Bung Karno dan Masjid Salman ITB

0 96

Bung Karno & Masjid Salman ITB

Dalam sejarahnya, Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) mempunyai peranan besar dalam pergerakan keislaman dan kegiatan ibadah di kampus para insinyur tersebut.

Sebelum ada masjid di ITB, mahasiswa melaksanakan kegiatan ibadah berjamaah seperti sholat Jumat di gedung Aula Barat ITB. Baru pada 1964, mahasiswa ITB membacakan ikrar untuk membangun sebuah masjid di kampus mereka. Ide ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari Bung Karno, yang merupakan alumnus ITB.

Bahkan nama “Salman” sendiri merupakan pemberian Bung Karno. Tidak hanya menyetujui dan memberi nama, Bung Karno pada 1964 juga menerima tiga delegasi dari Panitia Masjid Salman di Istana Merdeka. Pada saat itu, Bung Karno menyatakan bersedia sebagai pelindung pembangunan Masjid Salman. Seusai pertemuan itu, Bung Karno langsung mengirim surat dengan kop kepresidenan ke rektor ITB yang menyatakan kesediaannya menjadi pelindung.

Nama ‘Salman’ dipilih Bung Karno karena terinspirasi oleh salah satu sahabat Nabi Muhammad, Salman Al-Farisi. Sahabat nabi yang satu ini memang dikenal ahli di bidang teknik. Ia yang merancang parit (khandaq) perlindungan Madinah yang digunakan saat perang yang kemudian disebut dengan Perang Khandaq.

Saat itu kekuatan kaum kafir Quraish Mekkah sangat besar dan siap menyerbu Madinah, tempat Nabi dan para sahabat bermukim. Namun dengan kejelian Salman, dia bisa membuat sistem perlindungan yang tidak bisa ditembus lawan. Sehingga karena frustasi, musuh terpaksa harus mundur kembali, dan Umat Muslim memenangkan peperangan tersebut. Kecerdasan Salman inilah yang diharapkan bisa menginspirasi semua civitas akademika ITB.

Terkait sejarah nama Salamn, laman Masjid Salman ITB menceritakan asal mula munculnya nama itu dari Presiden Soekarno di kala panitia pembangunan masjid menghadapnya, tahun 1963.

“Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” tanya Presiden Soekarno sambil menoleh pada orang disampingnya, Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI. Pertanyaan itu refleks terlontar dari mulutnya.

Sang Menteri yang juga pimpinan NU dengan sigap menjawab,”Salman.” Jawabannya bersambut sang Presiden, ”Nah itu, Masjid ini saya namakan Salman!”

Ada rasa haru di sana, di antara wajah-wajah Prof. TM Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat yang datang jauh-jauh dari Bandung.

Dijelaskan juga dalam laman resmi Masjid Salman bahwa sebelum mendapatkan restu dari Presiden Soekarno, Rektor ITB pada saat itu, Prof. Ir. O. Kosasih pun pada awalnya menolak rencana dibangunnya masjid di sekitar kompleks ITB. Alasannya: “Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta Lapangan Merah di ITB.”

Namun kepanitiaan yang terdiri dari Prof T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan lain-lain tidak lantas pasang sikap menyerah. Mereka menggalang dukungan kepada siapapun yang mereka anggap kompeten. Buah usaha mereka pun terwujud.

Akhirnya setelah melobi kesana-kemari, Presiden Soekarno memberikan restu akan dibentuknya Masjid Salman ITB. Rektor ITB pun terdorong pula untuk mengizinkan. Walhasil, tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya dapat dipakai untuk Salat Jumat.

Source http://rahmatsahid.com http://rahmatsahid.com/2018/07/11/bung-karno-masjid-salman-itb/
Comments
Loading...