Humah Baghi yang Menjadi Cikal Bakal Rumah Adat Lahat

0 74

Humah Baghi yang Menjadi Cikal Bakal Rumah Adat Lahat

Humah Baghi, begitulah istilah masyarakat Kabupaten Lahat untuk sebutan bangunan rumah yang dibangun nenek moyang. Kendati tetap ada, namun keberadaan rumah seperti itu tidak banyak lagi ditemukan. Dan jika pun ada , beberapa bagiannya telah direnovasi agar tetap terpelihara sebagai salah satu bentuk peninggalan bersejarah bagi turunan keluarga pembuat rumah itu.

Salah satu bangunan humah baghi yang hingga kini masih dipertahankan berada di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Pagargunung, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Lahat.Bentuk rumah baghi itulah yang menjadi cikal bakal bentuk rumah adat Kabupaten Lahat.

Menurut keterangan yang diperoleh, pada masa Bupati Lahat dijabat Kafrawi Rahim, bangunan rumah baghi itu pernah hendak dipindahkan ke lokasi Taman Ribang Kemambang, di pinggir kota Lahat berjarak sekitar satu kilometer dari komplek perkantoran Pemkab Lahat.

Akan tetapi, karena berbagai pertimbangan maka bangunan rumah baghi itu tak jadi dipindahkan. Namun untuk tetap melestarikan bentuk bangunan rumah adat Kabupaten Lahat itu, maka Pemkab Lahat saat itu membangun duplikat humah baghi itu di areal Taman Ribang Kemambang, dan rumah itu juga populer dengan sebutan Humah Dirut (nama tokoh dalam cerita rakyat zaman dulu).

Humah Baghi di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Pagargunung itu, berupa rumah panggung berukuran sekitar 6×8 meter dan masih tampak kokoh dengan enam tiang pilar utama, bentuk bubungan atap bagian agak melengkung dan bagian depan berbentuk segitiga lancip mengarah ke atas.

Lebih menarik lagi, pada bagian dinding rumah berbahan kayu itu, terdapat banyak ukiran menandakan tingginya apresiasi seni masyarakat zaman dulu. Bagian depan rumah terdapat beranda.

Beberapa bagian rumah itu telah diperbaiki seperti atapnya yang dulunya ijuk sudah berupa atap seng dan genting, tiang yang dulunya kayu telah diganti tiang beton. Pada bagian dalam rumah itu tidak bersekat dan hanya terdapat satu ruangan, jika dulu hanya terdapat lubang kecil telah dibuatkan dua jendela. Kendati masih dirawat, namun rumah itu tidak lagi dihuni.

“Humah Baghi ini sudah lama sekali dan sampai sekarang masih dipertahankan,” kata Warni Arsyad, seorang tokoh masyarakat Pagargunung.

Menurut salah seorang keturunan pemiliknya, Patika Imansyah, dari cerita turun temurun bahwa rumah itu dibangun dari sebatang kayu ukuran besar yang diambil dari hutan dibagian hulu Aik Hesam (sungai yang mengalir di pinggir desa itu).

Saat dibangun dulu, rumah itu tidak menggunakan paku untuk melekatkan papan tetapi hanya menggunakan potongan kayu kecil dan bambu yang dibentuk runcing. Rumah tempat tinggal Tuan Penyamar itu, sering juga disebut Humah Kelam (Malam), karena konon ceritanya rumah ini hanya dibangun dalam waktu semalam saja.

Sayangnya tidak diperoleh keterangan makna dari bentuk rumah tersebut dan arti ukiran di dindingnya. Dulu berbagai benda pusaka dimiliki oleh penghuni rumah seperti keris mata hijau, gong, dan peralatan masak. Namun kini, benda-benda itu tak diketahui lagi tempatnya.

Dahulu pemilik rumah itu sangat disegani, dikisahkan Dia memiliki sebilah keris dengan gagang bergambar mata berwarna hijau memiliki sembilan lekukan yang melambangkan sembilan saudara, artinya terdapat sembilan rumah serupa dengan humah baghi yang dibangun Tuan Penyamar itu, selain berada di Lahat, rumah yang bentuknya seperti itu kemungkinan ada juga di tempat lain seperti di Lampung, Bengkulu, dan Jambi.

Source http://www.rmolsumsel.com http://www.rmolsumsel.com/read/2015/05/09/28802/Humah-Baghi-yang-Menjadi-Cikal-Bakal-Rumah-Adat-Lahat-
Comments
Loading...