Benteng Tradisional None

0 48

Benteng Tradisional None

Secara Administrasi Benteng tradisional None berada di Desa Lelat, Kecamatan Kuatnana, Kabupaten TTS, Provinsi NTT. Situs ini memiliki Luas Lahan : 80 m x 44 m. secara Geografis berada di Koordinat 51 L 0654893, 8912697 UTM. Dengan batas-batas, Utara : Jurang, Timur : Jalan dan kebun, Selatan : Jurang, Barat : Jurang. Situs Benteng Tradisional None ini memiliki Latar Budaya “Tradisi Berlanjut” yang telah diwarisi dari jaman dahulu. Situs ini dimiliki oleh Masyarakat Adat Suku Tauho, dan di kelola oleh Bapak Kores Tauho. Benteng none berdiri sejak tahun 1820. Sudah mencapai sembilan generasi sampai saat ini. Benteng none ini masih di lestarikan.

Sejak sembilan generasi yang lalu, mereka selalu berperang tetapi perang bukan perang internasional melainkan perang antar suku lokal, yaitu: MOLLO – AMANUBAN – AMANATUN. Posisi benteng none di bawah raja Amanuban. Sebelum mereka pergi perang, mereka membentuk tiga tempat altar atau kepercayaan mereka pada saat perang, yaitu: PENE – OTE NAUS – BOL NU’UT. PENE, merupakan tempat melihat musuh, apakah kedatangan musuh dari bagian mana. Ketika musuh sudah ada, maka mereka tidak terpaksa keluar untuk menghadapi musuh dalam perang.

Mereka ke salah satu tempat untuk melihat apakah di saat perang mereka kalah atau menang. Tempat itu yaitu : OTENAUS. OTENAUS adalah suatu tempat untuk mencek posisi apakah di sat perang itu mereka menang atau kalah. Caranya tikam tombak di tiang dan mengukur apakah kuku itu sentuh dan di pakai dengan sebutir telur. Kalau kukuh itu tidak sentuh di tiang dan apaabila di pecahkan telur dapat darah, maka itu kalah. Kalau kuku sentuh di tiang dan pecahkan telur tidak ada darah maka akan menang dalam peperangan. Kalau kuku tidak sentuh di tiang dan pecahkan 7 telur tidak ada darah, maka mereka tidak keluar dari benteng , tetapi mereka kembali ke pene untuk mengganti posisi. Setelah ganti posisi maka kembali lagi ke ote naus, untuk mencek ulang. Kalau mencek posisisinya bagus maka mereka mengutus dua orang duduk di di bol nu’ut.

Sedangkan yang lain keluar menghadapi musuh di tempat kejadian. Sampai ditempat kejadian mereka mendapat musuh enath itu musuh di tembak, di tobak, atau di potong. Jika di potong putus kepala musuh itu langsung di bawah ke benteng. Samapai di benteng mereka akan membuat upacara kemenangan selamah 4 hari 4 mala. setelah 4 hari 4 malam selesai maka mereka bawah kepala musuh itu kepada raja. Maka raja percaya langsumg memanggil mereka ke MEO BOL NU’UT : lubang peletakan senjata tumbuk. Orang – orang yang menghadapi musuh di saat perang dari 9 generasi itu ialah : ONI TAUHO, BOY TAUHO, KAO TAUHO. Mereka ini ini penjaga benteng dan di sebut panglima perang atau MEO.

Bukti-bukti peninggalan : lopo umek bubu. Ada 2 buah umek bubu dan 2 buah lopo, juga ada Pagar batu, Lopo umek bubu, Pene, Bak-bak, Otenaus, Bol nu’ut, tol fuat, Senapan Tumbuk dan Tombak. UMEK BUBU : Tempat untuk menyimpan makanan, memasak, tidur, dan tmpat untuk bersalin. LOPO : Tempat pertemuan, terima tamu, hidangan, juga tempat tidur. TOL FUAT : tempat gantungan isi perut hewan di saat upacara apapun. TOL LE’O : tempat persembahan dan meminta makanan, hewan, dan hujan. BAK – BAK merupakan Tempat meletakan benih – benih.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/inventarisasi-dan-pendokumentasian-objek-yang-diduga-cagar-budaya-di-kabupaten-timor-tengah-selatan-nusa-tenggara-timur/
Comments
Loading...