Gedung Marabunta, Eksotisme Semut Raksasa

0 199

Gedung Marabunta Semarang memang paling unik dibanding gedung-gedung kuno di area Kota Lama Semarang. Pada bangunan Gedung Marabunta Semarang ini terdapat dua patung Semut Merah Raksasa “BESAR” (orang Semarang menyebutnya Semut Geni) di bagian atapnya masing-masig terletak di pojok atas.

Gedung Marabunta semula bernama Schouwburg didirikan pada tahun 1854 terletak di jalan Cedrawasih 23 Semarang Jawa Tengah. Dulu gedung ini digunakan untuk gedung pertunjukkan opera dan cafeteria. Jaman itu, keluarga2 Belanda di Semarang menghabiskan akhir pekannya bersama keluaarga atau teman-temannya. Mereka senang dengan opera sabun, tari Ballet atau hanya sekedar pertunjukan music saja.
Mengapa dari nama Schouwburg berubah menjadi Marabunta?
Pemberian nama Marabunta berasal dari Patung Semut yang terdapat di atap bangunan tersebut, karena Marabunta mengandung arti “Semut Merah Besar”. Pada awalnya gedung ini sering digunakan sebagai tempat pertunjukan seni tingkat nasional yang diselenggarakan secara rutin sebulan sekali.,  bahkan pernah juga dipakai tempat pertunjukan seni kelas Internasional.
Pada masa kejayaannya, Gedung Marabunta oernah dipakai untuk mementaskan seorang penari cantik yang bernama Margaretha Geertruida (Grietje) Zelle yang pada saat itu waktu diatas panggung menggunakan nama Mata Hari. Wanita tersebut sangat terkenal, karena dia pernah menjadi Spionisme (mata-mata) Jerman pada saat Perang Dunia I. Margaretha sendiri lahir di Belanda pada tanggal 7 Agustus 1876 dan dia melepas masa lajangnya menikah dengan Mayor Rudolph Mc Leod seorang perwira KNIL Hindia Belanda.
Yang lebih mengejutkan dari Margaretha adalah sepak terjangnya di dunia mata-mata, bahkan negara Perancis pun pernah mencoba menarik Margaretha untuk menjadi Siponisme dia dengan iming-iming gaji 1 juta frank pada saat itu. Malang pula baginya dunia spionisme lah yang menuntunnya ke kematian. Margaretha dijatuhi hukuman mati pada 15 Oktober 1917.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, fungsi Gedung Marabunta sebagai tempat pertunjukan seni pun berhenti hingga tahun 1956. Dan pada awal tahun 1956 yayasan Empat Lima yang salah satu anggotanya adalah Presiden Soeharto bersama dengan Supardjo Rustam memperbaiki bangunan ini. Pada tahun 1995, yayasan Empat Lima yang mereka bentuk itu berubah nama menjadi Yayasan Kodam dan memperbarui bangunan ini dengan membagi dua bagian.
Source Gedung Marabunta, Eksotisme Semut Raksasa kompasiana
Comments
Loading...