Gereja Tua Maluku

0 104

Lokasi Gereja Tua Maluku

Gereja Tua Maluku terletak di Pulau Naira, Kepulauan Banda, Maluku Tengah, Indonesia.

Gereja Tua Maluku

Gereja ini dibangun pada tanggal 20 April 1873 dan diesmikan dua tahun kemudian pada tanggal 23 Mei 1875 oleh dua orang misionaris Belanda bernama Maurits Lantzius dan John Hoeke. Dindingnya didirikan di atas tiga puluh batu nisan yang di atasnya diukir nama-nama dan kata dalam bahasa Belanda.

Banguan tua ini berdiri di atas komplek pemakaman tiga puluh prajurit Belanda yang gugur dalam perang penaklukan Banda. Maka jangan heran, jika lantai batunya yang disusun berbentuk salib akan membuatmu terpana saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Banyak versi cerita mengenai pembangunan satu-satunya gereja di Naira ini. Namun satu hal yang pasti, bagunan ini adalah saksi bisu peradaban Naira selama berabad-abad.

Kursi-kursi kayu berwarna kecokelatan berderet rapi di sisi kanan dan kiri lantai berbatu nisan. Di depannya, sebuah lemari piala, meja kecil, dan mimbar diletakkan berurutan dari sisi kiri. Mimbarnya sangat sederhana dengan hiasan kain hijau terang berlambang salib kuning diatasnya. Langit-langitnya juga terbuat dari kayu yang berwarna lebih gelap dari senja dan dihiasi dengan lampu tua yang menggantung di bagian tengahnya.

Setiap ibadah minggu, jendela-jendela besar di gereja ini akan dibuka lebar. Cahaya matahari akan menelisik masuk dan membuat cat-cat kursi kayunya berkilau, memberikan kesan damai dan hangat di bangunan tua ini. Tahun 1998, gereja ini sempat dirusak saat terjadi kerusuhan Ambon, namun syukurlah telah diperbaiki dan kini tetap kokoh berdiri.

Hollandische Kerk masih menyimpan beberapa alkitab tua yang berasal dari abad ke-18. Selain itu meski telah dilakukan perbaikan disana-sini, masih tersisa beberapa peninggalan Belanda di bangunannya seperti pintu depan berlambang VOC dan sebuah lonceng kuno. Konon, lonceng kuno di gereja ini terbuat dari bahan tembaga yang hingga hari ini hanya tersisa empat buah di seluruh dunia.

Tentu, salah satunya kini tersemat dalam bagunan ini. Dulu sekali, pelayanan rohani pada masa kolonial Belanda abad ke-17 di Hollandische Kerk dilaksanakan dalam bahasa Belanda setiap hari Minggu pagi dan dalam bahasa Melayu pada sore harinya. Namun kini, ibadah hanya dilaksanakan saat pagi hari dalam bahasa Indonesia.

Source http://www.bandaneira.id/ http://www.bandaneira.id/2017/05/25/hollandische-kerk-gereja-tua-di-ujung-jalanan-neira/
Comments
Loading...