Gereja Imanuel Mandomai Kalimantan Tengah

0 88

Lokasi Gereja Imanuel Mandomai

Gereja Imanuel Mandomai terletak di Desa Saka Mangkahai, Kecamatan Kapuas Barat, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

Gereja Imanuel Mandomai

Menurut informasi, gereja ini dibangun pada tahun 1876 dengan dana dari Zending Barmen, Jerman. Pada suatu sidang umum Rheinischen Missions tanggal 4 Juni 1834 diputuskan bahwa Kalimantan dijadikan sebagai pulau “Daerah Pekabaran Injil”. Sebagai wujud nyata dari hasil sidang tersebut maka dikirimkan Penginjil-penginjil dari Barmen (Jerman), yaitu Missioar Barnstein dan Heyer. Mereka tiba di Batavia (Jakarta) pada tanggal 13 Desember 1834. Barnstein sendiri tiba di Banjarmasin pada tanggal 26 Juni 1935.

Di Kalimantan beliau mengunjungi pedalaman, daerah-daerah tersebut antara lain pulau Petak, sungai Kapuas, Barito, bahkan sampai Kalimantan Barat, disepanjang sungai Kapuas Gohong (Desa Gohong). Barnstein sempat “angkat saudara dengan darah” dengan kepala suku, namun hal tersebut tehenti Karena pada tahun 1859 terjadi Perang Banjar yang diakibatkan oleh pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Hidayat pada tanggal 1 Mei 1859. Perang tersebut diawali dari daerah Kalayan yang menelan korban 20 orang kulit putih dan pada bulan Desembernya sebuah kapan Belanda di sungai Barito dapat dihancurkan dengan korban kurang lebih sebanyak 30 orang.

Pemberontakan ini mengakibatkan penderitaan yang tidak sedikit bagi gejera, karena pemberontakan ini didasari dengan rasa benci pada orang-orang Belanda, orang kulit putih umumnya, ditambah lagi ketidak jelasan pengertian mereka tentang perbedaan antara orang-orang Belanda sebagai penjajah dengan orang Zending selaku utusan lembaga keamanan. Terutama karena motto yang dipegang, yaitu “Usir semua prang kulit putih dari bumi Kalimantan”.

Ditengah-tengah peristiwa berdarah ini, terdapat empat penginjil yang menjadi korban beserta dengan tiga isteri dan dua orang anaknya yang dibunuh oleh orang Dayak. Adapun keempat penginjil tersebut adalah, Missionar Roth, Missionar Wiegand dan isteri, Missionar Kind dan isteri serta dua anaknya. Mereka dibunuh di Tanggohan, pangkalan yang didirikan pada tahun 1855, tempat sebuah gereja tertua didirikan. Kemudian Missionar Hofmeister dan isteri di Penda Alai.

Sejak peristiwa tersebut Kaliamantan menjadi tertutup bagi Pekabaran Injil dan para penginjil ditarik ke Banjarmasin untuk kemudian dikembalikan ke tanah airnya. Pekerjaan yang terlah dijalankan hampir 25 tahun nampaknya musnah begitu saja, sampai tujuh tahun lamanya Kalimantan menjadi daerah yang tertutup. Baru kemudian pada tahun 1866 akhirnya dengan suatu keputusan dari pemerintah Belanda, orang-orang Zending di izinkan kembali memasuki wilayah Kalimantan. Pada masa-masa awal ini kegiatan harus selalu berdekatan dengan perbentengan Belanda, dibatasi oleh peraturan-peraturan yang membatasi hubungan dengan penduduk setempat.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/2017/03/gereja-imanuel-mandomai/
Comments
Loading...