Gedung Setan Surabaya

0 80

Gedung Setan Surabaya

Bagaimana rasanya hidup di dalam ‘gedung setan’? Terlintas pertanyaan itu akhirnya mengantarkan Basra untuk berkunjung ke sebuah gedung di Jalan Banyu Urip Wetan 1A No. 107 Surabaya. Warga kota pahlawan mengenal gedung ini sebagai ‘Gedung Setan’. Seperti apa suasana di dalamnya?

Gedung Setan sebenarnya merupakan gedung bekas Kantor Gubernur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Jawa Timur yang berdiri sejak tahun 1809. Setelah VOC bangkrut dan meninggalkan Indonesia, gedung ini dimiliki oleh Dokter Teng Sioe Hie.

Dokter Teng Sioe Hie tidak menggunakan gedung tersebut untuk tempat tinggal. Sebab, seiring kepergian VOC, lahan kosong di kanan-kiri gedung dijadikan tempat pemakaman Tionghoa.

Menurut Sutikno Djijanto, Ketua Pengurus ‘Gedung Setan’ saat ini, asal-usul penyebutan ‘Gedung Setan’ bermula dari lokasi gedung yang berada di tengah area pemakaman Tionghoa.

“Dulu gedung ini berdiri di tanah seluas 7.342 meter persegi. Setelah VOC bangkrut, area sekitar gedung jadi tempat pemakaman Tionghoa. Gedung ini dipakai untuk tempat sembahyang keluarga Tionghoa yang anggota keluarganya dimakamkan di sekitar sini. Karena area pemakamannya luas, dan ini satu-satunya gedung yang ada jadi masyarakat mikirnya ini gedungnya setan-setan,” kata Sutikno saat ditemui Basra.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya di tahun 1948, ‘Gedung Setan’ mulai dijadikan tempat pengungsian masyarakat Tionghoa dari pelosok Jawa Timur dan Jawa Tengah. “Saat itu warga Tionghoa belum aman keadaannya. Mereka tinggal di gedung ini sampai beberapa tahun. Perlindungan mereka juga dijamin,” cerita Sutikno.

Setelah kondisi cukup aman, barulah ada warga Tionghoa yang memutuskan kembali ke daerahnya dan ada juga yang tetap menetap di ‘Gedung Setan’.

“Jadi yang tinggal di sini adalah generasi keempat pengungsi Tionghoa tahun 1948. Kalau tidak ada garis keturunan dari pengungsi 1948, tidak bisa tinggal di sini,” kata Sutikno.

Kondisi ‘Gedung Setan’ memang masih kokoh berdiri. Maklum, ketebalan temboknya saja hampir 50 sentimeter.

Akan tetapi, suasana di dalam ‘Gedung Setan’ tak seperti rumah indah yang nyaman pada umumnya. Gedung ini terdiri dari 40 ruang yang dijadikan kamar. Kamar Sutikno sendiri berukuran 3×6 meter. Dinding-dindingnya dipenuhi sarang laba-laba dan debu, serta atap kayunya mulai lapuk. Meski begitu, anak-anak penghuni ‘Gedung Setan’ merasa nyaman tinggal di dalamnya.

Usia ‘Gedung Setan’ yang sudah mencapai 2 abad, membuatnya masuk dalam kategori bangunan cagar budaya. Meski begitu, kata Sutikno, Pemerintah Kota Surabaya tak bisa ikut merevitalisasi.

“Menurut Peraturan Daerah tentang bangunan cagar budaya hanya aset-aset negara yang bisa diperbaiki. Gedung ini kan dulunya milik pribadi. Jadi tidak bisa,” kata Sutikno.

Pun demikian, baik Sutikno maupun warga lainnya, masih setia tinggal di gedung tua ini. Untuk kamar mandi, warga biasa menggunakan kamar mandi bersama. Iuran warga pun relatif murah hanya Rp 15 ribu per bulan untuk setiap kepala keluarga.

Iuran inilah yang digunakan Sutikno untuk membayar listrik jalan, PBB, dan memberikan uang santunan bila ada warga meninggal dunia.

Source https://kumparan.com https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/kisah-anak-anak-penghuni-gedung-setan-surabaya-1qzefA4zVIg
Comments
Loading...