GOR Bangga Suka Desa, Peninggalan Soeharto di Sultra yang Terbengkalai

0 48

GOR Bangga Suka Desa, Peninggalan Soeharto di Sultra yang Terbengkalai

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Gelanggang Olah Raga Bangga Suka Desa Propinsi Dati I Sulawesi Tenggara Diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Kendari, 11 Maret 1996.

Plakat dengan tulisan pada kutipan di atas terpampang di ruang utama tribun Gelanggang Olahraga (GOR) Bangga Suka Desa. Bentuk plakatnya masih utuh. Tulisannya berwarna kuning keemasan dengan latar berwarna hitam.

Luas tribun GOR Bangga Suka Desa berukuran kurang lebih 30 x 10 meter. Ada tiga ruangan besar di sana. Satu ruang utama berhadapan langsung dengan lapangan sepak bola, dua ruangan lagi berada di sisi kiri dan kanan ruang utama itu.

Dua ruangan tersebut adalah ruang ganti pemain sepak bola. Masing-masing ruangan tersebut dipasangi toilet. Bentuk fisik bangunan ini memang masih berdiri kokoh. Namun sayang, kondisinya sangat memprihatinkan.

Serpihan pecah beling berserakan di mana-mana, sebagian dinding sudah retak, serta cat dinding yang semula berwarna putih kini terlihat menjadi warna cokelat. Saking kotornya.

Dinding setiap ruangan penuh dengan coretan-coretan. Belum lagi jika dilihat dari luar, lumut menyelimuti tiap sudut bangunan tersebut. Tepat di atas ruangan itu, terdapat tribun penonton. Ya, seperti stadion mini pada umumnya.

Keberadaan plakat di GOR Bangga Suka Desa menjadi bukti bahwa Presiden Republik Indonesia yang ke-2, Soeharto, pernah menginjakkan kaki di Bumi Anoa, Sulawesi Tenggara.

Dari berbagai sumber yang dihimpun tim kendarinesia, kunjungan Soeharto pada tahun 1996 di Sulawesi Tenggara (Sultra) saat itu dalam rangka pencanangan bulan bakti Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD). Dalam kesempatan itu, dirangkaikan dengan peresmian GOR Bangga Suka Desa.

GOR Bangga Suka Desa terletak di Kelurahan Puduria, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe. Dahulu saat diresmikan, daerah ini masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Kendari.

Nyoman (60 tahun), seorang warga setempat mengisahkan decak kagumnya saat Soeharto datang waktu itu. Masyarakat begitu antusias menyambut. Semua warga keluar rumah melambai-lambaikan tangan saat tiga helikopter yang mengantar Soeharto mendarat di Puduria.

“Saya saat itu merinding betul. Saya melihat Pak Harto itu saya kayak mimpi,” ujar Nyoman di rumahnya.

Soeharto saat itu datang bersama rombongan menteri. Jauh hari sebelum kedatangannya, lokasi sudah disterilkan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kala itu.

“Sebelum datang Pak Harto, sudah banyak pasukan. Ada yang di hutan-hutan. Ada yang di rumah-rumah. Banyaklah pokoknya,” tutur Nyoman.

Pada masanya, Stadion GOR Bangga Suka Desa adalah yang termegah di Sultra. Stadion ini menjadi kebanggaan masyarakat Sultra. Setiap event sepak bola selalu dihelat di stadion ini.

Bukan hanya itu, acara-acara besar yang melibatkan banyak massa selalu digelar di stadion tersebut. Akan tetapi, cerita kejayaan itu hanya tinggal kenangan.

Kondisin stadion GOR Bangga Suka Desa saat ini benar-benar memprihatinkan. Ternak sapi berkeliaran di tengah lapangan. Kotorannya pun berserakan di mana-mana.

Namun begitu, sebagian lapangan masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bermain bola. Tidak lagi memakai keseluruhan luas lapangan, tetapi hanya setengahnya.

Sejak dulu, Lurah Puduria, Tuo Turahmun, bersama masyarakat setempat berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra bisa memperhatikan stadion tersebut. Sebab, stadion itu adalah bangunan bersejarah dalam pembangunan di Sultra.

Daerah Puduria adalah salah satu wilayah di Konawe yang disediakan oleh Presiden Soeharto untuk didiami transmigran asal Jawa, Bali, dan Sunda. Oleh sebab itu, saat berkunjung ke daerah ini, dipastikan akan bertemu masyarakat yang notabene bukan masyarakat asli Sulawesi.

Bagi Turahman, Stadion GOR Bangga Suka Desa menjadi bukti janji Soeharto kala itu kepada masyarakatnya, yakni menyejahterakan tramsmigran yang datang ke Sultra.

“Kita berharap bagaimana ini bisa dilirik lagi sama Pemerintah Provinsi (Sultra). Karena setahu saya ini domainnya Pemprov,” kataTuo Turahmun.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/kendarinesia/gor-bangga-suka-desa-peninggalan-soeharto-di-sultra-yang-terbengkalai-1qq8bv5SKUk
Comments
Loading...