Istana Alwatzikhoebillah Kalimantan Barat

0 292

Lokasi Istana Alwatzikhoebillah

Istana Alwatzikhoebillah terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Istana Alwatzikhoebillah

Sejarah mencatat, Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas tumbuh dan berkembang berdasarkan latar belakang sejarah dari dua periode, yakni pada masa Hindu (Majapahit) dan Islam (Brunei). Asimilasi dua periode akhirnya terjadi ketika anak perempuan dari Ratu Sepudak (kerajaan pada masa Hindu) yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu, dengan Raden Sulaiman, anak sulung Pangeran Tengah yang beristrikan Ratu Suria Kesuma dari Sukadana.

Pangeran Tengah adalah adik kandung dari Sultan Abdul Jalilul Akbar yang memerintah negeri Brunai tahun 1598-1659, dan merupakan sultan di negeri Sarawak dengan gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Shah pada tahun 1599. Dari perkawinan ini, akhirnya Raden Sulaiman diangkat menjadi Wazir Kedua dalam pemerintahan Ratu Anum Kesuma Yudha, yang tidak lain adalah menantu Ratu Sepudak dari perkawinannya dengan Raden Mas Ayu Anom, kakak perempuan dari istri Raden Sulaiman.

Selang beberapa tahun setelah penobatan Pangeran Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anum Kesuma Yudha untuk menggantikan Ratu Sepudak, timbullah perselisihan yang mulanya kecil saja di mana Wazir Pertama, yakni Pangeran Mangkurat, adik kandung Ratu Anum Kesuma Yudha, kurang menyenangi Raden Sulaiman, adik ipar Ratu Anum Kesuma Yudha, yang selalu berbuat kebaikan dengan rakyatnya.

Akhirnya, demi mengalah agar tak terjadi perang saudara, Raden Sulaiman mengambil keputusan untuk meninggalkan Ibu Kota Negeri Kota Lama. Setelah bermusyawarah, akhirnya Petinggi Nagur, Petinggi Bantilan, dan Petinggi Segerunding membawa Raden Sulaiman beserta rombongan menuju ke Simpang Sungai Subah. Sesampainya di sana, mereka mendirikan perkampungan yang diberi nama Kota Bandir.

Bangunan Istana Alwatzikhoebillah

Kompleks Istana Alwatzikhoebillah yang didirikan di atas areal seluas sekitar 2 hektar berdiri sejumlah bangunan yang memiliki fungsi dan peruntukkannya sendiri. Sebelum memasuki bangunan utama istana yang menghadap ke barat, pengunjung akan memasuki gerbang segi delapan (pendopo) yang memiliki delapan jendela yang menandakan arah angin, dengan hamparan alun-alun seluas lapangan sepak bola.

Di tengah alun-alun tersebut, terdapat tiang bendera berbentuk tiang perahu layar, dan di bawahnya terdapat tiga meriam canon yang konon didapatkan dari pasukan Inggris. Di sisi sebelah barat daya alun-alun, terdapat Masjid Agung Jamik Sultan Muhammad Tsafiuddin II yang dibangun pada hari Jumat, 1 Muharram 1303 H bertepatan dengan 11 Oktober 1885. Bangunan masjid terlihat kokoh, dan bahan-bahannya terbuat dari kayu belian.

Source Istana Alwatzikhoebillah Kalimantan Barat KalBar
Comments
Loading...