Gereja Kristen Jawa Rewulu

0 168

Gereja Kristen Jawa Rewulu

Gereja Kristen Jawa Rewulu atau sering disebut GKJ Rewulu pada awalnya adalah sebuah bangunan kecil, berbeda dengan keadaan sekarang ini. Awal pekabaran injil di GKJ Rewulu adalah pada tahun 1918 yang dilakukan oleh Tn. Thomas Vandervein, seorang sinder pabrik gula Rewulu. Tn. Thomas Vandervein pertamakali melakukan pekabaran injil kepada 7 orang buruh pabrik tersebut. Setelah istri Thomas Vandervein meninggal dunia, Tn Thomas Vandervein kurang aktif dalam kegiatan pekabaran injil. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan oleh seorang pendeta berkebangsaan Belanda bernama Pdt. Domunne Peter Aanlar.

Seiring waktu berlalu, terjadilah kebangkrutan pada Pabrik Gula Rewulu sehingga para buruh pabrik dipindahkan ke daerah Jebukan. Karena di rewulu telah berlangsung kegiatan pekabaran injil, maka tumbuhlah jemaat-jemaat baru, diantaranya Bapak Karso Dikromo, Bapak Kerto Wiharjo, Bapak Mangun Pawiro, Bapak Wijo Sudarmo, Bapak Karyodiyono, Bapak Senuk, Bapak Wongso Darmo, Bapak Wiro Dikromo, dan Ibu Taruna Jaya. Kelompok itulah yang menjadi cikal bakal jemaat GKJ Rewulu.

Pada saat itu, jemaat tersebut belum dapat berdiri sendiri sehingga menjadi binaan GKJ Gondokusuman Yogyakarta. Pada tahun 1920, GKJ Gondokusuman mengutus seorang Guru Injil untuk menggembalakan jemaat di Rewulu, yaitu Bapak Cokro Atmodjo. Sejak dibina oleh bapak Cokro Atmodjo, jemaat GKJ Rewulu menjadi berkembang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Pada saat itu peribadatan dilaksanakan di rumah Tn. Thomas Vandervein yang terletak di dusun Pirak Bulus, Sidomulyo, Godean. Pada tahun 1927 didirikanlah sebuah gedung gereja dengan dinding bambu di Dusun Gancahan V, Sidomulyo, Godean. Pada tahun 1929 gedung tersebut diperbaharui menjadi dinding tembok. Pada saat itu nama gereja terkenal dengan nama Gereja Sawo karena di depan Gereja terdapat pohon sawo yang besar .

Bapak Cokro Admodjo melakukan pekabaran injil dengan menggunakan media kesenian daerah, misalnya wayang, karawitan, dan tari-tarian karena media tersebut merupakan salah satu cara yang efaktif untuk melakukan pekabaran injil. Selain melalui media kesenian, pekabaran injil juga dilaksanakan dengan membuka Sekolah Minggu (Sunday school) di sekolah Zending Vorvolk School (Sekolah dasar). Pada saat itu belum dibentuk bebadan gereja atau majelis sehingga pelayanan firman dilakukan secara bergantian oleh anggota jemaat.

Pada tahun 1939, Bapak Cokro Admojo pindah tugas ke GKJ Wates sehingga pekabaran injil dilanjutkan oleh Bapak Adam Thomas dan Bapak Darmo Wasito. Pada tahun 1940 didirikanlah gedung gereja permanen dengan memugar tempat ibadah yang pertama yang terletak di Dusun Gancahan V dan sekaligus menjadi pepanthan GKJ Ngento-ento.

Oleh karena pertumbuhan jemaat yang pesat, maka pada tanggal 1 Januari 1960 GKJ Ngento-ento mendewasakan pepanthan Rewulu dengan nama GKJ Rewulu. Pemilihan nama Rewulu karena pada masa itu Rewulu sangat terkenal dan tidak asing ditelinga masyarakat. Hal ini disebabkan di Dusun Rewulu Wetan terdapat Pabrik Tom yang terkenal sehingga daerah sekitarnya ikut terkenal dengan nama Rewulu, seperti Pabrik Gula rewulu, Kantor Pos Rewulu (sekarang Kantor Desa Sidomulyo), Stasiun Rewulu, Perikanan Rewulu, dan Depot Pertamina Rewulu.

GKJ Rewulu sebelum menjadi bangunan seperti saat ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya GKJ Rewulu adalah bangunan berdinding bambu pada tahun 1927, kemudian pada tahun 1929 gedung gereja diperbaharui menjadi dinding tembok. Pada tahun 1953 gedung gereja diperbesar dan letaknya dipindah kesebelah barat (lokasi sekarang ini). Setelah itu, gedung gereja beberapa kali direnovasi yaitu pada tahun 1978, tahun 1982, dan tahun 1993. Pada tahun 1995 GKJ rewulu membangun sebuah Pastori atau rumah dinas pendeta yang letaknya di sebelah barat gedung gereja.

Pada saat GKJ Rewulu didewasakan terdapat 150 orang yang menjadi warga jemaat dan tergabung dalam Klasis Yogyakarta Barat. GKJ Rewulu memiliki 8 pepanthan, yaitu Sedayu, Gamping, Godean, Sumber Gamol, Sungapan, Jatisawit, Kaliurang, dan Sengon. Dalam perkembangannya, GKJ Rewulu mengalami banyak kemajuan, baik luas pelayanan maupun jumlah warga jemaatnya sehingga Majelis memutuskan untuk mendewasakan pepanthan Sedayu. Pada tanggal 31 Oktober 1990, pepanthan Sedayu mendewasakan diri menjadi GKJ Sedayu dengan jumlah Majelis 13 orang dan jumlah warga dewasa ± 465. Pendeta pertama GKJ Sedayu adalah Bapak Pdt. Wiji Santosa S. Th. Wilayah pelayanan GKJ Sedayu adalah Sungapan, Kaliurang, dan Sengon.

Source https://atmajabagas.wordpress.com https://atmajabagas.wordpress.com/2015/02/17/sekilas-mengenai-gkj-rewulu/
Comments
Loading...