Bioskop Cempaka

0 95

Bioskop Cempaka

Sejak awal tahun 2000, bioskop-bioskop rakyat mulai tergerus oleh zaman. Keberadaannya dilindas oleh kemajuan teknologi seperti munculnya kepingan VCD, layanan streaming di internet, hingga munculnya bioskop untuk kelas menengah yang harganya selangit.

Dahi Jamilah (59) mengernyit. Ia juga tersenyum simpul ketika mengingat-ingat kembali romantisnya masa awal menikah dulu dengan suaminya. “Dulu, waktu awal-awal nikah, aku dan laki sering pergi ke bioskop-bioskop murah yang ada di Banjarmasin,” kata salah seorang warga Banjarmasin yang tinggal di Pekauman ini. Bioskop favoritnya adalah Bioskop Cempaka, salah satu bioskop rakyat yang beralamat di Jalan Niaga.

“Lumayan murah. Harga tiket cuma 1000 rupiah satu kali menonton. Habis jalan-jalan dari pasar sama suami, pasti mampir ke bioskop ini,” ceritanya. Film-film yang diperankan oleh Rhoma Irama dan Rano Karno adalah favoritnya. Namun, pascareformasi, bioskop-bioskop tersebut sudah mulai kurang peminatnya.

“Harga tiketnya naik. Televisi juga sudah masuk menayangkan banyak film Indonesia, India, atau film barat. Jadi orang-orang merasa tak perlu lagi ke bioskop,” tuturnya. Diungkapkan Jamilah, jika bioskop-bioskop dengan harga murah seperti pada zamannya itu bangkit lagi, ia pasti tak bakal berpikir dua kali untuk pergi menonton.

Penasaran dengan situasi bioskop-bioskop tua pada era sekarang, Radar Banjarmasin mencoba mengunjungi salah satu bioskop yang pernah tenar pada zamannya: Bioskop Cempaka. Bioskop yang satu ini berada di Jalan Niaga, Kota Banjarmasin. Letaknya berada di lantai tiga pada salah satu gedung di Jalan Niaga.

Bangunannya kini tak terurus. Bioskop yang memiliki dua buah studio ini kini berserakan dengan sampah-sampah bekas camilan, botol minuman serta bungkus obat-obatan. Juga bau pesing menusuk hidung. Pertanda banyak orang yang buang air kecil di tempat yang dulunya digunakan sebagai wadah hiburan rakyat ini.

Puas berkeliling, seorang pria muncul. Namanya Anang ‘Tapau’ Armain. Laki-laki tersebut ternyata adalah penjaga bangunan sekaligus saksi sejarah salah satu bioskop tua yang ada di Banjarmasin ini. “Aku tinggal di sini,” ujarnya ramah. Sejak awal bioskop Cempaka dipindah ke lantai tiga, Anang sudah menjadi penjaga keamanan. “Sesekali juga menjaga loket tiket studio,” ujarnya.

Anang menceritakan, Bioskop Cempaka sebenarnya sudah berdiri pada tahun 50-an. Waktu itu, letaknya berada di lantai I. “Dulunya, bioskop ini sering memutar film-film India,” ujarnya. Seiring perkembangan waktu, bioskop tersebut dipindah ke lantai tiga pada tahun 1987. “Banyak yang menanam saham di sini, terutama para guru sekolah. Kurang tahu juga alasannya,” kata dia.

Sejak akhir tahun 80, bioskop Cempaka tidak lagi melulu menayangkan film India. Anang menjelaskan, film-film Indonesia sampai film-film besutan sutradara-sutradara Eropa dan Amerika juga ditayangkan. “Harga tiket masuknya juga murah,” tambahnya. Kata Anang, satu orang hanya dimintai 1000 rupiah. Dalam satu hari, pemutaran film dilakukan sebanyak dua kali pada dua buah studio yang mereka kelola.

“Kenapa tidak sekali saja, karena persaingan bisnis dengan bioskop-bioskop lainnya. Kalau tidak seperti itu, bisa kalah saing,” kata dia. Bioskop Cempaka bersaing dengan bioskop-bioskop tua lainnya seperti Kamajaya yang dulunya berada di Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Bioskop Dewi di Jalan Hasannudin HM, serta Bioskop Ria.

