Gereja Tua Asei Papua

0 73

Gereja Tua Asei

Gereja Asei merupakan gereja tua di Sentani. Tepatnya di Desa Asei Besar, Kec. Sentani Timur, Kab. Jayapura, Papua. Secara astronomis berada di titik koordinat 02⁰36’16,9’’ LS, 140⁰34’49,7’’ BT dengan elevasi 90 mdpl. Untuk menuju lokasi gereja tua ini harus menggunakan perahu. Mengingat posisinya berada di tengah Danau Sentani.

Agama Kristen masuk ke Papua berkat dua misionaris Jerman, yang bernama  W.Ottow Carl dan Johann G.Geissler di Manokwari pada1855. Mereka mewartakan injil di pesisir utara Papua sampai teluk Youtefa. Terus ke pedalaman sampai ke belakang gunung Cycloop. Misi penyebaran injil kemudian dilanjutkan oleh JL van Hasselt dari Utrecht Missionary Society. Pada 1 Juli 1928 Agama Kristen mulai masuk ke Pulau Asei. Peringatan masuknya agama Kristen ke Pulau Asei ini kemudian di abadikan dalam bentuk tugu peringatan. Tanggal itui juga dijadikan sebagai hari besar bagi jemaat Gereja Asei.

Menurut penuturan Yohanes Pouw (45 th) Gereja Asei kali pertama dibangun sekitar 1930-an. Letaknya di kaki bukit, dibangun dengan bentuk yang sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari bahan gaba-gaba (pelepah sagu), dengan atap rumbia. Pada Perang Dunia Kedua, sekitar 1944, gereja ini hancur akibat pertempuran antara Jepang dan sekutu (Amerika Serikat). Pulau asei termasuk dalam wilayah pergerakan tentara Jepang, atau lintasan merah. Maka dibombardir lah Pulau Asei Sekutu. Akibatnya banyak bangunan yang rusak, dan penduduknya banyak yang mengungsi ke daerah lain.

Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, masyarakat di Pulau Asei membangun kembali gereja baru di tempat yang paling tinggi. Tepanya di bukit Pulau Asei. Pembangunan Gereja dipercayakan kepada seorang tukan kayu setempat, bernama Wolfram Wodong. Desainnya didapatkan dari Jerman, dari salah satu Sekolah Teknik di sana. Berbekalkan desain tersebut, Wolfram Wodong dan masyarakat Asei mewujudkannya hingga seperti yang sekarang. Pengaruh arsitektur Jerman ini terlihat pada bentuk jendela yang besar dengan motif kotak. Gereja ini mulai diresmikan pada 01 Januari 1950. Angka tahun ini terlihat di salah satu trap anak tangga teras depan sebelah utara.

Pada 2000 Gereja Asei mengalami kerusakan yang cukup berat. Hanya menyisakan atap menara paling bawah. Sebagian dinding gereja sudah dirobohkan, karena Jemaat di sana menganggapnya sudah rapuh. Dengan maksud untuk memperbaikinya, mereka pun hendak merobohkan tembok bagian belakang. Beruntung dapat dicegah oleh pihak Kanwil Diknas Irian Jaya. Selanjutnya bangunan tersebut dipugar pada 2001 dan dijadikan situs gereja tua oleh Pemerintah Daerah Irian Jaya.

Nama asli gereja ini adalah GKI Philadelfia. Oleh karena berada di puncak bukit Pulau Asei, gereja ini lebih dikenal dengan Gereja Asei. Arsitekturnya bergaya Neo-Vernakuler. Denahnya empat persegi panjang. Luasnya 12 x 40 meter persegi, menghadap ke barat. Atapnya berbentuk pelana, membujur barat-timur. Terbuat dari seng bergelombang dengan kerangka kayu.

Lantai gereja terbuat dari plesteran semen, dan tidak memiliki plafond. Kerangka atap disangga oleh 10 tiang kayu. Menggunakan pasak setinggi 3,3 meter. Jumlah tiang penyangga ini melambangkan jumlah marga yang mendiami pulau Asei (ohee, Ongge, Pepoho, Asabo, Nere, Puhiri, Pouw, Kere, Modow, dan Yapese). Maknanya bahwa setiap marga berkewajiban menopang gereja itu. Tiang-tiang tersebut berjajar simetris di sisi kanan-kiri masing-masing 5 tiang. Tiang di dekat pintu terdapat ornament patung, yang dipahatkan di bagian atas tiang. Patung sebelah kiri setinggi 90 cm melambangkan hawa. Patung di sebelah kanan setinggi 70 cm melambangkan Adam, sepasang manusia pertama di bumi.

Di ruang utama di dekat dinding sebelah utara terdapat mimbar berukuran 160 x 120 cm. Mimbar terbuat dari bata dan dan plesteran semen. Di dinding sisi kanan dan kiri mimbar terlihat susunan bata ekspose bercat warna merah tua, dan spesinya berwarna putih. Di sisi kiri dan kanan mimbar dihiasi sayap. Bagian depannya dihiasi ornamen yang menggambarkan Yesus dengan tangan menengadah, dan matahari bersinar di bagian kanan atasnya. Tulisan “ Bumilah Alas Kakiku” terdapat di bagian bawahnya. Di sisi kanan dan kirinya terdapat dua trap anak tangga.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/gereja-tua-asei/
Comments
Loading...