Kampung Prai Yawang Pesona Tinggalan Megalitik NTT

0 25

Kampung Prai Yawang Pesona Tinggalan Megalitik

Kampung Prai Yawang berada di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur (51 L 0244559 UTM 8900805). Situs Kampung Megalitik Prai Yawang merupakan salah satu situs dengan tradisi megalitik yang masih hidup sampai sekarang. Dimana prinsip dasar dalam kepercayaan megalitik ini bersumber pada kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dan juga bahwa alam beserta isinya mempunyai jiwa dan kekuatan yang dinamakan kepercayaan Marapu.

Dalam tatanan kehidupan masyarakat sumba timur mereka tidaklah mengenal tulisan atau akasara sehingga untuk mengungkap sejarah dari Situs Kampung Megalitik Prai Yawang dan Kampung Kaliuda sangatlah sulit karena tidak adanya sumber tertulis. Namun dari data temuan berupa benda bergerak maupun tidak bergerak yang masih dalam keadaan insitu serta hasil wawancara secara acak pada masyarakat pendukung di Situs Kampung Prai Yawang dan Kampung Kaliuda dan juga beberapa tulisan dari penelitian para peneliti sumba timur diketahui bahwa, Komplek Megalitik Kampung Prai Yawang merupakan Komplek Kampung Tua di sumba timur yang  didirikan oleh Kabihu Ana Mburung.

Setiap kampung  adat pada masa lalu dipimpin oleh seorang kepala suku. Pada masa Kolonialisme Belanda di Indonesia sekitar tahun 1937 semua kampung di sumba diberi otonomi asalkan tetap tunduk dan taat pada aturan-aturan colonial yang ditetapkan oleh pemerintah belanda. Pada masa itu kepala suku atau raja di kampung prai yawang diberikan nama atau gelar Tamu Umbu sebagai sebutan laki-laki dan Tamu Rambu sebagai sebutun perempuan.

Kampung Prai Yawang saat ini membawahi 8 desa yakni : Desa Rindi, Desa Kayuri, Desa Hangga Roro, Desa Lai Lanjung, Desa Kaparu, Desa Heikatapu dan Desa Tanalaung. Keberadaan Kampung Prai Yawang dari cirri-ciri tradisi system penguburan yang dilakukan ditempat tersebut menggunakan material batu-batu besar yang dicari dari bukit kapur yang ada disekitar bukit dekat dengan desa sebagai batu kubur.

Tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka dan dari cirri-ciri tersebut dapat diperkirakan bahwa tradisi ini sudah ada dan mulai dilakukan secara berkelanjutan sejak masa prasejarah zaman batu muda (neolithikum) sedangkan di Kampung Kaliuda sudah terjadi pergesaran tradisi dalam pemakaman karena sebagian besar masyarakat disana telah memeluk agama Kristen Protestan dan hanya tinggal satu keluarga menganut Kepercayaan Marapu.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kampung-prai-yawang-pesona-tinggalan-megalitik/
Comments
Loading...