Betang Tumbang Malahoi Kalimantan Tengah

0 77

Lokasi Betang Tumbang Malahoi

Betang Tumbang Malahoi terletak di Desa Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Betang Tumbang Malahoi

Betang ini didirikan pada tahun 1817 oleh dua oarng anak Toyoi serta kedua menantunya. Bahan-bahanya di cari di hulu Sungai Baringei yang sekarang dinamakan Kaleka Mapot. Membangun Betang ini memakan waktu sekitar 1 tahun secara gotong royong.

Ayah Toyoi yang bernama Bungai adalah salah satu sahabat dari Pangeran Muhammad Seman ( Raja Banjar terakhir yang memimpin perang Barito), dan semangat perjuangan pada masa revolusi fisik betang ini menjadi markas GRRI (Gerakan Revolusi Rakyat Indonesia), waktu itu menjamin keselamatan yang pergi bertempur di betang di lakukan upacara Balian Mampendeng Sahur dengan niat jika Indonesia merdeka dan berdaulat penuh barulah sahur di turunkan.

Bangunan ini menghadap kea rah timur dan seperti kebayakan rumah pemukiman di daerah Kalimantan Tengah khususnya, betang berorientasi kea rah sungai. Posisi bangunan ini membujur sungai panjangnya yakni sekitar 37 meter dengan lebar ± 10 meter.

Betang dibangun di atas  tiang-tiang kuat berjumlah 6 buah dan 20 tiang buah tiang penyangga lainnya. Bahan lebih dari 90 % dari jenis kayu Ulin bentuknya memanjang yang di sebut pelana dan tampak kokoh atau monumental  sebagai mana Betang Suku Dayak Ngaju.

Tinggi lantai dari permmukaan tanah ± 2,0 m bentuk atap pelana, pintu masuk utama hanya satu di letakan di bagian tengah, tanpa beranda (veranda) dan pintu masuk tersedia ruang utama yang cukup besar untuk berbagai keperluan berkumpul ataupun menerima tamu. Diruang utama inilah dipasang tiang-tiang utama yang memiliki ukuran lebih besar dari tiang lainnya.

Sloof membujur menusuk tiang dan tongkat sebagai landasan gelagar dan aser tempat memesang lantai. Begitu juga pada konstruksi bagian atas terdapat balok bujuran yang berukuran cukup besar sebagai kerangka bangunan berfungsi pula sebagai tempat memesang kasau.

Konstruksi atap bangunan Betang tidak menggunakan kuda-kuda biasa, tetapi hanya memasang balok tarik dengan ukuran sangat besar dan utuh (tidak disambung) sehingga mampu menahan beban rangka atap menggunakan suai yang di sebut ulang barat. Lantai dari kayu ulin dan dinding dari kulit kayu pendu yang dilapisi papan ulin. Sirap memakai kayu ulin panjang 80 cm, tebal 1,5 dan lebar 20 cm dipasang dengan teknik susun sirih.

Source http://sejarahkalimantantengah.blogspot.co.id/ http://sejarahkalimantantengah.blogspot.co.id/2012/06/betang-tumbang-malahoi.html
Comments
Loading...