Gua Maria Sendang Purwaningsih Malang

0 120

Gua Maria Sendang Purwaningsih

Gua Maria Sendang Purwaningsih berada di Desa Purworejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Gua Maria Sendang Purwaningsih merupakan salah satu tempat tujuan para peziarah khususnya umat Katolik di daerah Malang dan sekitarnya. Untuk mencapai tempat peziarahan ini dari Kota Malang bisa menuju arah Kepanjen, lalu lurus ke arah selatan melewati Bendungan Karangkates dan Pagak lalu berbelok ke kiri menuju Sumbermanjing Kulon terus menuju ke Donomulyo. Sebelum sampai ke Gereja Katolik Paroki Ratu Damai Purworejo, berbelok ke kanan di mana Gua Maria Sendang Purwaningsih berada.

Berbeda dengan Gua Maria yang sudah dikenal luas seperti Puhsarang di Kediri dan Sendangsono di Kulonprogo, Gua Maria Sendang Purwaningsih ini kelihatan cukup sunyi. Tempatnya berada di rimbunnya pepohonan lebat dan bebatuan yang berada sejauh sekitar satu kilometer dari jalan. Namun, itulah keistimewaannya sehingga di Sendang Purwaningsih diliputi kesenyapan dan serasa mendamaikan hati dan batin bagi yang akan datang. Tempat ini berada di atas tanah padas dan terdapat papan semedi dan palerepan. Palerepan adalah aula untuk bermalam atau bisa juga digunakan untuk mengadakan acara kerohanian.

Kaum muda Katolik pun tidak jarang yang sering melakukan camping rohani di sini. Bagi pengunjung yang ingin mengadakan camping dapat menghubungi Romo Paroki dan penanggung jawab gua ini. Sangat mudah dan pastinya cocok untuk acara pendalaman iman. Pada hari Kamis Legi dan pada Minggu ketiga di gua ini diadakan misa. Kamis Legi adalah misa ritual untuk permohonan doa dan pada Minggu ketiga dalam bulan itu diadakan misa Kerahiman. Para umat yang hadir tidak hanya umat setempat namun juga banyak umat Katolik dari paroki lain.

Keberadaan Gua Maria Sendang Purwaningsih tak lepas dari keberadaan umat Katolik di Paroki Purworejo ini. Umat Katolik di Purworejo diawali oleh seorang pemuda bernama Wagirin. Pada tahun 1932-1934 ia bersekolah di Landbauw School yang menjadi katekumen. Ia dibimbing oleh Mijnneer A. Rubiman sampai menerima sakramen permandian. Wagirin dibaptis oleh Romo A.E.Y. Alber, O Carm di Lawang dengan nama pelindung St. Fransiskus Xaverius.

Setelah selesai mengikuti pendidikan ia kembali ke desa asalnya, yaitu Purworejo. Untuk selanjutnya, ia lebih dikenal dengan nama Fransiskus Xaverius Doeto Oetomo. Enam orang saudaranya mengikutinya dan dipermandikan. Mereka kemudian membangun diri sebagai keluarga kristiani. Kelompok kecil inilah yang kemudian menjadi perintis umat paroki Purworejo di antaranya yaitu keluarga Ambrosius Pademo, Y. Wiramijo, Paulus Darmosusanto, dan St. Mitrah.

Pada tahun 1938 kelompok kecil ini mengajukan permohonan agar di Desa Purworejo dibuka sekolah misi. Permohonan mereka dikabulkan. Maka pada tanggal 1 Agustus 1938 dibukalah Sekolah Rakyat Katolik yang diampu oleh seorang guru, yaitu A. Dibjasoesanto. Sekolah menjadi sarana kerasulan, meski pada kurun waktu 1938-1945 banyak tantangan yang harus dihadapi. Zaman penjajahan Belanda dan Jepang dengan situasi politik menjadi hambatan bagi perkembangan gereja Katolik.

Pada tahun 1938-1941, FX Doeto Oetomo ditugaskan untuk mengajar di Sekolah Rakyat Katolik di Kedungkandang. Tahun 1941-1942 ia pun bertugas di SRK Ngrejo milik Yayasan Karmel, di samping juga menjadi juru tulis. Pada tahun 1946 keluarga FX Doeto Oetomo kembali ke Purworejo dan bekerja sebagai petani serta menjabat sebagai pengurus koperasi di Donomulyo. Pada tahun 1948 bersama dengan teman-temannya, ia membuka kembali sekolah yang sejak pendudukan Jepang ditutup. Selanjutnya sekolah itu diresmikan oleh Yayasan Karmel pada tanggal 18 Februari 1950 dan disahkan oleh Bupati Malang dengan surat bernomor 31/I. Ag 28-7-1950.

