Gedung RRI Surabaya

0 42

Gedung RRI Surabaya

Gedung RRI Surabaya merupakan salah gedung bersejarah di Kota Surabaya, khususnya pada periode revolusi kemerdekaan. Gedung RRI Surabaya dengan kotak-kotak warna-warni pada tembok luarnya yang berisi tulisan RRI PRO 1 sampai dengan PRO 4, dilihat dari areah pusat jajanan rakyat murah di sekitar selasar Plaza Surabaya yang masih basah oleh genangan air hujan. Tak terlihat lagi sebagai sebuah gedung tua antik, namun mencerminkan perjuangan RRI agar tetap hidup di jaman yang perubahannya sangat cepat.

Gedung RRI Surabaya menunjukkan upaya kreatif awaknya agar RRI bisa bertahan ditengah gempuran sihir acara-acara TV swasta, TV kabel, media sosial, media online, radio dan video streaming, dan tersedianya gadget untuk mengaksesnya. Kini semakin sulit menemukan radio di rumah-rumah, terutama pada kelas menengah dan atas. Jika pun ada maka sudah jarang dihidupkan.

Menara pemancar radio yang ketinggian dan besarnya menara dulu menjadi simbol kekuatan daya pancar, dan kekuatan finansial pemilik radionya. Orang jaman sekarang mungkin sudah jarang mendengar istilah SW, MW dan AM, namun FM sepertinya masih dikenal luas karena sejumlah merk gadget menyediakan fitur radio FM yang hanya bisa didengarkan dengan menggunakan ear phone.

FM adalah kependekan dari Frequency Modulation yang ditemukan pada tahun 1933 oleh Edwin Armstrong, seorang insinyur Amerika. AM adalah kependekan dari Amplitudo Modulation yang berkembang pesat sejak tahun 1920-an dan merajai masa jaya radio selama 30 tahun dengan menggunakan transmisi MW Band (medium wave band), juga LW (longwave) dan SW (shortwave). Selanjutnya radio FM mendominasi pasar karena kejernihan suaranya, hingga pelan tapi pasti radio streaming mulai membunuhnya.

RRI Surabaya, sebagaimana RRI dan radio swasta nasional lainnya, harus berjuang keras setelah munculnya stasiun TV swasta, dan kemudian TV Kabel, dengan berbagai acara yang menyerobot perhatian pendengarnya. Kini radio semakin tertekan dengan munculnya ribuan situsweb yang menyedian siaran radio streaming dengan kualitas suara sangat baik, dan tidak membutuhkan biaya operasional besar sebagaimana radio konvensional. Jaman memang selalu berubah.

Sebuah sudut pandang ke Gedung RRI Surabaya dilihat dari jembatan penyeberangan di atas Jalan Pemuda. Warna-warni Gedung RRI Surabaya membuatnya terlihat menjadi muda dan terkesan trendy, sebuah upaya yang dilakukan RRI untuk melakukan segmentasi para pendengarnya dan agar tetap relevan dengan perubahan serta tuntutan zaman.

Yang mungkin orang tak banyak tahu, termasuk warga Surabaya, adalah bukan saja Gedung RRI Surabaya menjadi bagian Sejarah RRI dan sejarah radio perjuangan yang berperan besar dalam menggalang dan mengobarkan semangat perjuangan semasa revolusi fisik dan mewartakan kepada dunia, namun ada peristiwa heroik yang pernah terjadi di sini.

Gedung RRI Surabaya menjadi saksi langsung pengorbanan nyawa rakyat pada awal kedatangan Pasukan Inggris di Surabaya, yang bukan saja bertujuan melucuti tentara Jepang, namun juga menduduki tempat penting di Surabaya guna melapangkan jalan bagi berkuasanya kembali Belanda di satu-satunya kota besar yang masih dikuasai republik.

Tugu prasasti peringatan yang ditulis dalam dua bahasa terlihat berada di luar tembok pagar Gedung RRI Surabaya. Tugu ini menceritakan pertempuran hebat heroik yang pernah terjadi di gedung ini antara tentara Sekutu yang berada di bawah komando Jendral Mallaby melawan para pejuang dan pemuda Surabaya yang rela mati daripada dijajah kembali.

