De Javasche Bank Bandjermasin

0 137

De Javasche Bank Bandjermasin

Kota Banjarmasin masih menyimpan memori keberadaan bank yakni De Javasche Bank Bandjermasin. Walaupun bangunannya sudah tidak ada lagi, tetapi banyak cerita di balik bangunan yang dirancang arsitek Cuypers dan A.A. Fermont ini. Bangunan ini diresmikan tahun 1923 dengan alamat resmi di jalan de Resident de Hans, Bandjermasin. Sekarang, tepatnya di Gedung Bank Indonesia, Jalan Lambung Mangkurat, Banjar-masin. Menurut catatan dalam The Directory & Chronicle for China, etc, tahun 1912 bank cabang Banjarmasin ini dipimpin direktur bernama W. Jolles.

Arsitek Cuypers dan A.A. Fermont yang merancang-bangun gedung De Javasche Bank Bandjermasin, ternyata cukup piawai. Dari deretan bangunan gedung cabang De Javasche Bank yang dibangun pasca tahun 1920, Gedung di Banjarmasin terbilang unik.Dari lima cabang di kota Banjarmasin/ Bandjermasin (1922), Pemantang Siantar (1923), Padang (1924), Pontianak (1924) dan Kediri(1927), pembangunan De Javasche Bank Banjarmasin memiliki teknik pembangunan khusus. Alasannya, gedung ini harus mampu berdiri megah dan kokoh di atas lahan rawa yang labil.

Sementara tiga kota lainnya tempat De Javasche Bank didirikan berada di Manado, Palembang dan Semarang. Akan tetapi dari perbandingan beberapa sumber lainnya disebutkan bahwa kantor cabang De Javasche Bank juga dibangun di Pasuruan, Bengkalis, Malang, dan Tanjungbalai/Tandjoengbalai.

Dalam laporan Verslag van den President van de Javasche Bank en van den Raad van Commissarissen (1936), pada awalnya pembangunan gedung-gedung De Javasche Bank di Hindia Belanda sejak tahun 1910, ditangani agensi Arsitek Ed. Cuypers en Hulswit. Pada saat itu, Eduard Cuypers beserta Marius J. Hulswit, merupakan agensi arsitektur terbesar di Hindia Belanda, yang disebut Agensi Hulswit-Fermont, Batavia and Cuypers, Amsterdam. Pembangunan gedung de Javasche Bank dengan sistem kontrak berdurasi 25 tahun. Artinya, pembangunan gedung akan dibangun biro ini berlaku sejak tahun 1910 hingga 1935.

Sayang, M.J. Hulswit meninggal dunia pada 1921, sehingga pengerjaan gedung De Javasche Bank dan kantor cabangnya, dilanjutkan agensi arsitek Cuypers yang baru. Dalam agensi ini Cuypers bekerjasama dengan A.A. Fermont bernaung di bawah Naamloze Vennootschap (NV) Architecten Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam atau Agensi Fermont-Cuypers.

Ciri khas lainnya gedung De Javasche Bank Bandjermasin, memiliki ciri arsitektur yang beragam dari bentuk atap bangunan yang menyerupai atap rumah Joglo/limasan. Gedung-gedung tersebut menjadi unik karena mengkombinasikan arsitektur bergaya Eropa dan lokal. Gaya inilah yang dominan pada bangunan Hindia Belanda yang digarap setelah tahun 1920. Djoko Sukiman menyebutnya dengan arsitektur Indis.

Arsitektur Indies adalah hasil asimilasi atau campuran dari unsur-unsur budaya Barat, terutama Belanda, dengan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Bentuk rumah bergaya lndies sepintas tampak seperti bangunan tradisional Jawa dengan atap berbentuk joglo/limasan.

Dari luar, bangunan bergaya Indies memiliki bentuk yang simetris. Ritmenya vertikal dan horisontal yang seimbang dengan konstruksi bangunan yang disesuaikan dengan iklim tropis. Dinding arsitektur Indies terkesan kokoh namun membe-rikan kesejukan, dimensi ruangan yang besar, jendela berukuran besar untuk penerangan cahaya alami yang cukup dan aliran udara yang lancar.

Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkanto-ran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda di Banjarmasin, memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouw-kunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan gaya rumah lokal.

Nadia Purwestri (2012) memaparkan, cikal bakal Kantor Bank Indonesia di Banjarmasin, adalah De Javasche Bank Banjar-masin yang berdiri pada tanggal 1 Agustus 1907. Bank ini sebagai kantor cabang De Javasche Bank yang ke 15. Walau-pun demikian, diduga belum memiliki gedung permanen sehingga diusulkan pembangunan gedung baru. Sayang, 16 tahun kemudian baru terwujud. Dalam periode tahun 1923 De Javasche Bank memang mengalami perkembangan pesat. Selain kantor pusatnya di Batavia, De Javasche Bank telah memiliki kantor cabang, yaitu Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Kediri, Kutaraja, Medan, Padang, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, dan Manado. Kemudian terdapat beberapa kantor lainnya diluar negeri seperti Amsterdam, Belanda, dan New York, Amerika Serikat.

Dalam kurun waktru 1907-1923, De Javasche Bank berfungsi sebagai bank sirkulasi. Namun dalam prakteknya juga bergerak di bidang komersial seperti menerima deposito, memberikan kredit, mengaksep wesel, melakukan jual beli emas dan perak batangan. Fungsi ganda ini menyebabkan De Javasche Bank selalu mempertimbangkan prospek usaha di wilayah yang akan dimasukinya, sebagai dasar pertimbangan pengembangan wilayah operasi, termasuk pada waktu membuka kantor cabangnya di Banjarmasin.

Gedung De Javasche Bank Banjarmasin yang baru, diresmikan pada tahun 1923. Setahun setelah terbitnya aturan Bankwet 1922. Adapun tugas tugas De Javasche Bank di Banjarmasin adalah mengeluarkan uang kertas, memperdagangkan logam mulia dan alat-alat pembayaran luar negeri. Kemudian, mem-berikan kredit kepada perusahaan dan perseorangan, membe-rikan uang muka kepada perusahaan-perusahaan dengan jami-nan surat-surat berharga atau barang dagangan.

Selanjutnya, bertindak sebagai kasir pemerintah dan membe-rikan uang muka jangka pendek kepada Pemerintah Hindia Belanda sampai sejumlah 6 juta gulden tanpa bunga. Terakhir menyelenggarakan kliring antarbank. Sejak diberlakukannya Bankwet 1922 hingga masa datangnya kekuasaan Jepang tahun 1942, De Javasche Bank yang berpusat di Batavia dipimpin oleh E.A.Zeilinga (1922-1924), Mr. L.J.A. Trip (1924-1929), dan Mr. Dr. G.G. van Buttingha Wichers (1929-1945).

Source http://nyawasungai.or http://nyawasungai.org/gedung-de-javasche-bank-bandjermasin-wujud-arsitektur-indis-ala-cuypers-fermont/
Comments
Loading...