Kawasan Lubang Jepang Muara Padang

0 34

Kawasan Lubang Jepang Muara Padang

Lubang Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945 yaitu pada masa pendudukan Jepang di Indonesia dan difungsikani sebagai bangunan pertahanan39. Di Gunung Padang ini setidaknya ada 3 bangunan pertahanan
Jepang yang berupa bangunan bunker.

Lubang Jepang I
Berada tepat dipinggir jalan setapak menuju puncak Gunung Padang dan diantara rumah penduduk. Secara fisik bangunan menghadap arah timur atau arah Batang Arau. Bangunan ini berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran panjang 770 cm, lebar 600 cm dengan tinggi 300 cm yang terbuat dari coran semen dan batu koral dengan ketebalan tembok 100 cm dengan atap datar. Terdapat 1 pintu pada sisi timur dengan ukuran tinggi 180 cm dan lebar pintu 120 cm. Ruang dalam ini berukuran 570 cm dan lebar 400 cm dengan tinggi 200 cm. Kondisi dari bangunan ini masih utuh, namun kurang terawat.

Lubang Jepang II

Berjarah sekitar 20 meter dari Bungker Jepang I ke arah puncak Gunung Padang. Bungker ini juga menghadap arah timur atau Batang Arau. Secara fisik bungker ini terdiri dari 2 bangunan, yaitu bangunan induk pada sisi selatan dan bangunan pendukung pada sisi utara, keduanya saling menyatu. Bangunan induk memiliki bentuk dan ukuran sama dengan Bungker Jepang I, sedangkan bangunan pendukung berbentuk empat persegi panjang berukuran 300 cm dan lebar 250 cm dengan ketebalan tembok 100 cm dan terbuat dari coran semen. Bangunan pendukung ini diperkirakan sebagai dapur untuk 39 Pertahanan Jepang pada Perang Dunia II, kebanyakan terbuat dari coran beton. Jenis bangunannya meliputi bungker, pillbox, goa.

Untuk Kota Padang pertahanan Jepang tersebar terutama di Pinggir Pantai Padang. Untuk kawasan Muara Padang, pertahanan Jepang merupakan sebuah komplek, 3 buah bungker diantaranya berada di kaki Gunung Padang, dan sekitar 6 buah di puncak Gunung Padang. tentara Jepang yang bertugas di Kawasan Gunung Padang khususnya di wilayah kaki Gunung Padang.

Bungker Jepang III
Berada tepat disisi utara Bungker Jepang III berada tepat disisi utara bungker Jepang II. Bungker ini juga mengunakan bahan dari coran semen dengan campuran batu koral. Bangunan ini terdiri dari dua struktur yaitu lorong dan ruangan yang berbentuk lingkaran. Lorong berada pada sisi selatan sekaligus berfungsi sebagai pintuk masuk ke dalam bungker dengan tinggi 185 cm dan lebar 120 cm. Bangunan ini memiliki satu pintu yaitu pada sisi selatan dan jendela pada utara. Sisi selatan atau ujung lorong memiliki ukuran tinggi 180 cm dan lebar 120 cm atau sesuai dengan ukuran lorong dengan panjang 420 cm. Selain itu pada lorong ini terdapat ruangan kecil pada sisi barat lorong dengan ukuran 260 cm x 220 cm dan lubang pengintai (sirkulasi udara) sebanyak dua buah yang mengarah ke timur (batang arau). Ruangan yang berbentuk lingkaran memiliki diameter 700 cm dengan tinggi 220 cm.

Pada sisi barat daya terdapat ruangan kecil berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 250 cm dan lebar 125 cm dan tinggi 180 cm. Pada sisi utara ruangan yang berbentuk lingkaran terdapat pintu yang berfungsi untuk meletakan moncong meriam dengan ukuran panjang jendela 300 cm dan tinggi 185 cm. Secara keseluruhan bangunan ini memiliki tinggi 320 cm dan tebal tembok 100 cm. Pada bungker ini terdapat meriam dengan ukuran panjang 700 cm. Ukuran pangkal meriam 60 cm dan ujung meriam 22 cm. Kaki dari meriam ini berdiameter 70 cm. Meriam ini mengarah ke utara atau Muara Batang Arau. Secara keletakan meriam masih insitu atau belum mengalami perubahan. Berdasarkan peninggalan yang ditemukan pada bungker ini diperkirakan bangunan ini sebagai lokasi tempat pasukan artileri (Pasukan Meriam) tentara Jepang. Jepang II.

Lubang ini juga mengunakan bahan dari coran semen dengan campuran batu koral. Bangunan ini terdiri dari dua struktur yaitu lorong dan ruangan yang berbentuk lingkaran. Lorong berada pada sisi selatan sekaligus berfungsi sebagai pintuk masuk ke dalam bungker dengan tinggi 185 cm dan lebar 120 cm. Bangunan ini memiliki satu pintu yaitu pada sisi selatan dan jendela pada utara. Sisi selatan atau ujung lorong memiliki ukuran tinggi 180 cm dan lebar 120 cm atau sesuai dengan ukuran lorong dengan panjang 420 cm. Selain itu pada lorong ini terdapat ruangan kecil pada sisi barat lorong dengan ukuran 260 cm x 220 cm dan lubang pengintai (sirkulasi udara) sebanyak dua buah yang mengarah ke timur (batang arau).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kota-Padang.pdf
Comments
Loading...