Cagar Budaya Itu Bernama “SMA Boedoet”

0 193

Cagar Budaya Itu Bernama “SMA Boedoet”

Sekilas, gedung cagar budaya yang kini menjadi gedung SMAN 1 ini mirip bangunan rumah sakit zaman dahulu. Baik Mas Ayu maupun wakilnya, Ujang Suherman, mengaku belum mendapatkan sumber yang jelas terkait dengan sejarah bangunan tersebut.

“Ada yang bilang, bangunan ini awalnya adalah rumah sakit pemerintah Hindia Belanda, sedangkan bangunan di sebelah kiri, SMK Negeri 1, adalah perkantoran pemerintah Hindia Belanda, sedangkan bangunan di sebelah kanan adalah rumah tahanan,” tutur Ujang.

“Orang-orang yang ditangkap dibuat berkasnya di kantor pemerintah itu, lalu dijebloskan ke penjara di sebelah. Kalau ada yang sakit baru dibawa ke gedung yang kini SMAN 1,” tambah Ujang.

Bukti bahwa ketiga bangunan cagar budaya itu berada dalam satu kompleks ditunjukkan dengan alamat yang sama. “SMKN 1, SMAN 1, dan rumah tahanan (kini sudah rata dengan tanah, tinggal lahan kosong bersemak) alamatnya sama, Jalan Budi Utomo Nomor 7, Jakarta Pusat,” ujar Ujang. Selain deretan jendela besarnya, ciri rumah sakit lain adalah lorong-lorong ruang dengan deretan lampu gantung berkaca bulat susu. Atap lorong disangga deretan tiang besi ramping yang sering terlihat di lingkungan gedung rumah sakit era kolonial Belanda di berbagai penjuru Tanah Air.

Apalagi jika mengamati bagian dalam kompleks gedung asli yang berbentuk tapal kuda. Lahan di tengah tapal kuda umumnya dijadikan taman dan ditanami beberapa pohon besar. Itulah ciri lain bangunan rumah sakit di era Hindia Belanda. Candrian Attahiyat, arkeolog dan anggota tim ahli cagar budaya DKI Jakarta, mengemukakan, suasana seperti itu memang menjadi suasana umumnya rumah-rumah sakit era Hindia Belanda.

“Yang membedakan memang tinggal ada atau tidak adanya daun jendela. Jendela-jendela yang tidak berdaun umumnya adalah ruang kelas, sedangkan jendela yang berdaun biasanya adalah bangsal tidur pasien ataupun bangsal tidur siswa di asrama pelajar,” ungkap Candrian. Ia lantas membandingkan bentuk dan ukuran jendela ruang kelas di SMAN 1 yang mirip dengan bentuk dan ukuran jendela ruang kelas di SMA Santa Ursula di Jalan Pos 2, Pasar Baru, dan SMA Santa Maria di Jalan Ir H Juanda 29, Jakarta Pusat.

Baik Candrian maupun Ujang mengakui catatan sejarah tentang gedung SMAN 1 ini sangat minim. Keduanya hanya menyebutkan awalnya gedung tersebut adalah Gedung Sekolah Prins (Frederik) Hendrik yang pada 1889 sudah didirikan.

“Yang jelas, bangunan ini didirikan bukan untuk rumah sakit, melainkan sekolah. Sebab, gedung ini tidak meninggalkan dokumen apa pun tentang rumah sakit,” ucap Candrian.

Sejarah SMAN 1 sendiri tidak berawal dari gedung cagar budaya tersebut, tetapi berasal dari satu sekolah menengah tinggi (SMT) yang proses belajar-mengajarnya berlangsung di gedung SMA Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat (Jakpus). Setelah Jepang menyerah, SMT ini dibubarkan dan dibuat kembali sebagai Sekolah Menengah Oemoem Atas (SMO). Kegiatan belajar-mengajar SMO ini menumpang di gedung SMA PSKD di Jalan Diponegoro, Jakpus. Setelah berganti nama, SMO ini dikenal sebagai SMA Kiblik (dari kata Republik).

Tahun 1947, sekolah dibubarkan. Kegiatan belajar-mengajar dilanjutkan di rumah Adam Bachtiar di Jalan Gondangdia Lama Nomor 22 Jakpus, di rumah Wagendrof di Jalan Sawo Nomor 12, dan di beberapa rumah orangtua murid, antara lain di rumah Ny Dr Susilo di Jalan Proklamasi Nomor 69. Tahun 1950, SMA Kiblik baru mulai menempati gedung di Jalan Budi Utomo Nomor 7 ini sampai sekarang.

Bangunan cagar budaya seluas 4.657 meter persegi ini berada di atas lahan seluas 7.060 meter persegi. Di sebelah kiri SMAN 1 berdiri SMKN 1. Usia gedung SMKN 1 lebih muda. Dibangun Pemerintah Belanda tahun 1906 dengan nama sekolah kejuruan tehnik Koninkljke Wilhelmina School (KWS). Tahun 1946, nama sekolah ini diubah menjadi Sekolah Tehnik Menengah. Di sebelah kanan SMAN 1, kata Ujang, tadinya berdiri bangunan rumah tahanan militer (RTM). “Tahun 1978 RTM dipindah ke Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Bangunan lama dibongkar dan sekarang tinggal lahan kosong,” ujar Ujang.

Ujang mengakui SMAN 1 atau lebih populer dengan sebutan SMA Boedoet (Boedi Oetomo) disegani kalangan siswa SMA ataupun STM (kini SMK) lain di Jakarta. Sebab, tradisi tawuran siswa di sekolah ini sudah berusia panjang.

“Mulai berkembang tahun 1970-an. Tawurannya sama siswa SMAN 7 Gambir Jakpus; SMK Poncol Jakpus; SMK 7 Kampung Jawa, Jakarta Barat (Jakbar); SMAN 10 Mangga Besar, Jakbar; SMAN 20 Krekot Bunder; dan sekolah-sekolah di kawasan Kramat, Jakpus,” kenang Ujang.

Menurut dia, arena tawuran biasanya di Lapangan Banteng, yang salah satu sisinya kala itu menjadi terminal bus sebelum dipindahkan ke Pasar Senen. Mulai tahun 1988, sebagian siswa SMAN 1 sering tawuran dengan siswa tetangganya, SMKN 1. Walau sering tawuran, sampai tahun 1980-an, SMAN 1 masih menyandang predikat sebagai SMAN terbaik di Jakarta diikuti SMAN 3 dan SMAN 6. Namun, sejak penerapan sistem rayonisasi, prestasi SMAN 1 merosot. Dengan sistem rayonisasi tersebut, SMAN 1 hanya menerima siswa yang tinggal di Kecamatan Kemayoran, Senen, dan Gambir.

Source https://megapolitan.kompas.com https://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/21/17000071/cagar.budaya.itu.bernama.sma.boedoet.
Comments
Loading...