Eks Kantor Pos Kalianda Saksi Bisu Letusan Krakatau 1883

0 119

Eks Kantor Pos Kalianda Saksi Bisu Letusan Krakatau 1883

Kota Lama Kalianda Kabupaten Lampung Selatan merupakan salah satu kawasan menarik untuk disusuri. Bangunan bangunan kuno yang masih utuh berdiri kini sebagian berubah fungsi menjadi bangunan fungsional yang masih dipertahankan keasliannya di antaranya bangunan Hotel Way Urang Kalianda, Hotel Beringin Kalianda serta beberapa bangunan lain yang sudah berusia ratusan tahun seolah menjadi saksi bisu perkembangan kota Kalianda kini.

Jejak kota Kalianda bahkan tak bisa dilepaskan dari bencana letusan Gunung Krakatau dahysat yang terjadi pada 27 Agustus 1883 silam. Setelah 133 tahun letusan dahsyat kini Gunung Krakatau masih tetap dikunjungi oleh wisatawan. Sebagian tokoh di Kalianda menyebut peristiwa letusan Gunung Krakatau tersebut yang mengakibatkan banjir besar (tsunami) dengan Klebug (Belebug).

Di antara kawasan yang dilanda bencana adalah wilayah perkampungan kota lama Kalianda. Sebagian generasi penerus di kota Kalianda mendengar kisah tersebut dalam tradisi lisan dari para orangtua termasuk kisah pengungsian ke lereng lereng Gunung Rajabasa akibat sapuan terjangan gelombang yang dikenal dengan banjir besar tersebut. Hingga kini Gunung Krakatau setelah lenyap dan hilang dan membentuk kubah baru yang dikenal dengan Gunung Anak Krakatau terus meninggi sejak tahun 1928.

Salah satu bukti penanda keberadaan dan kedahsyatan Krakatau tersebut berada pada setiap genteng atap salah satu bangunan tua di Jalan Pratu M.Yusuf No.97. Bangunan itu bersebelahan dengan bangunan Vihara Dharma Sasana yang terletak di Jalan Pratu M.Yusuf No.98 adalah saksi bisu jejak jejak Krakatau.

Sang penjaga sekaligus pegawai PT Pos Indonesia yang kini menempati bangunan tua tersebut, Maskun (43) menuturkan bangunan tersebut bisa menjadi bukti otentik tentang peristiwa bersejarah 1883. Dalam genteng yang memiliki cetakan tersebut bahkan menunjukkan bulan dan angka tahun beberapa bulan sebelum letusan dahsyat Gunung Krakatau terjadi.

Indah Marhiyana (33) menunjukkan genteng yang disimpan dengan tulisan cetakan berbahasa Belanda.
Maskun saat ditemui Cendana News bahkan menunjukkan salah satu genteng dari semua genteng yang ada di bangunan tua tersebut. Sebagian besar genteng yang diperkirakan mencapai ratusan ribu meliputi genteng pada bangunan utama, genteng pada bagian gudang serta pada bagian belakang sebagian besar merupakan genteng cetakan.

Angka angka yang tercetak seperti angka : 6/4 di bawah tulisan STOOM-PANNEN FABRIEK VAN ECHT dan di bagian bawah dengan angka 18 di bagian kiri dan 83 di bagian kanan yang secara harafiah berdasarkan penelusuran Cendana News merupakan sebuah hal lazim dalam pembuatan bagian konstruksi bangunan zaman pemerintah Hindia Belanda.

Salah satu tulisan yang nyaris sama di antaranya: Eeen Andere oude dakpannenfabriek was Stoompannenfabriek Echt deze werd opgreiccht in 1883 yang bermakna genteng tersebut diroduksi pada 4 Juni 1883. Itu artinya genteng itu baru saja keluar pabrik ketika letusan terjadi.

Tidak disebut genteng tersebut dicetak di mana namun berdasarkan penelusuran Cendana News dengan merujuk kata Stoompannenfabriek Van Echt genteng sejenis masih diproduksi di tempat pembuatan genteng di negeri Belanda tepatnya di Kloostestraat 18 4611 MC Bergen op Zoom Netherlands seperti termuat dalam laman www.traditec.com.

