Gua Anabahi Sulawesi Tenggara

0 73

Gua Anabahi

Secara geografis Gua Anabahi berada di sisi selatan Bukit Tenggera, bukit tersebut berbentuk tower karst dengan batas-batas sebagai berikut, sebelah selatan berbatasan dengan lereng dan rawa, sebelah utara, barat dan timut berbatasan dengan dinding karst. Secara administrasi masuk dalam wilayah pemerintahan Desa Bende Wuta, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara, tepatnya pada titik koordinat 03° 19’ 27.1” Lintang Selatan dan 122° 04’ 44.6” Bujur Timur dengan ketinggian 102 meter di atas permukaan air laut. Situs ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan darat dari Desa Samandete sampai  ke Sungai Lalindu, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan sungai (perahu Katinting) menelusuri Sungai Lalindu selama 35 menit sampai ke kaki Bukit Tenggera, dari kaki bukit sampai ke gua masih harus ditempuh dengan jalan kaki ke arah utara melewati semak belukar dan pepohonan dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Orientasi gua menghadap ke selatan dan terdiri dari dua ruangan, ruangan pertama berada lebih rendah dari ruangan kedua dengan lebar mulut gua 67 cm, ruangan ini berbentuk lorong memanjang ke utara dan tembus ke ruangan kedua, panjang lorong sekitar 15 meter, dengan intensitas cahaya kurang sehingga kondisi ruangan remang-remang dan lembab. Ruangan kedua berada di sebelah kanan ruangan pertama dengan lebar mulut gua sekitar 14,42 meter, ruangan ini berbentuk aula dengan lebar 11.53 meter, panjang 23,97 meter. Bentuk permukaan gua pada bagian dalam landai dan terdapat dua bekas kotak ekskavasi yang berukuran 1X1 meter, pada bagian depan permukaan gua agak miring dan terdapat beberapa bongkahan batu yang berasal dari runtuhan langit-langit, intensitas cahaya cukup. Kondisi gua masih aktif dan lembab sehingga dinding gua banyak ditumbuhi lumut dan ganggang pada bagian dalam tepatnya pada sisi kanan dan langit-langit.

Potensi cagar budaya yang terdapat pada gua ini adalah lukisan dinding berupa cap tangan berwarna merah dan beberapa goresan berwarna hitam yang menyerupai kaki hewan, lukisan dinding tersebut sebagian besar menyebar pada dinding sebelah kiri terdiri dari empat panel dengan jumlah lukisan tangan sebanyak 22 buah dan gambar berupa goresan sebanyak empat buah. Pada dinding sebelah kanan hanya terdapat satu lukisan cap tangan berwarna hitam yang sudah mulai memudar, potensi lain berupa pecahan tulang yang ditemukan di sisi kanan permukaan tepatnya di atas bongkahan batu dan bekas-bekas tetesan air yang berasosiasi dengan pecahan keramik, temuan tulang terdiri dari DentalMolarThoracic vertebrataeFemurPhalanges, dan fragmen atas Cranium.

Temuan keramik terdiri dari dua jenis yaitu pecahan tembikar (tepian, badan dan dasar) yang terbuat dari tanah liat berwarna coklat dan coklat kehitaman serta tidak memiliki hiasan, pecahan stoneware tepian dan dasar) yang yang terbuat dari batuan berwarna abu-abu dan tidak memiliki hiasan, pecahan keramik tersebut diidentifikasi sebagai tempayan. Pada sisi kiri tepatnya bagian dalam permukaan terdapat potongan gelang yang terbuat dari kerang berasosiasi dengan sebaran kerang dengan jenis Tylomelania verfecta dan Fimbria sowerbryi.

Vegetasi yang terdapat di sekitar gua berupa semak belukar dan berbagai jenis pohon keras, di antaranya adalah pohon Uris (Uui nama local), Tipulu (nama Lokal), bolongita (nama Lokal), tomula (nama Lokal) dan lomori (nama Lokal).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/terdapat-lukisan-dinding-cap-tangan-di-gua-anabahi-kecamatan-konawe-utara-propinsi-sulawesi-tenggara/
Comments
Loading...