Gedung NIMEF Kudusan Tempat Cetak ORI

0 186

Gedung NIMEF Kudusan Tempat Cetak ORI

Sepenggal kisah pejuang melawan kolonial Belanda tersimpan di sebuah gedung tua di Jalan Agus Salim 48, Kelurahan Sukoharjo, Klojen. Gedung putih dengan tiga lantai yang kini berdampingan dengan pusat pertokoan dan Malang Plasa itu dulu sempat digunakan sebagai tempat mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI).

Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Agung H Buana mengatakan, gedung putih tiga lantai berwarna putih itu dulunya bernama NIMEF. “Itu kepanjangan Nederlands Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken, disingkat NIMEF, pindahan dari Kendalpayak pada era penjajahan,” kata Agung kepada Malang Post kemarin.

Sebelum menempati gedung itu, NIMEF pernah berdiri di Desa Kendalpayak, sekitar tahun 1920-an. NIMEF, didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda, sebagai tempat percetakan kertas untuk koran maupun pamflet propaganda penjajah zaman dahulu. Namun, tak lama kemudian, NIMEF berpindah dari Kendalpayak ke Jalan Agus Salim 48 Kelurahan Sukoharjo.

“Pada siang hari, diduga NIMEF menjalankan percetakan seperti biasa, namun, malam harinya mencetak ORI,” kata Agung yang juga Kasi Pemasaran di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang itu.

Pascakemerdekaan, tahun 1945, NIMEF di Kota Malang, dipilih sebagai tempat kedua untuk mencetak Oeang Republik Indonesia, selain di Jakarta.

Karena kondisi negara yang masih belum stabil, ORI dicetak malam hari, sedangkan siang harinya, percetakan beroperasi seperti layaknya percetakan biasa. Uang pecahan ORI yang dicetak oleh NIMEF adalah 1, 5, 10 ORI dan 50 sen. Disusul kemudian, pecahan 1, 5, 10 dan 100 rupiah.

“ORI yang disebut uang putih, menjadi simbol perlawanan terhadap Belanda. Karena, setelah merdeka, uang Belanda yang berwarna merah masih beredar. Dengan memakai ORI, masyarakat Indonesia dan Kota Malang ingin menurunkan nilai uang Belanda hingga tak ada harganya,” sambung Agung.

NIMEF menggunakan mesin potong seybold precision buatan Amerika, dengan motor listrik kapasitas daya 1 KW. Uang yang bisa dipotong oleh mesin ini berukuran 500 x 900 milimeter. Tak lama setelah merdeka, mesin-mesin cetak di NIMEF, dibawa ke Jogjakarta untuk pemusatan percetakan ORI. Tahun 1947, NIMEF termasuk gedung bersejarah yang dibakar saat agresi militer Belanda merambat ke Kota Malang.

“Sekarang, gedung berwarna putih dengan tiga lantai itu jadi kompleks tempat usaha. Ornamen khasnya masih terlihat dari eksterior kolonial yang berada di antara dinding-dinding sempit bangunan itu. Bentuknya juga kubus, dengan atap yang datar, tapi dengan jumlah jendela yang bnayak di kedua sisi.

Source https://www.malang-post.com https://www.malang-post.com/berita/kota-malang/gedung-nimef-kudusan-tempat-cetak-ori
Comments
Loading...