubah hingga saat ini dengan menggunakan nama vihara. Sebetulnya penggunaan nama kelenteng atau vihara sama saja karena sama-sama mempunyai arti tempat ibadah. Penggunaan nama kelenteng sendiri hanya ada di Indonesia, sejarahnya penyebutan kelenteng dahulunya merupakan hasil tradisi Tionghoa yang mendengar bunyi lonceng dibunyikan dibunyikan saat ibadah umat Tionghoa.

Untuk saat ini vihara ini hanya digunakan untuk para umat Buddha. Untuk pengelolaannya sendiri berada dalam Yayasan Kelenteng Bie Hian Kong Sukabumi yang berada di bawah Majelis Buddhyana Indonesia. “Vihara yang ada saat ini merupakan hasil renovasi yang dilakukan tahun 1986. Untuk saat ini vihara ini hanya digunakan untuk umat Buddha. Di Sukabumi sendiri ada lima tempat yang digunakan umat Buddha untuk beribadah, yakni Kelenteng Bie Hian Kong, Vihara Vimalakirti, Vihara Matreya, Vihara Tri Dharma dan Vihara Dharma Ratna, “ ujarnya.

Bangunan Kelenteng Bie Hian Kong berdiri megah di sudut Jalan Pejagalan, Sukabumi dan berada diantara bangunan pemukiman warga yang ada di sekitar kawasan tersebut. Ornamen berciri khas Tionghoa sangat kental terasa, yang bisa dilihat dari bentuk naga banyak ditemukan baik di atas atapnya, dinding dan setiap tiang yang ada di vihara ini.Bahkan, ornamen naga yang ada di tiang bagian dalam matanya bisa bernyala berwarna merah. Jika dilihat dari luar vihara terdapat stupa Candi Borobudur yang memang mencirikan umat vihara ini penganut Buddha.

Lampion yang berwarna merah menghiasai bagian atas tampak indah saat lampu utama dinyalakan, bagian dindingnya pun terdapat pahatan bentuk para dewa-dewi. Kelenteng Bie Hian Kong bertingkat tiga dengan lantai duanya terdapat aula yang digunakan sebagai tempat ibadah para umat Tri Dharma. Ada pula foto yang menunjukan saat pertama kali vihara ini berdiri. Menurut Buku Peringatan 100 Tahun Kelenteng Bie Hian Kong, arti Widhi Sakti adalah “kesaktian wahid”, sedangkan yang merawat Kongco Han Tan Kong yang ada di vihara ini adalah Ema Thung Tjit Nio. Thung Tjit Nio sejak berumur 15 tahun hingga meninggal dalam usia 98 tahun tekun merawat Kongco.

Ketika meninggal Ema Thung Tjit Nio dimakamkan di Cikundul, Sukabumi dan ketika digali pada tahun 2008 atas kesepakatan keluarga untuk dikremasi ternyata jasadnya serta pakaiannya masih utuh.

Source https://www.jia-xiang.biz https://www.jia-xiang.biz/kelenteng-bie-hian-kong-kini-dikenal-sebagai-vihara-widhi-sakti-3/
Comments
Loading...