situsbudaya.id

Kampung Tua Botoputih Surabaya

0 21

Kampung tua Botoputih

Kampung tua Botoputih orang Surabaya lebih mengenal Kampung Ningrat,  karena secara historis banyak sejarawan menyebut bahwa keberadaannya sangat bersinggungan dengan sejarah Kerajaan Surabaya. Jika disebut Kampung Ningrat memang layak karena konon sebagai kampung hunian para ningrat Surabaya.

Di kampung inilah, terdapat Pesarean Sentono Botoputih. Sebenarnya pintu gerbang pesarean tersebut persisnya berlokasi di Jalan Pegirian namun lokasi kompleks pesarean berada di Kampung Botoputih Gang II. Yang dimakamkan di pasarean ini antara lain makam Pangeran Lanang Dangiran, di kalangan masyarakat Surabaya dikenal dengan sebutan Kyai Brondong, adalah putra dari Pangeran Kedhawung juga dikenal dengan Sunan Tawangalun Raja Blambangan yang juga bernama Menak Sumandi.

Pangeran Lanang Dangiran bertempat tinggal menetap dengan Kyai Kemdil Wesi dan diberi pelajaran tentang Islam. Pangeran Lanang Dangiran menikah dengan putri Ki Bimotjili dari Panembahan Cirebondan dikenal dengan sebutan Kyai Brondong. Sejak kedatangannya di Dukuh Boto putih sekitar tahun 1595, Kyai  Brondong dikenal sebagai seorang muslim dan berperan dalam penyebaran agama Islam di Surabaya. Wafat pada pada tahun 1638 dalam usia tujuh puluh tahun dan meninggalkan tujuh orang anak, dua orang anak  yaitu Honggo Joyo menjadi tumenggung di Pasuruan dan Honggowongso  menjadi tumenggung di Surabaya (di zaman pemerintah kolonial Belanda). Honggowongso, Kanjeng Tumenggung Surabaya ini juga di makamkan di  Pesarean Sentono Botoputih.

Source https://jawatimuran.wordpress.com/ https://jawatimuran.wordpress.com/2012/01/12/sentono-boto-putih-pesarean-agung/
Comments
Loading...