Kampung HBS, Cikal Bakal Samarinda

0 167

Kampung HBS, Cikal Bakal Samarinda

Jika masyarakat umum mengenal awal Samarinda berasal dari Samarinda Seberang, maka Kampung Handel Maatschappij Borneo Samarinda (HBS) menjadi cikal bakal Samarinda Kota yang saat ini berada di Pasar Pagi.

Pada 14 November 1908, sebuah perusahaan bumi putra didirikan, dengan nama yang kian terkenal dengan sebutan HBS. Perusahaan HBS merupakan perusahaan keluarga.

“Kata handel sendiri dalam bahasa Belanda itu seperti kampung, lalu maatschappij itu artinya perusahaan atau perdagangan. Nah, nama Borneo Samarinda? Ya karena adanya di sini kan?” jelas Isriansyah, salah satu keturunan keluarga kampung HBS dari ayahnya.

Pria 62 tahun yang akrab disapa Iis itu menjelaskan, HBS dikelola keluarga. Satu kampung memiliki ikatan darah. Jikapun ada pendatang yang menetap di HBS, sudah dianggap seperti keluarga.

“Jadi perusahaan ada di tengah, baru di sekeliling itu rumah-rumah keluarga. Ramai waktu itu, jadi perusahaan dagang yang juga jual sembako,” jelas Iis saat ditemui di kantor Yayasan Universitas Tujuh Belas Agustus.

Perusahaan keluarga HBS tersebut berkembang dan mempunyai hubungan dagang dengan Singapura, Belanda, dan Jerman atas hasil-hasil hutan berupa rotan, damar, serta hasil hutan lain. Para pedagang HBS juga giat meyebarkan Islam ke pedalaman Sungai Mahakam, termasuk Tenggarong.

Transportasi sungai padat merayap. Suasana ramai pasar, tawar-menawar, hilir mudik kapal berlabuh atau tambat di batang menjadi rutinitas harian kampung HBS. Kampung yang dulunya terletak di sepanjang Jalan Gajah Mada saat ini.

Sayang, pertengahan 1919 HBS tidak lagi diizinkan ekspor langsung barang-barang perdagangannya. Tetapi, harus diserahkan kepada perusahaan-perusahaan Belanda di Samarinda.

Belanda mendatangkan perusahaan-perusahaan milik mereka seperti Geo Wehry, Internatio, dan lain-lain untuk menyaingi perusahaan-perusahaan pribumi yang berkembang pesat, salah satunya HBS. Selain itu, ada kecurigaan pula jika terjadi penyebaran Islam yang dilakukan pedagang pribumi.

Hingga perusahaan ditutup, semakin lama daerah tersebut dijuluki kampung HBS. Pada masa itu, banyak keluarga memiliki pekerjaan lain terlepas tutupnya perusahaan keluarga.

“Mereka banyak hobi bermusik akhirnya dibentuk grup musik Jong Muhammadan. Ada yang main saksofon, trombon, akordeon, dan organ sudah ada kala itu. Orkes paling sering diundang dalam berbagai acara,” tambah Iis sembari mengingat-ingat kembali kisah yang dituturkan secara turun-temurun itu.

“Sekitar 1960-an, orang dulu kalau mau ke Balikpapan naik speedboat dari Samarinda, baru berhenti di Handil Dua, setelah itu naik taksi sampai Balikpapan. Ramai calo menawarkan tiket dekat pelabuhan waktu itu,” kenang Iis kemudian tersenyum.

Lokasi pelabuhan yang dimaksud, yakni tepat depan gedung bangunan BRI. Orang dahulu sering menyebutnya Pelabuhan Sapu Lidi karena kapalnya yang terkenal, Sapu Lidi.

Dikatakan pria beranak empat itu, sejak 1900 lokasi Pasar Pagi saat ini memang sudah menjadi pasar. Daerah yang bertahan sebagai tempat perdagangan Samarinda hingga detik ini.

Pada akhirnya, jejak kampung HBS rata dengan tanah, digantikan gedung-gedung yang kini kokoh berdiri di sisa masa kejayaan HBS. Program pemerintah provinsi kala itu menertibkan bangunan turut menggusur rumah-rumah di kampung HBS.

“Harapannya semoga semakin banyak mengenal sejarah Samarinda. Usul supaya nama jalan di sepanjang bekas kampung HBS diganti jadi Jalan HBS biar lebih dikenang. Semoga terwujud,” tutup Iis.

Source http://kaltim.prokal.co http://kaltim.prokal.co/read/news/250334-kampung-hbs-cikal-bakal-samarinda
Comments
Loading...