Bunker Jepang Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan

0 95

Bunker Jepang Kabupaten Enrekang

Awal pemerintahan Jepang sejak menduduki wilayah Enrekang, adalah membangun bunker-bunker pertahanan /sarana pertahanan dan industri untuk mendukung peperangan.Bersamaan dengan itu, para tentara Jepang juga mengadakan pembinaan terhadap generasi muda. Pembinaan generasi muda itu, juga diharapkan untuk tujuan mendukung dalam peperangan.

Pembangunan sarana pendukung pertahanan, yakni membangun bunker-bunker/lubang-lubang pertahanan. Pembangunan bunker-bunker pertahanan Jepang di wilayah Enrekang, dari segi jumlah cukup banyak. Hasil inventarisasi yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Enrekang tahun 2004, berhasil menginevnraisasi sebanyak 20-an  bunker. Bunker-bunker tersebut, tersebar di wilayah-wilayah pegunungan seperti di jejeran pegunungan Bamba Puang di daerah Kotu, bahkan di wilayah perbatasan Enrekang dan Pinrang yakni di Malimpung juga ditemukan bunker.

Di wilayah perbatasan Pinrang dan Enrekang di Malimpung, ditemukan sebuah bunker di atas puncak gunung dan pada bagian bawah di kampung Malimpung ditemukan sebuah hangar yang menandakan bekas Lapangan Udara yang pernah di gunakan oleh Jepang (Natsir  dkk, 2003).

Pembangunan bunker-bunker petahanan Jepang, dilakukan dengan jalan kerja paksa. Konsep pelaksanaan kerja paksa yang diterapkan oleh Jepang, pada dasarnya hampir sama dengan kerja wajib yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Kerja paksa itu dilakukan dengan mewajibkan setiap anggota masyarakat yang sudah dewasa untuk ikut dalam kegiatan pembangunan, termasuk pembangunan pertahanan.Fungsi pemerintahan lokal juga sangat berarti dalam memobilisasi tenaga kerja, dan dalam pelaksanannya diawasi langsung oleh tentara Jepang.Oleh karena pengawasan itu langsung oleh tentara, sehingga sangat dirasakan oleh masyarakat.

Selain membangun sarana pertahanan, Jepang sejak menduduki wilayah Enrekang, juga membangun dan mendirikan pendidikan militer, pada tahun 1944.Pendidikan itu didirikan di wilayah Anggeraja, yakni di kampung Carruk.Tujuan utama pembinaan militer itu, adalah untuk membina pemuda-pemuda di wilayah Enrekang dan bahkan ada yang didatangkan dari luar Enrekang, untuk tujuan membantu Bala Tentara Jepang kelak untuk menghadapi tentara Sekutu.Peserta latihan militer yang dilakukan oleh Jepang itu, adalah pemuda-pemuda berumur sekitar 14 dan 15 tahun. Masyarakat setempat menyebutnya dengan  (di pangbarisi), dalam satu kelompok bernama Seinendan untuk kelompok umur 15 tahun, sedangkan kelompok umur 14 tahun ke bawah disebut Seinenku Rensho.  Latihan baris-berbaris itu, dilakukan bukan saja di Carruk sebagai pusat pendidikan, akan tetapi juga dilakukan di wilayah lainnya di Enrekang seperti di Buntu Tangla. Pelatihan militer atau barisan pertahanan rakyat itu, dibina dan dipimpin langsung oleh tentara jepang.

Barisan pertahanan rakyat lainnya yang dibentuk oleh jepang, yaitu Keibodan yang khusus  berfungsi sebagai barisan Bantu kepolisian, Suisintai, yaitu barisan pelopor yang bertugas mempelopori pertahanan wilayah dari serangan Sekutu. Disamping itu dikenal juga kelompok pertahanan/latihan militer dibentuk Heiho, yang tujuan pokoknya adalah pasukan Bantu Angkatan Darat.Murid-murid peserta pelatihan militer Jepang itu, dimaksudkan sebagai tentara pembantu Jepang, sebagai pasukan Bantu dan bahkan diharapkan menjadi pasukan berani mati (jabakutai).

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/bunker-jepang-di-kabupaten-enrekang-propinsi-sulawesi-selatan/
Comments
Loading...