Tugu prasasti Gedung RRI Surabaya itu berbunyi: “Karena fungsinya yang penting maka Gedung RRI Surabaya ini diduduki oleh pasukan Jendral Mallaby. Pada pertempuran 28-30 Oktober 1945 banyak korban rakyat jatuh. Tanggal 29 Oktober 1945 gedung ini dibakar habis dan tidak seorang pun pasukan Inggris di sini lolos dari kemarahan rakyat.

Memoir Roeslan Abdulgani itu menyebutkan pada 28 oktober jam 14.15 sekitar 35 tentara Gurkha dipimpinan mayor Inggris menduduki studio RRI di Simpang. Tentara Gurkha kemudian mengepung rumah Pimpinan Umum RRI Sukirman yang ada di belakang studio dengan stelling tempur. Sukirman lalu dibawa ke studio dan semua pegawai disuruh pulang. Pendudukan Gedung RRI Surabaya segera tercium oleh pemuda pejuang, apalagi Pasukan Gurkha menembaki orang-orang yang lewat di depan gedung. Rakyat yang mengepung gedung dan kurang persenjataan segera menghubungi markas PRI, Markas Polisi Istimewa dan lain-lain, meminta bantuan pasukan bersenjata. Akhirnya meletus bentrokan bersenjata.

Banyak jatuh korban dipihak rakyat karena minimnya pengalaman tempur dan senjata. Sekitar jam 18.00 hari itu, mayor Inggris keluar dari gedung naik jip untuk kembali ke markasnya. Lolos dari kepungan rakyat, di depan Markas Pemuda Republik Indonesia (kini Balai Pemuda) ia dicegat para pemuda. Opsir itu tewas tebunuh dan jipnya dirampas. Pertempuran berlanjut sampai jauh malam. Senin pagi 29 Oktober 1945, tembak menembak di gedung Radio Surabaya terjadi lagi. Polisi Istimewa mengirimkan satu panser dari markas Coen Boulevard dikendarai Luwito, Wagimin, dan Sutrisno. Karena banyak korban tewas bergelimpangan di jalan, panser datang dari arah barat dengan hati-hati.

Panser Polisi Istimewa mendapat brondongan tembakan dari atas gedung RRI. Panser berputar dan senapan mesin watermantel 7,7 memuntahkan tembakan ke jendela tempat pasukan Gurkha bersembunyi, namun mereka membalas tembakan. Luwito turun dari panser dan meminta para pemuda yang stelling di depan gedung menyingkir ke samping gedung. Wagimin membawa panser merapat gedung untuk menghindari granat musuh. Sutrisno mengawasi, melindungi teman-temannya. Mereka mengambil dua jerigen bensin cadangan dari panser, tutupnya dibuka dan dilemparkan ke lantai. Wagiman membawa panser menjauh, dan granat yang dicabut pennya dilemparkan. Granat meledak, dan gedung terbakar hebat.

Akhirnya sekitar 10 orang tentara Gurkha keluar dari kepulan asap, menyandang senjata sambil mengangkat tangan tanda menyerah. Namun mereka disambut pasukan rakyat dengan amukan, dibantai hingga tewas. Semua pasukan Gurkha yang menduduki Gedung Radio Surabaya tewas terbakar atau diamuk rakyat, namun Sukirman bisa lolos dan selamat. Memoir Roeslan Abdulgani baiknya diingat saat lewat Gedung RRI Surabaya, sejenak hening cipta, membaca al-fatihah. Baik juga mampir ke www.rri.co.id, lihat menu di bawah, pilih RRI Surabaya dari drop-down menu, dan pilih program untuk mendengarkan siaran lewat radio streaming. Semoga RRI setia dengan semboyan “sekali di udara tetap di udara”.

Source https://www.aroengbinang.com https://www.aroengbinang.com/2018/05/gedung-rri-surabaya.html
Comments
Loading...