Lebih lanjut Anang mengungkapkan, Bioskop Cempaka jadi favorit lantaran dekat dengan pasar. “Jadi orang-orang pacaran yang berbelanja di pasar bisa mampir ke bioskop ini untuk melepas penat. Ppokoknya, ramai sekali pada zaman dulu itu,” serunya. Dalam satu hari, pengunjung bioskop tembus lebih dari 100 orang. Bioskop ini tambah ramai dengan tersedianya warung kecil yang menjaja kretek, minuman, serta camilan.

Namun, para penggerak bioskop mulai mengeluh pada awal tahun 2000. “Saat itu, televisi sudah banyak menayangkan film,” keluhnya. Film-film yang direkam dalam kepingan VCD juga sudah banyak dipasarkan. Apalagi, VCD bajakan yang banyak dijual dan mudah didapatkan di pasar-pasar pinggiran.

Ujung-ujungnya, tepat pada tahun 2005, Bioskop Cempaka tak mampu lagi bertahan dengan gilasan kemajuan zaman. Hingga kini, bangunannya tak jelas peruntukkannya. “Sekarang bangunan ini biasa dipakai anak-anak muda untuk berfoto,” ujarnya. Ketika ditanya apakah ingin bioskop-bioskop murah seperti ini jaya kembali, Anang menjawab dengan pesimis. “Tak mungkin lagi, semuanya sudah serba maju,” tuntasnya.

Tergerusnya keberadaan bioskop-bioskop rakyat yang ada di Banjarmasin sejak awal tahun 2000 lalu, menurut seniman Banua YS Agus Suseno adalah persoalan perkembangan zaman. “Beda zaman, beda hiburannya,” kata Agus Suseno.

Kini, lantaran pengaruh dari berbagai lini, orang-orang yang mempunyai ketertarikan dengan film banyak menghibur diri pada bioskop yang difasilitasi pendingin ruangan. “Atau, kalau malas keluar dari rumah, tinggal pencet tombol pengalih saluran televisi,” ujarnya. Ditambah lagi, dengan munculnya layanan TV Kabel dan layanan streaming film di dunia maya yang menyediakan beragam film.

Meskipun perilaku-perilaku menonton seperti membuat nyaman setiap orang yang menikmatinya, ada satu hal yang hilang dari perkembangan cara menonton film seperti ini. “Dulu, kalau ada bioskop rakyat seperti layar tancap, bioskop kelas menengah ke bawah, atau bioskop gerimis bubar (misbar) komunalisme, kebersamaan, keakraban dan kepedulian antarwarga masyarakat lebih kuat. Kini moda hiburan makin canggih, tapi individualisme dan egoisme membuat kebersamaan kian tersisih,” ujarnya.

Menurut Agus, membangkitkan kembali eksistensi bioskop-bioskop rakyat di Kota Banjarmasin adalah persoalan mau tidaknya pihak pengembang memunculkannya kembali. Untuk di daerah Kota Banjarmasin, Agus memaparkan bioskop-bioskop rakyat bisa dibangun di wilayah pinggiran kota seperti Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Selatan.

“Itu pun, kalau ingin bertahan, lebih memungkinkan yang gratisan. Kalau harus beli tiket, sulit. Orang lebih memilih untuk membelanjakan uangnya di pasar tungging ketimbang beli karcis bioskop,” kata dia.

Untuk dan membangkitkan dan mengembangkan bioskop-bioskop rakyat kembali, Agus mengatakan mustahil apabila pemerintah bersedia membiayainya. Menurutnya, pihak swasta bisa jadi alternatif mengembangkannya. “Sebenarnya keberadaan bioskop-bioskop seperti ini tergolong pelayanan sosial buat warga miskin,” ujarnya.

Source http://kalsel.prokal.co http://kalsel.prokal.co/read/news/11283-mengenang-kejayaan-bioskop-tua-di-banjarmasin
Comments
Loading...