Kampung Adat Lamalera NTT

0 58

Kampung Adat Lamalera

Secara administrasi Kampung Adat Lamalera berada di Desa Lamalera, Kecamatan Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT. Secara geografis Lamalera diapit oleh dua tanjung, yakni tanjung Vovolatu dan tanjung Nubivutun pada titik koordinat 51 L 0545725, 9051853 UTM, dengan ketinggian 26 Meter Dpl. IMG_8703Lamalera juga adalah daerah yang gersang yang terdidri dari bebatuan besar dan batuan kecil. Kondisi pantai yang ada di Lamalera terjal dan bertebing batu cadas. Hanya terdapat sedikit pantai berpasir yang di tempati masyarakat untuk menambatkan perahunya. Kondisi yang demikian yang membuat nelayan Lamalera menjadi nelayan yang tangguh, pemberani, dan dan pantang menyerah.

Lamalera merupakan suatu desa yang berada di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal sebagai desa para pemburu paus. Kebiasaan memburu paus di desa ini sudah ada sejak abad ke-17. Paus atau dalam bahasa setempat dikenal dengan Baleo dapat muncul kapan saja sepanjang tahun, namun tidak semua Paus menjadi buruan masyarakat Lamalera.

Kegiatan berburu mamalia paus dengan peralatan tradisional seperti peledang (perahu layar tanpa mesin), tempuling (tombak bambu yang ujungnya berkait terbuat dari besi) yang dipergunakan untuk menikam paus. Peledang tidak dijalankan menggunakan mesin, melainkan oleh sekawanan matros atau pendayung. Dalam satu Peledang terdapat 4-6 matros yang dipimpin oleh seorang Lamafa atau juru tikam. Masyarakat Lamalera mengenal musim menangkap ikan yang dikenal dengan nama Lewa. Lewa tiap tahun dilaksanakan pada bulan Mei. Pada musim Lewa, masyarakat Lamalera tidak hanya menangkap paus, tetapi juga pari dan lumba-lumba. Meski demikian, penangkapan ikan pada saat Lewa tidak dilakukan dalam skala besar, dan dagingnya hanya dikonsumsi sendiri atau dibarter dengan bahan pangan.

Sebelum berburu didahului dengan seremonial adat Tobo Nama Fata (ritus penyelesaian masalah suku dan tuan tanah sebelum berburu paus), ritus Ie Gerek di batu paus oleh tuan tanah Suku Langowujo yang dilakukan pada tanggal 29 April setiap tahun. Dan pada tanggal 01 Mei setiap tahun dilanjutkan dengan Misa Leva dengan tradisi agama katolik untuk memohon restu kepada Tuhan atas musim Leva yang akan terjadi mulai Tanggal 02 Mei s/d 30 September setiap tahun.

Tak semua paus bisa diburu. Paus biru atau yang bernama latin Balaenoptera Musculus misalnya. Paus jenis ini tidak boleh diburu, selain demi menjaga kelestarian mamalia laut yang langka, cerita legenda Lamalera menghormati paus biru sebagai hewan yang pernah menyelamatkan Lembata. Lamalera memiliki pasar barter yang dibuka seminggu sekali. Di pasar ini, warga desa Lamalera bisa menukar gading ikan yang dimilikinya dengan bahan pangan lain. Sepotong daging ikan paus misalnya, bisa ditukar dengan 15 tongkol jagung atau setandan pisang.

Menurut Peneliti dari Australia Ambrosius Oleona dan Pieter Tedu Bataona, orang Lamlera yang terdiri dari kelompok-kelompok komunitas kekerabatan suku dan marga, bukan dari penduduk asli Pulau Lembata. Asal-usul orang lembata dapat dilacak dari benda peninggalan sejarah dan dan syair (folkolore) yang diwariskan secara turun temurun ke generasi berikutnya hingga kini. Dalam syair yang di sebut Lia asa usu (syair asal-usul), yang di nyanyikan pada acara adat kebesaran.

Syair ini mengisahkan perjalanan nenek moyang suku-suku induk di Lamalera mulai dari tanah Luwuk hingga mencapai selatan Pulau Lembata dan kemudian menetap. Sebelum mereka mencapai Pulau Lembata terlebih dahulu mereka mngikuti perjalanan armada Patih Gajah Mada menuju perairan Halmahera, dan sampai Irian Barat, kemudian mereka memutar haluan ke arah selatan menyinggapi Pulau Seram, Pulau Grom, lalu ke Ambon, ke kepulauan Timor dan akhirnya mendarat di Pulau Lembata.

Berdasarkan peninggalan itu dapat pula dilacak bahwa orang Lamalera berasal dari Luwuk Sulawesi Selatan. Kepindahan mereka dari Sulawesi Selatan dilatar belakangi oleh adanya serangan penaklukan kerajaan yang ada di Sulawei oleh Majapahit semasa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Kelompok yang pindah inilah yang menjadi cikal bakal komunitas lima suku-suku/marga orang lamalera yaitu suku Batona, Blikolollo, Lamanundek, Tanakrofa dan Lefotuka. Setelah menetap mereka membangun sistem kekerabatan dan desa nelayan dan terus bertahan hingga saat ini.

Menjadi nelayan, mencari dan menangkap ikan di laut adalah mata pencaharian utama dari masyarakat Lamalera. Tradisi ini diwariskan oleh leluhur sejak dahulu kala, ciri khas sebagai nelayan masyarakat Lamalera sangat berbeda dari nelayan lain dan termasuk sangat langka yaitu mereka mengkhususkan diri menangkap ikan yang besar terutama paus. Ciri khas tersebut kemudian menjadi tradisi turun temurun hingga saat ini.

Masyrakat Lamalera tidak hanya menagkap paus begitu saja namun mereka terikat oleh aturan adat tertentu yang dipegang teguh oleh masyarakat Lamalera. Mulai dari tata cara pembuatan perahu untuk mengkap ikan pasu, tata cara penyimpanan alat-alat utnuk menakap ikan paus, sampai pada proses ke laut dan pembagian hasil tangkapan. Di dalam tata cara tersebut ada aturan-aturan dan tindakan yang harus di ikuti sekaligus pantangan atau larangan-larangan yang harus dihindari.

Tidak hanya sebatas keindahan alam dan adat istiadat/tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Lamalera yang menjadi daya tarik wisata. ternyata Kampung Lamalera juga menyimpan beberapa tinggalan benda-benda bersejarah dari masa kolonial, baik dari masa Portugis, dan Belanda. seperti beberapa benda yang telah didata oleh tim Regdokpub Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali beberapa waktu kemarin.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/tinggalan-akeologi-di-kampung-adat-lamalera-kabupaten-lembata-nusa-tenggara-timur/
Comments
Loading...