Ceruk Bangkai Kalimantan Timur

0 52

Ceruk Bangkai

Ceruk Bangkai masuk dalam wilayah administrasi Desa Dukuh Rejo, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan. Berada pada posisi astronomis 50 N 366142 9645781 dengan ketinggian sekitar 44 meter dari permukaan laut. Bukit Liang Bangkai adalah salah satu daerah perbukitan karst yang terletak di sisi timur dari jalur deretan pegunungan Meratus. Penamaan Liang Bangkai karna awal ditemukan liang tersebut mengeluarkan bau yang tidak sedap seperti bau bangkai.

Aksebilitas menuju liang relatif mudah, dari jalan raya kemudian mengikuti jalan pengerasan dengan panduan papan nama situs yang dibuat oleh Pemerintah Daerah. Pada situs Liang Bangkai komposisi vegetasi terdiri dari tanaman tingkat semai, pancang, tiang, pohon diselingi vegetasi tingkat bawah seperti kelapa sawit, asam, jati, kedondong, aren, semak belukar, tumbuhan perdu dan merambat. Sedangkan fauna yang hidup dikisaran situs adalah kupu-kupu, landak dan undur-undur.

Pada bagian mulut ceruk terdapat papan larangan Cagar Budaya yang berisi Ketentuan Hukum Pasal 105 yang menjelaskan setiap orang yang dengan sengaja merusak Cagar Budaya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 66 ayat dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 500.000.000,00 (lima ratus  juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan papan yang bertuliskan dilarang mencoret-coret dinding gua.

Balai Arkeologi Banjarmasin telah melakukan ekskavasi guna pembuktian keberadaan dari manusia yang pernah bermukim ditempat tersebut dengan adanya temuan permukaan berupa artifak dan moluska yang diduga erat kaitanya dengan manusia proto-sejarah. Penggalian dilakukan sebanyak tiga kali berturut-turut dan menghasilkan chooper, alat serpih flakes dan gerabah yang berpola hias (lapita), serta gambar dengan beberapa motif yang berwarna hitam. Kerangka manusia yang ditemukan menjadi alasan penguat bahwa ceruk tersebut pernah difungsikan oleh manusia pendukungnya.

Kondisi lingkungan geografis merupakan daerah dataran rendah yang subur dan terkenal sebagai salah satu penghasil kayu ulin atau kayu besi dan tambang batubara. Saat ini masyarakat mengolah lahan sekitar untuk menjadi kebun sawit, karet dan dimanfaatkan sebagai areal persawahan.

Liang tersebut termasuk kategori gua ceruk payung (rockshelter) dengan bentuk ruang yang melebar (horizontal) dan terbagi menjadi dua ceruk yang dipisahkan dengan rawa dan ketinggian langit-langit mencapai 15 meter. Mulut gua menghadap ke 160º Lantai gua lebih tinggi dari pelataran gua dengan kemiringan mencapai 44°. Permukaan lantai gua dipenuhi bongkahan batu besar. Intensitas cahaya di ceruk pertama relatif terang sementara ceruk kedua cenderung temaram karena tertutup batu besar. Sirkulasi udara di kedua ceruk cukup baik, hanya di beberapa bagian dinding ceruk ditumbuhi lumut akibat tingkat kelembaban yang cukup tinggi. Morfologi gua bergelombang, dengan tekstur tanah lempung berpasir berwarna coklat.

Tinggalan arkeologis yang ditemukan di ceruk pertama berupa gambar dinding, moluska, gerabah, tulang dan artefak batu. Gambar dinding ditemukan berkelompok di beberapa panel dinding. Panel pertama yang terletak di langit-langit sebelah kiri gua berupa gambar berwarna hitam berbentuk geometris, gambar menyerupai manusia mengangkang yang saling bergandengan tangan dengan kondisi warna yang sudah mulai pudar dan aus. Panel kedua yang terletak di bagian dinding gua sisi kanan berupa gambar berwarna hitam yang berbentuk geometris yang saling bersinggungan dengan warna yang mulai pudar dan beberapa gambar yang tidak dapat diidentifikasi dari segi bentuk.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim/ceruk-bangkai/
Comments
Loading...