Meski belum terbukti kaitan sejarah pabrik pembuatan genteng sejenis genteng yang ada di bangunan Kantor Pos Lama Kalianda namun merujuk pada kesamaan tulisan sejarah asal genteng tersebut bisa ditelusuri. Makmun pun mengaku tak bisa memastikan dari mana asal genteng tersebut apakah langsung didatangkan dari Belanda atau diproduksi di Indonesia namun ia memastikan genteng tersebut sudah pasti buatan Belanda karena memiliki tingkat keawetan yang tinggi. Bahkan hingga tahun 2016 ini menurut Maskun tak ada satupun genteng yang rusak akibat cuaca.

“Genteng yang berangka tahun 1883 ini lengkap dengan tanggal dan bulannya rata rata rusak karena jatug dari ketinggian dan menimpa batu padas, tapi kalau jatuh di tanah jatuh pun tidak pecah, masih utuh dan saya simpan,”ungkap Maskun saat ditemui Cendana News Jumat (30/12/2016) di gedung eks Kantor Pos Kalianda yang kini dijadikan tempat tinggal dirinya dan sang isteri bersama beberapa orang anaknya.

Makmun begitu antusias mengisahkan perjalanan historis bangunan tua yang beberapa kali mengalami perubahan fungsi tersebut. Ia bahkan mengakui gedung di lahan seluas kurang lebih 60×40 meter dengan pagar tembok keliling di bagian belakang dan di depan dengan tembok semen dan besi tersebut masih kokoh berdiri. Berada di Jalan Pratu M.Yusuf Lingkungan III Kelurahan Kalianda semula bangunan tersebut merupakan kantor perwakilan pemerintah sebab saat itu Kantor Pos Kalianda terletak di Desa Banding.

Yang berada beberapa puluh kilometer dari kota Kalianda. Meski sebagian sudah lapuk namun bentuk bangunan asli dengan ciri khas panggung sebagai bangunan utama, sekitar 6 ruang di bagian belakang yang berfungsi sebagai kantor serta tempat penyimpanan arsip masih kokoh berdiri. Jenis kayu merbau yang cukup awet diduga menjadi penopang kantor pos lama tersebut masih berdiri hingga sekarang.

Maksun mengaku tinggal di sebelah gedung eks kantor pos tersebut sejak dirinya berusia belasan tahun. Gedung eks kantor pos tersebut ungkapnya merupakan bangunan untuk pemerintahan yang selanjutnya digunakan sebagai kantor untuk urusan administrasi tentara kala itu sebelum dialihfungsikan menjadi kantor pos. Hingga akhirnya pada 1983 gedung tersebut menjadi pusat pebendaharaan untuk menyimpan dokumen dokumen penting, resmi milik pemerintah yang akan dikirim ke daerah Lampung maupun ke wilayah Lampung dimana kala itu Pelabuhan masih ada di Panjang.

Dari kejauhan gedung eks kantor pos tersebut terlihat kokoh dengan dua buah pintu utama di bagian kiri dan kanan lengkap dengan tangga terbuat dari semen. Semula pada bagian kolong terlihat dari depan bahkan masih utuh namun kini ditutup dengan semen untuk semakin menopang struktur bangunan yang diperkirakan berusia ratusan tahun tersebut merujuk pada genteng yang dibuat pada tanggal 4 Juni 1883.

Selain mengajak melihat kondisi bangunan utama dengan genteng yang masih utuh meski ditopang kusen kusen dan balok balok kayu yang mulai rapuh, Maksun mengajak menengok beberapa ruangan di belakang masih tetap kokoh berdiri sesuai aslinya pada saat berdiri. Beberapa ruangan di bagian belakang bangunan terdiri dari ruang penyimpanan arsip lengkap dengan meja untuk penulisan surat serta beberapa ruangan termasuk kamar mandi dan water closed (WC).

