Candi Slumpang

0 248

Candi Slumpang

Candi Slumpang secara administratif berada di Desa Siser, Kecamatan Laren – Lamongan, dan terletak di sisi Utara Bengawan Solo. Posisinya tidak jauh dari tempat penyeberangan sungai (penambangan), jaraknya kurang lebih hanya 600 meter dari lokasi penambangan yang menghubungkan antara Desa Mojoasem – Laren dengan Desa Siwuran – Maduran. Bahkan, posisi candi Slumpang bisa dibilang hampir sejajar dengan lokasi penambangan Bengawan Solo. Candi Slumpang berdiri di tengah area persawahan yang subur dan luas. Sayangnya, seluruh bagian candi tidak terlihat akibat tenggelam tergenang air.

Candi Slumpang dibangun di area rawan banjir akibat luapan air Bengawan Solo. Lumpur yang terbawa saat banjir pada akhirnya mengendap dan endapan lumpur tersebut akan terus meninggi akibat banjir yang terus berulang hingga ratusan tahun lamanya. Inilah yang pada akhirnya membuat candi Slumpang terkubur di dalam tanah. Karena tergenang air, candi yang terbuat dari batu bata dan batu kapur ini hanya menampakkan 2 buah Yoni, satu Yoni berbahan batu andesit dan yang satunya lagi berbahan batu kapur (lime stone). Yoni yang terlihat utuh menyembul di permukaan air adalah yoni dari bahan batu andesit. Dan, karena bentuk yoni (di tengah terdapat lubang untuk menanamkan lingga) yang ceratnya patah itu terlihat menyerupai lumpang, alat penumbuk padi tradisional, maka dari itu warga sekitar menamai candi ini dengan sebutan candi Slumpang.
Di samping atas candi terdapat bangunan menyerupai makam yang bercungkup dan berpagar kayu. Identitas makam yang bernisankan balok batu tersebut statusnya hingga kini masih tanda tanya. Di area makam ini terkumpul beberapa bata kuno dan balok batu bekas reruntuhan candi. Beberapa pecahan hiasan candi berbahan terakota (tanah liat), salah satunya ada yang ber-relief Kalpataru, juga turut dikumpulkan disana.
Keberadaan candi Slumpang diduga kuat ada kaitannya dengan Naditira Pradesa, deretan desa (Pradesa) di sepanjang tepi bengawan (Naditira) yang mendapat anugerah status istimewa (sima/perdikan) berkat jasanya dalam penyeberangan sungai (penambangan). Prasasti Canggu atau Ferry Charter bertarikh 1280 Saka/1358 Masehi (07 Juli 1358) yang dikeluarkan oleh Raja Hayam Wuruk/Rajasanagara (Majapahit) menyebut puluhan desa pada dua aliran sungai besar (Bengawan Solo dan Sungai Brantas) beserta anak-anak sungainya yang ditetapkan sebagai desa perdikan (sima).
Muhammad Yamin dalam bukunya Tatanegara Majapahit – Parwa II, menyebut Pasiwuran sebagai salah satu desa yang berstatus Naditira Pradesa. Pasiwuran yang disebut di dalam prasasti diduga kuat adalah Desa Siwuran – Maduran yang terletak di sisi Selatan Bengawan Solo. Meskipun ada perubahan nama dari Pasiwuran menjadi Siwuran, tetapi secara toponimi perubahan ini bisa diterima. Di area persawahan desa Siwuran juga di temukan sebuah yoni berbahan andesit yang posisinya hingga saat ini masih terkubur di dalam tanah. Bukan hanya itu, disekitar temuan yoni juga ditemukan pecahan bata kuno dan keramik kuno. Karena satatusnya sebagai Naditira Pradesa, Pasiwuran (Siwuran) pada masa itu diduga kuat sudah mempunyai bandar (pelabuhan sungai), yang menjadi penghubung sosial-budaya dan ekonomi. Tentu saja yang diseberangkan saat itu bukan hanya manusia tetapi juga komoditas pertanian maupun perdagangan lainnya.
Karena Bengawan Solo pada masa itu juga dilalui kapal-kapal dagang besar, bukan tidak mungkin pada waktu itu sudah terjalin suatu hubungan dagang, baik antar wilayah, antar pulau maupun antar negara. Jadi, bisa dibilang Pasiwuran (Siwuran) pada masa kejayaannya itu telah menjadi sentra perekonomian, lantaran merupakan tempat yang cukup ramai. Sebagai gambaran desa Naditira Pradesa (Desa Pasiwuran/Siwuran), baik di sisi Selatan maupun di sisi Utara Bengawan Solo, diduga kuat terdapat pemukiman/perkampungan penduduk yang cukup ramai.
Dengan statusnya sebagai Naditira Pradesa, maka dari itu tidak heran jika di dekat bandar (pelabuhan sungai) terdapat sebuah bangunan candi. Jejak bekas pemukiman juga ditemukan tidak jauh dari lokasi candi. Kurang lebih 300 meter dari arah Timur candi, terdapat makam desa yang disekitarnya ditemukan pecahan keramik dan tembikar. Lokasi makam ini diduga kuat dulunya adalah sebuah perkampungan. Jadi, bisa digambarkan posisi candi Slumpang pada masa itu diduga berada di luar perkampungan.

Candi Slumpang adalah candi yang bercorak Hindu (Syiwa) karena di candi ini ditemukan yoni. Candi Slumpang diduga berfungsi sebagai tempat peribadatan karena letaknya tidak jauh dari perkampungan. Candi ini juga diduga digunakan sebagai simbol kesuburan (fertility) terkait produksi padi yang melimpah, jika melihat letak candi Slumpang yang hingga saat ini masih berada di tengah area persawahan yang subur dan luas.

Source http://dennycaturprabowo.blogspot.com http://dennycaturprabowo.blogspot.com/2017/08/
Comments
Loading...