Jembatan Celaket Malang

0 34

Jembatan Celaket

Keberadaan Jembatan Celaket sangat penting dalam menunjang proses pemekaran wilayah Kota Malang, mengingat sub-area tengah kota ini terbelah oleh aliran Sungai Brantas yang lebar dan curam. Kondisi ini membuat jembatan menjadi sebuah prasarana sekaligus solusi untuk menghubungkan dua areal yang terpisah oleh sungai atau antar seberang.

Jembatan Celaket ini merupakan satu dari dua jembatan dengan konstrusi beton yang dibangun di wilayah Kota Malang pada periode awal, selain Jembatan Embong Brantas. Mulanya, jembatan tersebut berkonstruksi kayu, namun kemudian direvitalisasi menjadi jembatan berkonstruksi beton yang terbilang modern di paruh kedua abad XIX.

Bangunan jembatan yang pada masa Kolonial Belanda disebut Celaket Berg ini menghubungkan dua koridor jalan utama, yakni Celaket Straat dan Kayoe Tangan Straat. Kedua koridor tersebut merupakan jalur utama menuju ke Alun-alun Kothak (Merdeka) atau sebaliknya, yakni ke wilayah pusat Karesidenan Pasoeroean (sebelum berubah menjadi Karesidenan Malang) dan Seorabaia. Lokasinya cukup stretegis, karena berada dekat dengan Benteng (Loji) Belanda pertama di Malang yang dibangun tahun 1767, yang konon terletak di areal RSUD Saiful Anwar. Jembatan ini juga menjadi akses warga Belanda dan Eropa yang tinggal di rumah-rumah yang dibangun di koridor Celaket di sisi barat dan koridor Oro-Oro Dowo di sisi timur pada medio abad XIX.

Sayang sekali, sejauh ini belum ada catatan sejarah yang menyebutkan kepastian tahun pembangunan dan nama arsitek yang diminta untuk membangun Jembatan Celaket. Yang jelas, jembatan ini ada setelah Belanda mengubah pola tinggalnya dari permukiman di dalam benteng (loji) menjadi pola pemukiman di luar benteng.

Melihat usianya yang lebih dari satu abad, maka layaklah Jembatan Celaket ini disebut bangunan cagar budaya yang kelestarian bentuk dan fungsinya dilindungi oleh Undang-Udang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Jembatan ini sekaligus menjadi monument tertua di Gemeente (Kota) Malang dalam hal jembatan, sehingga keberadaannya harus dilestarikan.

Masalah pelestarian jembatan tuan ini bukanlah pada faktor kerusakan dan kerawanan konstruksinya, melainkan justru datang dari penambahan komponen baru yang mungkin sejatinya tidak dibutuhkan untuk proses pelestariannya. Ya, sejak tahun 2015, Pemerintah Kota Malang membangun vergola berwarna hijau yang membentang sepanjang bangunan jembatan. Deretan tiang-tiang vergola besi penyangga atap lengkung yang juga terbuat dari besi itu ditumpangkan di permukaan pagar jembatan kuno yang berbentuk khas.

Pemasangan vergola ini jelas-jelas berdampak terhadap kelestarian Jembatan Celaket sendiri. Vergola itu menjadi penghalang pandangan mata terhadap karakter bentuk asli pagar jembatan. Selain itu, keberadaan vergola menambah beban yang harus disangga oleh konstruksi jembatan yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut.

Masalah pemasangan vergola hijau ini sempat menjadi perdebatan antara pihak eksekutif dan legislatif di Kota Malang di awal perencanaan pembangunannya. Dana APBD Kota Malang sebesar 900 juta rupiah untuk pembangunan vergola tersebut dinilai menjadi pengeluaran yang mubazir. Terlebih, tidak ada kejelasan mengenai dasar pertimbangan, baik desain bentuk dan fungsi vergola yang dipasang di atas Jembatan Celaket.

Sebagai suatu cagar budaya, karakter Jembatan Celaket ini haruslah dipertahankan, tanpa harus menambahkan komponen-komponen baru sebagai sekadar aksesoris. Apalagi kalau bangunan jembatan tersebut masih layak guna. Kalau pun ada penambahan, seharusnya tidak sampai melakukan hal-hal yang justru malah menghilangkan bentuk aslinya yang bakal mengubah makna kekunoan bangunan tersebut.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/03/30/jembatan-celaket-jembatan-tua-wajah-baru/
Comments
Loading...