Gedung YLCC, Tempat Presiden Depok Mengurus Tanah dan Budaknya

0 25

Gedung YLCC, Tempat Presiden Depok Mengurus Tanah dan Budaknya

Bila Anda pernah melintas Jalan Pemuda, Kota Depok, Anda mungkin sempat melihat sebentuk bangunan tegak bersebelahan dengan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel. Saat ini gedung tersebut merupakan lokasi beberapa sekolah menengah, yakni SMP, SMA dan SMK Kasih, yang berada dalam pengelolaan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), yang beranggotakan keturunan orang-orang asli Depok. Dulu, Gedung YLCC yang beralamat di Jalan Pemuda No. 72, Rt 02 Rw 08 Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, itu adalah bangunan gedung pastorij (rumah singgah para pendeta). Penggagas pembangunan pastorij tersebut A. Schuurogel. Namun dananya datang dari upaya seorang jemaat GPIB Immanuel Depok sekitar tahun 1834-1849, H. Wentink.

Ia mengajukan dana kepada pemerintahan Hindia Belanda, dan berhasil. Pembangunan pastorij dilakukan bersamaan dengan GPIB Immanuel Depok. Arsitektur pastorij dibangun dengan kayu nangka dan pertama kali atapnya menggunakan genteng buatan asli Depok, buatan Aakdewerkfabriek. Setelah dibangun, banyak pendeta yang kemudian berkunjung ke sana. Bila ditelusuri, gedung tersebut jauh lebih tua ketimbang usia YLCC.

Yayasan ini didirikan pada 1952 untuk mengenang jasa-jasa Cornelis Chastelein terhadap leluhur masyarakat Depok. Didirikan berdasarkan pesan Chastelein 13 Maret 1714: “… Mijne uyterste wille en intentie strijdende, die is om daar een fraaie christen bevolkinge mettertijt van te doen groeyen.” (… Kehendakoe ijaitoe soepaja atas tanah-tanah itoe timboel soewatoe perhimpoenan masehi jang indah).

Pesan selanjutnya berbunyi,” .. De twaalf familienamen afstammelingen van de vrijgestelde lijfeigenen van Cornelis Chastelein” (Dua belas nama keluarga keturunan para budak yang dimerdekakan oleh Cornelis Chastelein), yaitu: Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh. Kedua belas nama tersebut merupakan cikal bakal marga kaum Depok yang menjadi leluhur masyarakat Depok dan mewarisi sejumlah tanah perkebunan milik tuannya, Chastelein.

Perkembangan kemudian, tanah-tanah itu diserahkan YLCC kepada pemerintah Indonesia tahun 1950-an. YLCC bertugas mengoordinasikan kedua belas marga tersebut untuk merawat aset-aset tanah yang bersifat kommunal bezit dan eigendom, atau milik bersama masyarakat Depok, berupa tanah pemakaman, lapangan sepak bola, sekolah, rumah sakit, gedung pertemuan, tempat ibadah.

Sedangkan mereka yang memilih tinggal di Belanda juga mendirikan sebuah paguyuban yang diberi nama De Dodol, singkatan dari Depok Ondervindt Doolopend Onze Liefd, artinya Depok membuat cinta kami tetap. Bangunan yang masih kental dengan arsitektur pemerintahan kolonial Belanda tersebut, telah mengalami beberapa kali renovasi, khususnya pada bagian teras depan gedung. Sempat pula ada pergantian genteng, yang khusus didatangkan dari Belanda.

Kini bangunan teras itu berdiri kokoh dengan enam tiang batu bata. Berbeda saat pertama kali dibuat yang hanya disangga kayu. Seluruh tembok gedung dicat putih, dengan ornamen pintu dan jendela yang masih tetap dipertahankan sejak awal dibangunnya gedung. YLCC hingga kini aktif mengundang semua keturunan marga bekas budak Chastelein untuk merayakan hari jadi Depok yang mereka anggap jatuh pada 28 Juni.

Asal tahu saja, tanggal itu pun merupakan hari meninggalnya presiden mereka, Cornelis Chastelein. Menurut Ferdy Jonathans, koordinator aset dan sejarah YLCC mengatakan, pada 2016 ini pihaknya akan merayakan ulang tahun Depok lebih besar dan meriah. “Masyarakat luas harus tahu sejarah bahwa Depok sudah berusia lebih dari 300 tahun,” kata Ferdy.

Tentang Chastelein sendiri, awalnya warga negara Belanda yang bekerja untuk pihak Kompeni (VOC). Chastelein datang ke Indonesia pada Januari 1675 saat usianya 17 tahun. Ia saat itu pun sudah menempati kedudukan cukup penting di VOC. Tidak bertahan lama, setelah bekerja selama empat tahun, karena pergantian kepemimpinan di tubuh VOC, Chastelein mengundurkan diri. Pemimpin yang baru dianggapnya kasar, berangasan dan cenderung kejam, terutama terhadap pribumi.

Cornelis lalu membeli banyak bidang tanah di Batavia, seperti wilayah Jatinegara, Gambir, Senen, Kampung Melayu, Mampang hingga seluruh wilayah Depok. Luas tanah di Depok yang dibelinya sekitar 1.244 hektare. Lalu Cornelis mengolah tanah Depok untuk kawasan persawahan. Ia membawa sekitar 150 orang yang dijadikan budak untuk mengurus semua lahannya di Depok.

Budak-budak tersebut didapatnya dari wilayah Jawa, Bali hingga Sulawesi. Meski disebut budak, perlakuan Chastelein kepada budak-budaknya itu sangat manusiawi. Semua budaknya diperintahkan untuk bercocok tanam. Tak hanya itu, Chastelein juga membentuk karakter para budak itu menjadi mandiri. Hasil pertanian pun ia bagi. Kemana-mana Chastelein menunggang kuda, termasuk mengunjungi pusat kota Batavia, Kota Tua saat ini. Karena jarak perjalanan yang jauh, ia mendirikan pos-pos pergantian kuda di beberapa tempat.

Pos-pos itu disebut Pancoran, karena selalu adanya pancuran air untuk minum kuda. Karena itulah, hingga kini ada beberapa pancoran di Jakarta dan Depok, yakni Pancoran (dekat Tebet), Pancoran Mas (di Depok), serta Pancoran Glodok di wilayah kota.

Cornelis juga membentuk mereka semua menjadi 12 marga. Marga tersebut diambil dari lima nama surat pada Injil dan tujuh marga lokal buatannya: Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense dan Zadokh. Ferdy Jonathans yang mengurusi bidang sejarah di Yayasan-Lembaga Cornelis Chestelein di Depok, mengatakan, dari 12 marga tersebut, Zadokh sudah hilang karena keturunannya tak ada laki-laki. Saat ini keberadaan keturunan pria Zadokh sedang dicari, bahkan hingga ke luar negeri.

Source https://sportourism.id https://sportourism.id/history/gedung-ylcc-tempat-presiden-depok-mengurus-tanah-dan-budaknya
Comments
Loading...