Sejarah Berdirinya Gereja Katolik Santo Paulus Bintaran

0 272

Lokasi Gereja Katolik Santo Paulus Bintaran

Gereja ini terletak di Jalan Bintaran Kidul No. 5, Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi gereja ini berada di depan Bintaran Mart, atau H Royal Residence Bintaran.

Bangunan Gereja katolik Santo Paulus Bintaran

Gereja katolik Santo Paulus Bintaran

Tinggi bangunan gereja 13 m, lebar 20 m dan panjang 36 m. Secara visual bangunan Gereja Bintaran memiliki keunikan bila dibandingkan dengan gereja-gereja lainnya yang ada di Yogyakarta. Gereja ini mempunyai atap plat beton lengkung tinggi yang diapit oleh atap datar. Langgam arsitektur gereja seperti itu hanya ada dua, yang satunya ada di Belanda yang menjadi induk dari gereja ini.

Sejarah Gereja katolik Santo Paulus Bintaran

Gagasan mendirikan gereja di Bintaran ini berawal dari keprihatinan akan keterbatasan ruang gereja yang ada di Gereja Santo Frasiskus Xaverius Kidul Loji. Pada waktu itu, Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kidul Loji masih didominasi oleh jemaat yang terdiri dari orang-orang Belanda dan Eropa lainnya. Orang-orang kulit putih menempati bangunan utama gereja, sedangkan jemaat orang-orang pribumi Katolik memilih menempati gudahng sisi timur gereja.

Seiring perkembangan waktu, gudang tersebut tak mampu lagi untuk menampung jemaat pribumi Katoilk. Situasi dan kondisi yang demikian menjadi perhatian Pastor Henri van Driessche SJ, untuk membangun gereja yang khusus untuk jemaat orang-orang pribumi Katolik tersebut.

Pembangunan gereja dimulai pada tahun 1933, dan kontraktor pelaksananya dilakukan oleh sebuah perusahaan bangunan milik Belanda bernama Naamloze Vennootschap (NV) “Hollandsche Beton Maatschappij”. Luas bangunan gereja adalah 720 m² yang berdiri di atas lahan seluas 5024 m².  Gedung gereja ini diresmikan pada hari Minggu, 8 April 1934. Peresmian gereja dilakukan oleh Mgr. A. Th. Van Hoof SJ, Vikaris Apolistik didampingi oleh Pastor Van Kalken SJ, Kepala Misi Jesuit di Jawa dan Pastor G. Riestra SJ, Pastor Kepala di Yogyakarta. Selain itu, juga dihadiri oleh dua orang wakil masyarakat Katolik pribumi, Raden B. Djajaendra dan Raden Mas L. Jama.

Di sisi lain, gereja ini juga mempunyai peran dalam proses perjuangan kemerdekaan. Pada saat Ibu Kota Pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Gereja Bintaran menjadi tempat persembunyian keluarga Bung Karno dan Hatta yang kala itu dibuang ke Bukit Tinggi. Selain itu, gereja ini juga menjadi tempat rintisan sekolah pribumi Kolese Debrito, dan sering kali digunakan sebagai tempat pertemuan kelompok gereja Katolik, salah satunya adalah Kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia (KUKSI) yang berlangsung dari tanggal 12 sampai dengan 17 Desember 1949 yang menghasilkan Partai Katolik Indonesia.

Kini, Gereja Bintaran menjadi cagar budaya yang dilindungi oleh negara berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs Dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala Yang Berlokasi Di Wilayah Propinsi DIY Sebagai Benda Cagar Budaya Atau Kawasan Cagar Budaya.

 

Source Gereja katolik Santo Paulus Bintaran Yogyakarta
Comments
Loading...