Gereja Santo Jusuf Bintaran Yogyakarta

0 60

Gereja Santo Jusuf Bintaran

Gereja Santo Jusuf merupakan gereja yang dirancang  oleh orang Belanda J.H. Van Oijen B.N.A dan pelaksanaan pembanguan doilakukan oleh HollandscheBeton Maatschappij. Bangunan Gereja St. Jussuf Bintaran ini memiliki beberapa bagian, bagian pertama ukuran panjang 36 meter sampai dibagian bangku tempat komuni dengan lebar 10 meter, disebelah kanan dan kiri berukuran masing masing panjang 20 meter dan lebar 5 meter, sehingga lebar keseluruhan adalah 20 meter, dengan tinggi 13 meter pada penaung bagian tengah dengan luas keseluruhan 5.024 meter persegi

Gereja Santo Jusuf berada di Kawasan Bintaran, tepatnya di Jalan Bintaran Kidul No. 5 Yogyakarta, dari titik nol kearah timur melewati perempatan Gondomanan masuk  jl. Sultan Agung hinga perempatan permata belok kanan sebelah selatan Bakmi Kadin berada di kiri jalan.

Gereja ini awal mulanya dibangun pada tahun 1933 – 1934 dan diresmikan oleh Mgr. A. Th Van Hoof  SJ, Vikaris Apostolik yang didampingi oleh Rm. Van Kalken SJ kepala Misi Jesuit di Jawa dan Rm. G. Riestra SJ Pastor kepala di Yogyakarta pada minggu 8 April 1934 bersamaa dengan misa ekaristi pertama kalinya, 1800 umat katholik pribumi menghadiri misa tersebut.

Pada tahun 2007 mengalami renovasi dan selesai pada tahun oktober 2010 yang kemudian diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 17 Oktober 2010. Pastor paroki Bintaran pertama kali adalah Rama A. de Kuijper SJ dibantu Rama A. Soegijapranata SJ.

Gereja St. Jusuf Bintaran merupakan Gereja Jawa pertama yang diperuntukkan untuk orang jawa dan pribumi dengan bentuknya yang unik dan khas hampir tidak ada bangunan yang serupa  di Indonesia dan didunia hanya ada dua, satunya yakni di negara Belanda sebagai induk gerejanya.

Saat ini keberadaan Gereja St. Jusuf masuk dalam daftar Cagar Budaya di Indonesia dengan dasar surat Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang berlokasi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya. Gereja St. Jusuf Bintyaran walaupun bangunan tua dan sudah mengalami renovasi namun hingga saat ini bentuk struktur serta fungsinya masih seperti semula relative utuh dan terpelihara.

Source http://yogyakarta.panduanwisata.id http://yogyakarta.panduanwisata.id/wisata-religi/gereja-santo-jusuf-bintaran-peninggalan-belanda-yang-masih-terjaga/
Comments
Loading...