Gudo, rumah bersama Tionghoa-Jawa

0 55

Gudo, rumah bersama Tionghoa-Jawa

Bangunan tua yang berdiri di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang masih terlihat kokoh. Satu hal yang membedakan dengan bangunan yang ada di sekitarnya adalah warnanya yang sangat mencolok. Warnanya merah tua dan kuning.

Orang yang melintas di depan bangunan itu akan segera tahu jika bangunan itu adalah tempat peribadatan warga Tionghoa. Namun tak seperti klenteng lainnya, arsitektur bangunan ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Seperti atap klenteng yang berbentuk seperti bangunan joglo khas Jawa.

Klenteng ini merupakan satu dari dua klenteng yang ada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tepatnya berada di Desa/Kecamatan Gudo, sekitar 15 kilometer selatan pusat kota Jombang.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan klenteng itu berdiri di daerah itu. Buku “Sedjarah Gudo” yang dikarang Liem Sik Hie (cetakan 1954) juga tak menyebut tahun pendirian klenteng itu. Di buku itu hanya merekam jejak laporan keuangan klenteng yang paling tua berangka 1926.

Dalam bukunya Liem menyebut keberadaan klenteng tidak bisa dilepaskan dari kampung Pecinan atau yang dulu dikenal dengan sebutan kampung Petukangan atau Tukangan.

Disebut Tukangan karena awalnya warga Tionghoa yang tinggal di kampung itu kebanyakan bekerja sebagai tukang atau pekerja pabrik gula. Pabrik itu jaraknya sekitar 600 meter dari klenteng.

Nanik Indrawati, pengurus dan penyuluh agama Konghucu di klenteng itu, menjelaskan beberapa tahun lalu ada seorang profesor kepala perpustakaan nasional di Taiwan yang berkunjung ke klenteng Hong San Kiong itu. Menurut sang profesor, dari syair-syair Mandarin yang ada di papan kemungkinan klenteng itu didirikan pada 1830 Masehi.

Tak hanya mengunjungi klenteng, sang profesor juga sempat berziarah di kompleks makam Tionghoa di Gudo. Di makam, ia menemukan angka tahun tertua pada salah satu nisan makam. “Di nisan itu tertulis yang dimakamkan itu salah satu pejabat Dinasti Ming,” kata Nanik.

Merujuk sumber sejarah dinasti Tiongkok, Dinasti Ming hidup di tahun 1368 hingga 1644 Masehi. Sehingga antara tahun tersebut dipercaya sudah ada etnis Tionghoa yang datang ke Gudo.

Dulunya, kata Nanik, Gudo menjadi pusat keramaian. “Gudo sudah seperti kota,” ujarnya. Gambaran Gudo sebagai kota kecil itu, menurutnya, bisa dilihat di arsip perpustakaan nasional Belanda. Di arsip itu disebutkan, pabrik gula yang ada itu dijalankan dengan 70 pintu air atau orang menyebutnya rolak 70. Selain pabrik, ada juga perkampungan Tionghoa, pasar, dan kuburan.

Senada dengan Nanik, Ketua Yayasan Klenteng Hong San Kiong, Toni Harsono, juga mengatakan Gudo dahulu merupakan daerah perindustrian, pertanian, dan perdagangan yang maju. “Gudo dulu lebih ramai dari sekarang. Dulu ada pabrik gula dan banyak gudang tembakau,” katanya.

Jumlah etnis Tionghoa yang mendiami Gudo juga lebih banyak dibanding saat ini. “Saat ini mungkin tersisa sekitar 20 kepala keluarga,” ujarnya. Berkurangnya etnis Tionghoa di Gudo karena ada yang pindah ke kota lain mengikuti suami atau istri atau pindah berdagang ke Jombang kota.

Source https://beritagar.id https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/gudo-rumah-bersama-tionghoa-jawa
Comments
Loading...