Jong Dobo NTT

0 293

Lokasi Jong Dobo

Jong Dobo terletak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Jong Dobo

Jong Dobo adalah artefak berbentuk perahu mini dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 12 cm, dan tinggi 25 cm. Perahu ini terbuat dari tembaga dengan awak 22 orang, terdiri dari 1 nahkoda, 3 juru mudi, 12 pendayung, 6 penumpang. Dalam perahu tersebut ada ayam 1 ekor dan 1 buah gong.

Jong Dobo dalam Bahasa Sikka terdiri dari dua suku kata. ”Jong” berarti perahu/kapal, sedangkan ”Dobo” adalah nama perkampungan, tempat disimpannya perahu tersebut. Jika diterjemahkan secara bebas, artinya ”Perahu di Bukit Dobo”.

Kini, perahu ini diawasi oleh seorang Tana Pu’ang (Tuan Tanah, Red), yakni Sergius Moa. Artefak Jong Dobo diakui masyarakat setempat sebagai benda kramat dan sakti. Benda ini diyakini bisa mendatangkan panas, menurunkan hujan, meniup topan dan badai, bahkan bisa mendatangkan malapetaka.

Legenda Jong Dodo

Sergius Moa menceritakan. ”Menurut cerita yang diturunkan dari para leluhur dan menjadi legenda masyarakat, Jong Dobo datang dari India Belakang (Dongson) berlayar dari India untuk mencari tempat yang subur dan menetap. Sebelum melakukan perjalanan, semua mereka yang hendak berlayar tersebut membuat sumpah serapa/janji. Sumpah tersebut adalah tidak boleh melanggar hukum adat, alam dan hukum Tuhan. Apabila melanggar sumpah serapa tersebut, maka mereka akan dikutuk menjadi kecil. Mereka melanggar sehingga dikutuk menjadi kecil,” cerita Sergius.

Sergius Moa mengatakan, perjalanan mereka dimulai dari India, Thailand, Selat Malaka terus ke Indonesia melalui Sumatera, Jawa, Irian (Aru/Dabu), Bima, Labuan Bajo (Pulau Flores). Dari situ mereka berlayar melalui pesisir pantai utara Pulau Flores, di Bajawa (Kabupaten Ngada) mereka mampir di Koli Dobo dan meneruskan hingga perjalanan ke Ende. Dari Ende, mereka meneruskan perjalanan menuju Maumere (Kabupaten Sikka) dan berlabu di Waipare, Kecamatan Kangae.

Di Waipare, lanjutnya, jangkar kapal terputus dan tertinggal, sehingga perjalanan dilanjutkan pada keesokan harinya. Bekas jangkar Jong Dobo masih ada di pesisir Pantai Waipare. Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan menuju Ihigete Gera, Getung Deu dan diterima oleh seorang bapak (tidak diketahui namanya), penderita penyakit kudis. Usai dari tempat itu, mereka menarik kapal, karena kapal tersebut terkandas di salah satu bukit sehingga bukit tersebut terbagi menjadi dua bagian.

Oleh masyarakat setempat, bukit itu dinamakan Wolon Gele dan bekas tarikan perahu tersebut dimanfaatkan masyarakat menjadi jalan kampung. ”Karena mereka tidak diterima dengan baik, maka mereka melanjutkan perjalanan dan menetap di Bukit Dobo. Disini mereka diterima oleh Moat Wogo Pigang dan mereka tinggal hingga saat ini,” lanjut Sergius Moa.

Source https://tabloidlintaspena.blogspot.co.id https://tabloidlintaspena.blogspot.co.id/2012/09/jejak-perahu-misterius-jong-dobo-di.html
Comments
Loading...