Isteri Maskun yang bernama Indah Marhiyana (33) bahkan sempat memperlihatkan setiap jengkal demi jengkal ruangan dengan pintu pintu besar, jendela besar berengsel besi yang nyaris tak pernah mendapat perbaikan sejak berdiri. Pada bangunan utama lantai terbuat dari kayu yang masih dipertahankan melengkapi dinding dinding kayu berwarna putih yang mulai rapuh, namun pada bagian belakang sebagian digunakan untuk menyimpan genteng genteng yang berjatuhan karena bagian penyangga kayu sudah lapuk.

Ruangan ruangan tersebut menjadi penyimpanan arsip menjadi pelengkap sejarah bahwa bangunan bangunan tersebut digunakan bagi para kantor administrasi pada 1970-an dan tetap dibiarkan seperti aslinya. Selain itu Maskun mengaku perhatian dari PT Pos Indonesia yang kala itu masih bergabung dengan PT Pos dan Telekomunikasi di Bandung pun pernah mengadakan peninjauan. Selain dari kantor Bandung, kantor pos wilayah Palembang (kala itu Sumatera Bagian Selatan) dan Bandarlampung bahkan sempat melakukan peninjauan.

“Setiap datang ke sini beberapa petugas rata rata mengambil dua genteng berangka tahun 1883 tersebut sebagai bukti sehingga beberapa genteng memang sebagian pecah dan sebagian dibawa ke Bandung, Bandarlampung dan Palembang,”terang Maskun.

Digunakan sebagai kantor administrasi tentara selanjutnya dialihfungsikan menjadi kantor pos pada sekitar 2000 membuat bangunan tersebut masih tetap terawat. Namun semenjak tahun 2009 ia mengaku Jalan Pratu M.Yusuf yang mulai sepi dan jarang dilintasi membuat kantor pos mencari lokasi lain yang lebih strategis di dekat kawasan pasar Inpres Kalianda.

Maskun yang bertugas sehari hari kini sebagai pengantar surat di PT Pos Indonesia bersama Sukrowadi menuturkan bangunan tua yang merupakan peninggalan Belanda tersebut mulai menjadi kantor pos sejak tahun 1983. Kala itu kepala kantor pos setelah dialihkan dari kantor adminiastrasi dikepalai oleh Abdul Rani. Sukrowadi bahkan menjadi salah satu pegawai yang bekerja kala itu.

Sebagai aset milik PT Pos dan Telekomunikasi Indonesia yang berkantor di Jalan Cilaki 73 Bandung Jawa Barat hingga kini aset tersebut masih belum mendapat perhatian. Namun pada zaman Bupati Dulhadi kala itu ungkap Maskun,pengelolaan sempat dibantu oleh pemerintah daerah tingkat II (Dati II) Lampung Selatan baik biaya perawatan maupun bagi penjaga untuk merawat bangunan tersebut. Namun kini sebagai aset milik PT Pos dan PT Telekomunikasi Indonesia bangunan tersebut nyaris belum mendapat upaya perbaikan.

Menurut Maskun, PT Pos Indonesia sendiri telahberpindah dua kali di Jalan Raden Inten atau dikenal dengan kota baru telahmemiliki aset dengan bangunan dan tanah sendiri. Namun Maskun mengaku akan tetap menjaga aset tersebut meski PT Pos Indonesia telah memiliki bangunan baru. Bersama sang isteri, Indah Marhiyana serta anak anaknya, sang ayah Saadi (82) bahkan tetap tinggal di bangunan tersebut.

Saadi masih bisa mengisahkan aktivitas di kantor pios tersebut dan kesibukan yang terjadi kala itu meski dirinya bukan pegawai di kantor pos tersebut. Meski sudah lanjut usia ia bahkan masih menunjukkan setiap ruangan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan arsip serta ruangan untuk pengetikan surat surat. Bangunan yang kokoh berdiri tersebut bahkan kini menyisakan sejarah dan menjadi saksi bisu kota Kalianda dimana lokasi sekitar eks kantor pos merupakan kota lama Kalianda. Seiring perkembangan zaman muncul kota baru Kalianda tepat di mana bangunan kantor pos baru berdiri hingga kini.

Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/12/eks-kantor-pos-kalianda-saksi-bisu-letusan-krakatau-1883.html
Comments
Loading...