Kantor ANIEM Malang

0 193

Kantor ANIEM

Algemeene Nederlandsch-Indische Electricities Maatschappij (ANIEM). Hingga saat ini, gedung bertower dan balkon ala Belanda itu tak mengalami perubahan. Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Agung H Buana menjelaskan kantor ANIEM dibangun pada tahun 1930. Gaya arsitekturnya Nieuwe Bouwen. Hingga kini warga masih bisa merasakan atmosfir tempoe doeloe areal gedung PLN itu.

Dulunya, kawasan kantor PLN sebagai kawasan pemukiman orang-orang Eropa. Gedung tersebut jadi saksi bisu perjalanan sejarah bisnis listrik di Malang. Sebelum jadi PLN, bangunan itu merupakan kantor N. V. Handlesvennootschap (perusahaan listrik,red) yang sebelumnya bernama Maintz & Co berkedudukan di Amsterdam.

Agung melanjutkan, pada tahun 1909 ANIEM diberi hak untuk mengelola listrik. Sehingga diberikan keleluasaan membangun pembangkit listrik di Jawa. Awalnya kantor ANIEM ini masih kecil. Akan tetapi seiring berjalannya waktu serta bertambahnya tuntutan akan tenaga listrik karena banyak berdirinya bangunan-bangunan dan rumah tinggal orang Belanda, maka gedung ANIEM pun mulai diperbesar.

Perlu diketahui juga, tambah Agung, pada masa kolonial Belanda, sumber listrik yang ada di Malang masih sangat terbatas. Pada saat itu hanya orang-orang Belanda dan Tionghoa yang bisa menggunakan listrik. Sedangkan, orang-orang pribumi sendiri belum menggunakan listrik, mereka hanya menggunakan lentera. Sumber daya listrik PLN diambil dari Sungai Brantas yang dikelola sebagai pembangkit listrik.

Lalu Pada tahun 1942, Belanda menyerah kepada Jepang dan ANIEM diambil alih oleh pihak Jepang. Lalu, diadakannya pergantian nama dari ANIEM menjadi Shobu Denki Sha. Pada tahun 1945 gedung ini dinasionalisasikan atau diakuisisi menjadi milik pemerintah Republik Indonesia. Setelah melalui Penetapan Pemerintah nomor 1 Tahun 1945 pada tanggal 27 Oktober dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas Sumatera, Jawa, dan Madura dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja.

Gedung ini menjadi sasaran bumi hangus dengan tujuan agar tidak digunakan kembali oleh Belanda yang akan kembali ke Indonesia. Pada saat terjadi agresi militer Belanda 1 dan agresi militer Belanda 2 hampir seluruh bangunan yang ada di Malang habis diporak-porandakan.

Kemudian pada tahun 1950-1955, gedung ini pun direnovasi dan kembali seperti bentuk semula. Setelah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Listrik dan/atau Gas milik Belanda yang dikenakan nasionalisasi, N.V. ANIEM diambil oleh pemerintah RI.

Manager Area PLN Malang Joice Lanny Wantania belum mengetahui jika ada ruang bawah tanah dibawah gedung PLN tempatnya bekerja. Namun bisa jadi ruang bawah tanah sudah ambruk atau tertimbun. “Tetapi memang, kantor kami itu menurun sampai ke arah sungai Sungai Brantas di belakang kantor),” ungkapnya. Joice mengakui jika gedung PLN memang menjadi salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda. Pihaknya merasa bangga karena gedung ini akan dijadikan salah satu cagar budaya Kota Malang.

PLN selalu mendukung apapun upaya pemerintah daerah untuk melastarikan budaya dan peninggalan sejarah. Joice menegaskan pihaknya tetap merawat lantai demi lantai dan semua komponen dalam bangunan secara maksimal. “Kita masih jaga lift zaman dulu yang dipakai angkat barang. Ada juga kita simpan dokumen-dokumen peninggalan zaman dulu,” pungkasnya.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/berita/kota-malang/balkon-dan-tower-listrik-tak-berubah
Comments
Loading...