Ciri khas kehadiran gereja Katolik di daerah ini adalah setiap Minggu mereka berkumpul untuk beribadat memuliakan Tuhan. Seusai ibadat biasanya mereka masih mengadakan kegiatan susulan, seperti olahraga atau merencanakan kegiatan jemaat lainnya. Semangat peribadatan mereka cukup besar. Bahkan terkadang pada hari Minggu tertentu mereka bersama-sama berjalan kaki untk mengikuti misa di Kepanjen.

Namun semenjak sekolah dibuka kembali, pelayanan misa pun berjalan rutin yaitu setiap dua bulan sekali dan pada setiap hari raya Natal dan Paskah. Pada tahun 1957 Romo G.J.A. Louis, O Carm datang diantar oleh Romo L.B. Djajus, O Carm untuk mengawali karyanya sebagai Pastor paroki yang pertama. Ia menyelesaikan pembangunan gedung SRK Xaverius dan merencanakan pembangunan gedung gereja di komplek SRK tersebut. Pada tanggal 30 Maret 1958 gedung gereja yang berdinding papan itu diberkati oleh Mgr. A.E.Y. Albers, O Carm.

Selanjutnya diadakan pembangunan Gua Maria yang diprakarsai oleh umat Katolik setempat. Pembangunan tempat ziarah dikerjakan secara bergotong royong. Pada tahun 1959 gua tersebut diberkati dan diberi nama Sendang Purwaningsih yang berarti sumber segala rahmat. Sumber air gua ini berasal dari Sendang Purwaningsih. Dalam bahasa Jawa, sendang berarti sumur atau sumber, purwa berarti awal atau permulaan, dan sih berarti kasih atau rahmat kasih. Selanjutnya tempat ziarah ini menjadi sangat populer di kalangan umat Katolik di Malang.

Pernah sekali peristiwa patung Bunda Maria ini dicuri oleh seseorang dan dibuang di Sungai Purworejo. Hal itu diketahui, karena ada seseorang yang sedang mencari ikan di sungai menemukan arca itu. Pada tanggal 19 September 1959 Bapak FX Doeto Oetomo wafat. Jenazahnya dimakamkan di makam Katolik Purworejo. Setelah FX Doeto Oetomo wafat, istri dan tujuh orang putranya pindah rumah ke Jalan Trisula Malang. Halaman rumahnya yang dipakai untuk tempat ziarah ditinggalkan.

Antara 1959-1970 setiap bulan Mei dan Oktober selalu diselenggarakan Misa Kudus setiap ada pembukaan dan penutupan bulan Maria dan bulan Rosario. Yang hadir di samping umat Paroki Purworejo sendiri juga umat dari paroki lain, khususnya dari Paroki Kota Malang. Sejak tahun 1971-1985 gua tersebut tidak mungkin dijangkau oleh para peziarah karena terjadi tanah longsor sehingga jalan ke gua putus oleh aliran sungai.

Pada tahun 1984 Dewan Paroki beserta pastor Paroki Purworejo, yaitu Pastor H. Demmer, O Carm merencanakan untuk membangun kembali tempat untuk menghormati Bunda Maria. Rencana pembangunan tersebut direalisasikan tepat pada hari raya Pesta Perak Paroki Purworejo pada 1985. Tempat yang dipilih adalah puncak Bukit Trianggulasi, dekat sumber hayati. Tempat ini sebelum ditempati bangunan gua, berupa tanah padang rumput yang gundul tanpa tanaman yang menghijau. Beberapa umat Katolik sering mengadakan meditasi di tempat itu. Tempatnya cukup sepi karena jauh dari perumahan penduduk, sehingga mudah menciptakan suasana hening. Pembangunan dikerjakan secara gotong royong, khususnya dalam membentuk teras-teras agar tanah tidak habis tererosi. Umat Islam pun ikut berperan serta dalam kerja bakti membangun tempat ziarah itu.

Pada tanggal 25 Mei 1986 gua ini diberkati oleh Uskup Malang, Mgr. FX. Hadisoemarto, O Carm. Nama gua tersebut atas kesepakatan bersama tetap menggunakan nama yang pernah dipakai umat terdahulu, yaitu Sendang Purwaningsih. Kemudian tempat ziarah ini dilengkapi dengan sebuah sumur atau sendang Purwaningsih yang diberkati oleh Pastor H. Demmer, O Carm pada tanggal 10 Mei 1990. Pada saat itu, secara resmi Gua Maria Sendang Purwaningsih dibuka untuk tempat peziarahan umat Katolik yang tinggal di sekitar lokasi. Selanjutnya dibangun pula sebuah pendopo untuk berteduh, gudang, dan Panti Samadi. Juga telah diupayakan penghijauan lokasi agar para peziarah merasa nyaman karena dapat berteduh. Dengan demikian, diharapkan para peziarah dapat berziarah dengan tenang, khusuk, dan tidak merasa bosan. Akhirnya di tempat ini banyak umat Katolik dari berbagai paroki berdoa, memanjatkan doa syukur ataupun permohonan.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3656/gua-maria-sendang-purwaningsih/
Comments
Loading...